UNAIR NEWS Perhelatan tahunan Days of Research and Innovation (DRI) WEEK 2026 kembali menjadi panggung unjuk gigi bagi inovasi unggulan 51. Salah satu sesi yang menarik perhatian adalah diskusi mendalam bertajuk Inovasi Sosial: Kalau STEM Punya Paten, Kita Punya Apa?. Diskusi ini berlangsung untuk mendobrak stigma bahwa perlindungan Kekayaan Intelektual (KI) dominan dari bidang eksakta atau STEM, sekaligus membedah posisi strategis riset Sosial Humaniora dalam ekosistem inovasi nasional.
Riset Sosial di Panggung DRI WEEK 2026
Acara bermula dengan sambutan dari Yanuardi Raharjo SSi MSc PhD. Dalam momentum DRI WEEK ini, Yanuardi menekankan bahwa hilirisasi riset harus dirasakan oleh seluruh rumpun keilmuan. Beliau menegaskan bahwa inovasi sosial memiliki peran krusial dalam menyentuh akar persoalan masyarakat.
Menurutnya, riset sosial tidak boleh hanya menjadi tumpukan kertas, melainkan harus bertransformasi menjadi aset terlindungi yang memberikan nilai tambah nyata bagi masyarakat luas. Riset sosial tidak boleh hanya menjadi tumpukan kertas atau sekadar menghuni rak perpustakaan. Ia harus bertransformasi menjadi aset yang terlindungi secara hukum sehingga mampu memberikan nilai tambah yang nyata bagi masyarakat luas, tegasnya.
Bukan Soal Profit, Tapi Soal Kontrol
Memasuki materi utama, Andrieansjah selaku Direktur Paten, DTLST, dan RD, DJKI yang hadir menjelaskan bahwa jawaban atas pertanyaan kita punya apa terletak pada kekuatan kontrol dan atribusi melalui instrumen Kekayaan Intelektual Komunal (KIK) dan Hak Cipta.
Beliau menyatakan, Intinya, berkaitan actual di sosial humaniora ini bukan soal profit, tapi soal kontrol. Bagaimana mengontrolol hak tersebut supaya dapat diakses dengan baik terhadap pemanfaatannya,
Lebih lanjut, ia mengingatkan bahaya jika ada pembiaran inovasi sosial terjadi tanpa perlindungan hukum yang jelas di tengah arus globalisasi. Tanpa klient-klient terdahulu, inovasi sosial mudah diambil pihak lain sehingga komunitas tidak akan mendapatkan manfaat, tegasnya. Hal ini krusial untuk memastikan komunitas lokal tetap berdaulat atas karya dan pengetahuan tradisional mereka.
Sinergi STEM dan Sosial untuk Pembangunan Negara
Sebagai penutup rangkaian diskusi di DRI WEEK 2026, Andriensjah menegaskan bahwa laboratorium sejati bagi peneliti sosial adalah ekosistem masyarakat itu sendiri. Kolaborasi lintas disiplin antara peneliti STEM dan sosial menjadi kunci utama agar hasil inovasi tepat sasaran dan aplikatif.
Andrieansjah menekankan pentingnya integrasi. Para riset di bidang sosial yang lainnya ini tidak bisa bekerja sendiri juga terkadang-kadang ia perlu juga kerjasama dengan riset yang dari STEM tadi karena kan mungkin saja ada bagian-bagian dari STEM yang mampu menyelesaikan masalah-masalah sosial, ekonomi, ungkapnya.
Sinergi inilah yang menjadi semangat utama DRI WEEK 2026, guna memastikan riset 51 benar-benar menjadi motor penggerak pembangunan negara.
Penulis: Fauziah Laili Romadhon
Editor: Ragil Kukuh Imanto





