51动漫

51动漫 Official Website

Dosis Optimal Vitamin D untuk Pengobatan COVID-19

Foto oleh Pinterest

Pandemi virus corona (COVID-19) masih menjadi permasalahan kesehatan masyarakat. COVID-19 disebabkan oleh virus SARS-CoV-2, yang termasuk dalam family coronavirus. Virus ini sangat menular dan menyebar dengan cepat ke seluruh dunia. COVID-19 telah mengalami banyak mutasi dan memunculkan beberapa varian. Studi terbaru mengungkapkan penemuan varian COVID-19 yang paling baru, varian omicron (B.1.1.529), yang pertama kali diidentifikasi pada awal November 2021 di Botswana. COVID-19 semakin berkembang, kini tersedia banyak pengobatan untuk mengobati COVID-19 yang telah disetujui oleh Food and Drug Administration (FDA), mulai dari obat antivirus, antibodi monoklonal terhadap SARS-CoV-2, obat antiinflamasi, dan imun -memodulasi obat.

Seperti penyakit virus lainnya, pengobatan COVID-19 tetap terutama perawatan suportif untuk memperbaiki kondisi pasien, karena tidak ada pengobatan pasti untuk COVID-19 yang sangat efektif. Penelitian terus mengembangkan pengobatan optimal yang dapat meningkatkan angka kesembuhan COVID-19, termasuk penggunaan vitamin D dalam proses pengobatan. Vitamin D diketahui memainkan peran kunci dalam mengendalikan sistem kekebalan tubuh, termasuk perlindungan terhadap infeksi virus. Kekurangan vitamin D dapat meningkatkan keparahan influenza dan infeksi pernapasan. Aktivasi reseptor vitamin D pada sel imun telah menunjukkan efek langsung dengan mengurangi sekresi sitokin inflamasi, seperti IL-6, dan efek tidak langsung melalui protein C-reaktif.

Suplementasi vitamin D telah diusulkan sebagai cara yang mungkin untuk mencegah infeksi, keparahan penyakit, dan kematian akibat penyakit. Beberapa penelitian dengan hasil yang bervariasi menunjukkan perbedaan kadar vitamin D Meta-Analisis DOSIS VITAMIN D OPTIMAL UNTUK PENGOBATAN COVID-19. Meta-analisis ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada dosis optimal vitamin D untuk morbiditas, lama rawat inap, dan mortalitas pada pasien COVID-19.

Kami melakukan pencarian komprehensif di tiga database online untuk studi yang memenuhi syarat hingga 28 Februari 2022. Odds ratio (OR) dan standardized mean difference (SMD) diterapkan sebagai ringkasan statistik hasil primer. Kualitas studi literatur yang dikumpulkan dinilai menggunakan alat Cochrane risk of bias versi 2 (RoB 2). Delapan uji klinis acak (RCT) dimasukkan dalam penelitian ini. Dalam analisis kami, kami menemukan bahwa tidak ada perbedaan morbiditas yang signifikan ketika vitamin D diberikan kepada pasien COVID-19 [OR=0,50 (95% CI=0,13-1,96); SMD=-0,14 (95% CI=-0,55-0,28)].

Durasi rawat inap [SMD=-0.12 (95% CI=-0.39-0.15)] dan mortalitas [OR 0.47 (95% CI=0.19-1.17)] pasien COVID-19 dalam lima penelitian juga tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan dibandingkan dengan pasien yang tidak mengonsumsi vitamin D. Namun, ketika kami menganalisis dua penelitian lain, kami menemukan bahwa pada pasien yang tidak mengonsumsi vitamin D, angka kematian lebih rendah [SMD=0,43 (95% CI=0,29, 0,58)]. Kesimpulannya, dibandingkan dengan vitamin D dosis tinggi tunggal, pemberian vitamin D multi-hari 1000-6000 IU pada pasien dengan COVID-19 menghasilkan peningkatan morbiditas pasien, lama rawat inap, dan kematian pasien.

Temuan kami menunjukkan bahwa pemberian vitamin D cenderung memiliki efek perlindungan dari kematian COVID-19 [OR=0.47 (95%CI=0.19-1.17)] meskipun tidak berbeda secara signifikan dibandingkan dengan pasien yang tidak menerima vitamin D. Namun, pada analisis dari dua penelitian lain menemukan perbedaan yang signifikan di mana pasien kontrol yang tidak menerima vitamin D memiliki tingkat kematian yang lebih rendah . Hal ini terjadi karena beberapa faktor yang dapat menjadi bias, seperti populasi yang direkrut heterogen, prevalensi hipertensi, diabetes, dan obesitas yang lebih tinggi pada kelompok yang menerima vitamin D, dan faktor lain yang mempengaruhi seperti usia dan penyakit saat ini.

Dari penelitian lain juga disebutkan bahwa pemberian vitamin D dosis tinggi selama dua minggu juga tidak mempengaruhi kematian akibat COVID-19 (Sabico et al. 2021). Cara pemberian dan dosis vitamin D pada COVID-19 saat ini masih dalam kontroversi. Banyak penelitian telah membuktikan bahwa vitamin D bermanfaat dalam pengobatan COVID-19. Namun demikian, permasalahannya adalah masih belum ada kesepakatan dosis optimal untuk memandu pemberian terapi vitamin D pada pasien COVID-19. Berbagai uji klinis telah dilakukan sebagai upaya untuk mengetahui pengaruh pemberian terapi vitamin D dengan berbagai dosis terhadap luaran pasien COVID-19. Perbedaan temuan dalam penelitian tersebut dijelaskan dengan membahas perbedaan pemberian vitamin D pada masing-masing penelitian. Perbedaan mendasar dalam studi ini adalah

Link Artikel:

Ditulis oleh: Dita Mega Utami, Muhammad Abdurrahman Rasyid Ash-Shiddiq, Desi Rianti Rahmadhani, Muhammad Iqbal Mubarok, Muhammad Zulkifly Tasman, Jeremy Nicolas Sibarani,Habibah Teniya Ariq Fauziyah, Dr. Budi Utomo, dr., M.Kes, Shifa Fauziyah, S.Si., M.Ked.Trop

AKSES CEPAT