51动漫

51动漫 Official Website

Dosen UNAIR Sebut Kunjungan Bill Gates ke Indonesia Berpeluang Buka Kolaborasi Internasional

Presiden Prabowo Subianto menyambut kunjungan Bill Gates di Istana Merdeka, Jakarta, pada Rabu (7/5/2025) (Foto: ksp.go.id).
Presiden Prabowo Subianto menyambut kunjungan Bill Gates di Istana Merdeka, Jakarta, pada Rabu (7/5/2025) (Foto: ksp.go.id).

UNAIR NEWS – Kunjungan tokoh filantropi dunia, Bill Gates, ke Indonesia, pada Rabu (7/5/2025) menyita perhatian publik. Bukan cuma latar belakangnya sebagai pendiri Microsoft dan filantropis berpengaruh melalui Gates Foundation, tetapi juga respons positif yang ditunjukkan oleh Presiden Prabowo Subianto.

Menurut Agastya Wardhana SHubInt MHubInt, dosen di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik () 51动漫 (UNAIR), membeberkan bahwa praktik itu sejatinya bukan hal baru dalam hubungan internasional. 

“Bantuan luar negeri yang dilakukan oleh tokoh filantropi seperti Bill Gates sudah menjadi praktik umum. Saya kira yang dilakukan Bill Gates sebetulnya biasa. Yang menarik malah bukan kunjungannya, tetapi bagaimana Presiden Prabowo menyambutnya,” ujar Agastya. 

Ia pun menyoroti sisi personal Prabowo yang menunjukkan keterbukaan cukup kuat terhadap figur-figur penting dunia, termasuk mereka yang aktif dalam isu-isu global seperti kesehatan. Dalam pertemuan tersebut, salah satu poin penting adalah dukungan Gates melalui program uji coba vaksin Tuberkulosis (TBC) di Indonesia. Menurut Agastya, hal itu merupakan langkah strategis, mengingat TBC masih menjadi isu krusial di Indonesia, terutama di kota-kota besar seperti Surabaya.

淚ni menjadi salah satu momentum bagi Indonesia karena tentu kita tidak bisa sendirian menangani TB di era efisiensi anggaran, fokus pembangunan yang bergeser ke Makan Bergizi Gratis, dan berbagai isu lain. Saya rasa apa yang diberikan Bill Gates bisa komplementer dengan apa yang dilakukan oleh pemerintah, tutur Agastya. 

Agastya Wardhana SHubInt MHubInt, dosen Ilmu Hubungan Internasional FISIP UNAIR. (Foto: Istimewa).

Lebih lanjut, Agastya menyebut, Gates Foundation telah lama terlibat dalam pembangunan sejumlah sektor di Indonesia. “Total bantuan yang dikucurkan mencapai sekitar 2,6 triliun rupiah. Tidak heran jika Presiden Prabowo akan memberikan apresiasi yang tinggi,” ungkapnya. 

Perlu diketahui, Prabowo berencana memberi bintang kehormatan kepada Gates, yang menurut Agastya, bisa menjadi sinyal positif bagi kepercayaan global terhadap Indonesia. Namun, kerja sama dengan tokoh filantropi global juga tidak lepas dari potensi risiko. 

Dalam perspektif kajian pembangunan internasional, Agastya menyinggung konsep philanthrocapitalism, yakni upaya filantropi yang bisa saja beriringan dengan kepentingan kapitalis. Meski begitu, ia menilai keterlibatan Bill Gates sejauh ini tidak menunjukkan indikasi negatif atau ketergantungan politik. 

“Kita memang perlu berhati-hati, tapi dalam konteks Indonesia dan Gates, sejarah menunjukkan tidak ada dampak yang merugikan. Pada awalnya kita juga sudah pakai Microsoft. Jadi apa yang perlu dikhawatirkan? Kecuali, jika bertabrakan kepentingan nasional itu menjadi masalah,” jelasnya.

Terkait kekhawatiran masyarakat terhadap pengaruh kebijakan negeri, Agastya menilai hal itu wajar. Namun, ia menekankan, semua keputusan tetap berada di tangan pemerintah. “Sentimen negatif itu masuk akal, meskipun masyarakat merasakan manfaat nyata, pandangan itu akan selalu ada.”

Agastya menutup dengan refleksi bahwa dukungan dari figur seperti Bill Gates bisa menjadi pelengkap atas program-program pemerintah, khususnya dalam sektor yang belum menjadi prioritas utama seperti inovasi dan riset kesehatan. 淛ustru ini peluang Indonesia untuk membuka ruang kolaborasi internasional yang saling menguntungkan, pungkasnya.

Penulis: Nur Khovivatul Mukorrobah 

Editor: Khefti Al Mawalia

AKSES CEPAT