Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh kuman tuberkulosis (Mycobacterium tuberculosis). Indonesia termasuk salah satu negara dengan kasus TB yang tinggi. Penurunan daya tahan tubuh akan terjadi pada seseorang yang menderita tuberkulosis. Pada tahun 2022, diperkirakan 10,6 juta orang di seluruh dunia jatuh sakit karena tuberkulosis (TB), termasuk 5,8 juta pria, 3,5 juta wanita, dan 1,3 juta anak-anak. Meskipun merupakan penyakit yang dapat dicegah dan disembuhkan, berjuta orang meninggal karena TB setiap tahun yang mana menjadikannya sebagai pembunuh menular teratas di dunia (WHO, 2022).
Anak usia sekolah, terutama anak Sekolah Menengah Pertama (SMP) berada dalam masa remaja dimana sistem imun masih berkembang. Oleh karena itu, untuk mencegah penyebaran TB di lingkungan siswa sekolah, kami melakukan skrining TB pada anak SMP di wilayah kerja Puskesmas Keputih Surabaya. Skrining ini membantu mengidentifikasi siswa yang terinfeksi sehingga dapat dilakukan pencegahan segera untuk menghentikan penyebaran penyakit ke siswa yang lainnya. Selain melakukan skrining TB, kami juga mengukur status gizi mereka. Seperti kita tahu bahwa usia SMP merupakan masa dimana sistem imun masih berkembang. Dengan status gizi yang baik, maka sistem imun juga baik.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada 12.15% siswa SMP yang berat badan di bawah normal dan terindikasi sebagai terduga TB. Namun, kami juga menemukan tidak ada hubungan yang signifikan antara status gizi dengan hasil skrining TB atau dugaan kasus TB baru pada siswa SMP. Hal ini mungkin disebabkan bahwa tidak hanya status gizi yang berperan dalam kejadian suspek TB namun factor lain yang kemungkinan berperan besar dalam mempengaruhi terjadinya suspek TB.
Hasil dari skrining TB ini belum dilakukan diagnosis lebih lanjut pada saat penelitian, sehingga belum bisa dipastikan apakah siswa yang suspek TB tersebut menderita penyakit TB atau tidak. Namun demikian, penelitian ini diharapkan dapat membantu meningkatkan kesadaran siswa terkait penyakit TB. Walaupun dalam penelitian ini tidak ada hubungan signifikan antara status gizi dan suspek TB, tapi meningkatkan status gizi sangat penting buat anak-anak terutama masih dalam masa pertumbuhan.
Penulis: Erni Astutik, S.K.M., M.Epid
Link:





