UNAIR NEWS – Kemunculan internet slang, sebagai manifestasi dari evolusi bahasa di dunia maya, terus mengalami perkembangan yang pesat. Muncul istilah nyentrik seperti starboy, stargirl, the nuruls, dan the naufals yang menggambarkan netizen. Identitas tersebut tentunya melekat secara organik seiring dengan perkembangan tren di media sosial.
Kepada UNAIR NEWS (16/01/2024), Angga Prawadika Aji S IP MA, dosen , , Universitas AIrlangga (UNAIR), menanggapi fenomena tersebut. Pihaknya menyoroti bahwa kelompok-kelompok di media sosial, menciptakan stereotip dan labeling.
Dinamika Internet Slang
Dalam fenomena itu terlihat perkembangan organik yang muncul dari kultur fandom, khususnya dalam konteks budaya selebgram dan kpop culture. Munculnya internet slang sendiri berkaitan erat dengan adanya cyber-balkanization. Internet menjadi tempat di mana kelompok-kelompok dengan sosio-demografi yang berbeda.
“Fenomena tidak selalu baru tapi selalu berkembang, mencerminkan perbedaan perspektif dari berbagai kelompok dengan latar belakang yang berbeda,” ujar Angga yang mendalami bidang media digital dan budaya populer tersebut.
Seiring dengan munculnya media sosial, Angga mencatat bahwa internet slang tidak hanya menjadi cerminan dinamika sosial, tetapi juga alat untuk mengukur pergeseran generasi. Dirinya mengamati bahwa generasi Z, yang aktif berada di dunia maya, menjadi pionir dalam mengembangkan dan mempopulerkan istilah-istilah baru.

Peran Algoritma Media Sosial
Pihaknya membahas peran algoritma dalam perkembangan internet slang, khususnya dalam konteks fandom. Menurutnya, platform media sosial seperti Facebook, TikTok, dan Instagram memaksimalkan model bisnis mereka dengan mempertahankan pengguna dan meningkatkan engagement. Semakin tinggi jangkauan engagement topik akan menguntungkan platform media sosial untuk menaruh iklan.
“Internet slang dalam fandom menjadi area yang menjanjikan bagi media sosial untuk menjaga audiens tetap menggunakan platform mereka,” jelasnya.
Selain itu, Angga mempertimbangkan aspek kesenangan dalam proses diskusi online, terutama di kalangan anak muda. Dirinya berpendapat bahwa istilah ini dibentuk oleh komunitas, tanpa campur tangan pihak luar seperti korporasi. Selain itu peran influencer turut meramaikan tren tersebut di jagat media sosial.
Etika Sosial
Selanjutnya, Angga juga menyampaikan keprihatinan etis terkait dengan tren menggeneralisir dan menstereotipkan kelompok lain. Terutama menciptakan jurang imajiner dan meningkatkan tekanan bagi anak muda untuk bersikap sesuai dengan kelompok tertentu di media sosial.
“Menggeneralisir dan menstereotipkan tanpa pemikiran kritis dapat membentuk persepsi yang salah dan menyuburkan konflik,” ucapnya.
Pihaknya menambahkan, pentingnya kedewasaan dalam bermedia sosial. Penggunaan internet slang dapat memiliki implikasi etis yang serius. Dinamika internet slang dapat menjadi cerminan yang lebih akurat dari keragaman dan kompleksitas masyarakat.
“Menggunakannya dengan bijak dan memahami implikasi etisnya adalah kunci untuk menciptakan lingkungan online yang sehat dan inklusif,” tandasnya.
Penulis: Satriyani Dewi Astuti
Editor: Nuri Hermawan





