51动漫

51动漫 Official Website

Dosen Psikologi UNAIR Kenalkan Refleksi dan Analogi Self Esteem

Dosen Psikologi Unair, Afif Kurniawan MPsi Saat Menyampaikan Materi Terkait Self Esteem di Webinar Psycotalk 2022 (Sumber : SS Zoom)

UNAIR NEWS – Pada usia remaja akhir banyak tantangan yang membuat seseorang meragukan kapasitas diri mereka sendiri. Hal tersebut menandakan mereka sedang berada di tahap love/belonging dan esteem pada Maslow’s Hierarchy of Needs, yaitu sebuah hirarki kebutuhan yang menggambarkan apakah seseorang sudah mampu mencapai full potensialnya.

Dosen Psikologi UNAIR, Afif Kurniawan MPsi dalam webinar Psychotalk 2022 menyampaikan sebuah refleksi dan analogi mengenai self esteem. Self esteem merupakan cara pandang seseorang terhadap diri mereka sendiri. 淐ontohnya masih banyak dari kita yang masih mempertanyakan kok aku terlahir seperti ini? tidak cantik, tidak kaya dan sebagainya. Hal tersebut sebenarnya menjadi persoalan global yang banyak dirasakan oleh manusia, ujar Afif.

Afif memperkenalkan sebuah refleksi dari Peter Dale Wimbrow yaitu the man in the glass. Refleksi tersebut, jelasnya, menyebutkan bahwa seringkali seseorang menggunakan cermin sebagai refleksi ketika melihat kekurangan dan kelemahan diri. 

淯ntuk itu mari kita anggap analogi kaca itu sebagai sahabat yaitu ia takkan pernah berbohong terhadap diri kita. Satu-satunya cara untuk menjadikan cermin sebagai sahabat kita adalah pikiran kita sendiri, tutur Afif. 

Afif menyebutkan terdapat 2 analogi yang menjadi salah satu media agar seseorang memiliki pemikiran  yang lebih positif terhadap diri mereka sendiri. 

Pertama analogi otak, dimana setiap kali seseorang mempelajari sesuatu, mereka akan membuat pathways di otak, kemudian akan terkoneksi secara biologis pada tubuh. Ketika sering melakukan habit dan kebiasaan, maka pathways tersebut akan menjadi sangat jelas di otak dan automatic habit of thinking

淢isalkan dulu tidak kenal teman toxic, sekarang pas kuliah nemu teman yang toxic. Ketika kita meyakini hal tersebut terus menerus, otak kita akan membuat pathways dalam bentuk negatif thinking yang akan berdampak pada mood, emosi, dan cara pandang kita terhadap suatu situasi yang penuh negativistik. Jadi kata kuncinya, kalau kita punya kemampuan untuk membuat pathways, kenapa kita tidak membuat pathways yang positif? tuturnya.

Kedua, analogi bersepeda yaitu sebuah analogi yang menyebutkan bahwa setiap suatu pencapaian terdapat tahapan dan latihan dalam proses mencapainya. The more you practice, the stronger your bicycle riding pathways become. Eventually it becomes automatic.

Menurutnya, analogi otak dan bersepeda menyimpulkan bahwa sebenarnya cara seseorang memandang diri itu sama. 淜etika kita memilih untuk tidak memandang diri kita negatif, kita akan punya keyakinan yang lebih tangguh sebagai manusia, dimana akan membuat kita menjadi pribadi yang lebih baik yaitu memiliki self esteem yang lebih baik  dan bisa menerima kekurangan diri. Karena kalau menyebutkan kekurangan itu nggak bakal ada habisnya, pungkasnya. 

Penulis: Mentari

Editor: Nuri Hermawan

AKSES CEPAT