UNAIR NEWS – Sastra sering dipandang sekadar keindahan kata. Namun nyatanya, sastra dapat menjadi ruang penting untuk bernegosiasi tentang isu-isu mendasar kehidupan. Hal ini ditekankan oleh Dr Nadya Afdholy SHum MPd MHum dalam webinar kolaborasi Magister Kajian Sastra dan Budaya (FIB) 51动漫 (UNAIR) dan Magister Sastra UGM. Webinar tersebut berjudul Ekokritik: Sastra dan Budaya sebagai Arena Negosiasi. Acara tersebut terlaksana pada Senin (1/10/2025).
Dr Nadya menjelaskan bahwa ekokritik sastra adalah pendekatan yang fokus meneliti hubungan antara manusia dengan lingkungan non-manusia. Pendekatan ini menjadikan teks dan budaya sebagai arena tawar-menawar antara manusia dan alam, tradisi dan modernitas, hingga ideologi dan kenyataan hidup sehari-hari.
Bongkar Penindasan Perempuan dan Bumi
Salah satu subtema penting yang disorot dalam ekokritik adalah hubungan antara lingkungan dan gender, atau yang dikenal sebagai ekofeminisme. 淓kofeminisme melihat adanya hubungan antara penindasan perempuan dengan eksploitasi alam, ujarnya.
Ia menambahkan bahwa sistem patriarki, kolonialisme, dan kapitalisme bekerja menundukkan tubuh perempuan sekaligus tubuh bumi. Kondisi ini menyebabkan perempuan, terutama masyarakat adat dan lokal, menjadi pihak yang paling terdampak oleh degradasi lingkungan.

Ia juga menyinggung konsep biopolitik. Di mana tubuh perempuan dan tubuh alam sama-sama dikelola, dikontrol, dan dieksploitasi. Seringkali, representasi perempuan dalam sastra hanya sebatas “Mother Nature“. Padahal mereka seharusnya dilihat sebagai subjek politik-ekologis yang aktif.
Suara Resistensi dan Negosiasi Aktif
Meskipun termarginalisasi, sastra dan budaya hadir sebagai suara resistensi. Dr Nadya memaparkan, sastra menghadirkan perempuan dalam tiga posisi penting. Yakni sebagai penjaga lingkungan, korban ekologi, dan agen negosiasi aktif. Perempuan tergambarkan tidak hanya sebagai 榢orban pasif, melainkan juga sebagai subjek politik dan kultural dalam wacana ekologi.
Melalui ritual, tradisi lokal, hingga media digital, perempuan menyuarakan perlawanan dan memperjuangkan masa depan ekologis yang lebih adil. Dengan demikian, webinar ini menegaskan bahwa sastra membuka ruang bagi penegasan identitas perempuan dan perlawanan terhadap patriarki dan kapitalisme demi masa depan ekologis yang lebih adil.
Penulis: Marissa Farikha Siti Fatimatuzzahra
Editor: Yulia Rohmawati





