51动漫

51动漫 Official Website

Dosen UNAIR Ungkap Risiko Tinggi Penyebaran Nyamuk Demam Berdarah

Pemaparan materi mengenai DBD oleh Disny Prajnawita SKM MPH. (Foto: Istimewa)
Pemaparan materi mengenai DBD oleh Disny Prajnawita SKM MPH. (Foto: Istimewa)

UNAIR NEWS Mahasiswa Peminatan  Epidemiologi S1 Kesehatan Masyarakat Fakultas Ilmu Kesehatan Kedokteran dan Ilmu Alam (FIKKIA) 51动漫 (UNAIR) gelar Pengabdian Masyarakat. Kegiatan itu berupa Sosialisasi Jentik Nyamuk dengan mengusung tema Enyahkan Jentik Nyamuk, Wujudkan Lingkungan Sehat! pada Rabu (4/6/2025) di Aula Puskesmas Sobo. Hadir dalam acara tersebut, masyarakat Kelurahan Kebalenan, bidan, kader tiap RT dan perwakilan dari Puskesmas Sobo seperti Koordinator P2P.

Kegiatan itu bertujuan untuk memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD), upaya pencegahannya, dan menyampaikan hasil observasi jentik nyamuk yang telah dilakukan sebelumnya.

Dosen Kesehatan Masyarakat UNAIR, Disny Prajnawita SKM MPH mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap nyamuk Aedes aegypti. Ia menjelaskan bahwa ciri-ciri nyamuk tersebut cukup mudah dikenali. Mulai dari ukuran tubuhnya kecil, sekitar 5 hingga 7 milimeter, dengan garis putih di bagian punggung dan pola belang-belang putih pada kakinya. 

淣yamuk ini aktif menggigit pada pagi dan sore hari, dan biasanya bertelur di genangan air bersih di sekitar rumah. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk memastikan tidak ada tempat yang dapat menjadi sarangnya.

Ia mengatakan bahwa masyarakat perlu untuk mengenali gejala awal demam berdarah agar dapat segera mengambil tindakan medis.  Demam tinggi yang muncul mendadak, bisa mencapai 38 hingga 40 derajat Celsius dan berlangsung selama 2 hingga 7 hari, merupakan tanda awal yang harus diwaspadai.  

“Gejala lainnya adalah nyeri hebat di seluruh tubuh, terutama pada otot, tulang, sendi, dan juga di belakang mata. Selain itu, biasanya muncul ruam kemerahan atau bintik-bintik (petekie) di kulit, serta pendarahan ringan seperti mimisan atau gusi berdarah. Ruam ini umumnya muncul pada hari ketiga atau keempat setelah demam dimulai,” tambahnya.

Pemaparan hasil observasi jentik kelurahan kebalenan oleh perwakilan mahasiswa. (Foto : Istimewa)

Dari hasil pengamatan yang dilakukan oleh Mahasiswa, ditemukan bahwa masih banyak rumah dan tempat penampungan air di Kelurahan Kebalenan yang menjadi sarang jentik nyamuk. Sebanyak 40 persen rumah yang diperiksa ditemukan jentik nyamuk, dan hanya 60 persen rumah yang benar-benar bebas dari jentik. Ini artinya, wilayah ini masih berisiko tinggi terhadap penyebaran penyakit demam berdarah.

Jumlah wadah air yang ditemukan berisi jentik juga cukup banyak, yaitu 14 dari 210 wadah. Berdasarkan semua data ini, wilayah Kelurahan Kebalenan masuk dalam zona kuning. Artinya, tingkat penyebaran nyamuk sedang dan harus diwaspadai. Ia berharap warga bisa lebih menjaga kebersihan lingkungan dan rutin membersihkan tempat-tempat yang bisa menjadi sarang nyamuk, terutama wadah air bersih.

Penulis : Dheva Yudistira Maulana

Editor : Khefti Al Mawalia

AKSES CEPAT