UNAIR NEWS Target 51动漫 menuju perguruan tinggi 500 besar dunia seperti yang diamanatkan Kemenristek Dikti, salah satunya didorong melalui langkah internasionalisasi. Langkah ini, memerlukan dukungan dari berbagai pihak, baik dosen, mahasiswa, maupun tenaga kependidikan.
Sebagai komponen pendukung internasionalisasi, Airlangga Global Engagement (AGE) mengupayakan berbagai hal agar sivitas mengambil banyak kesempatan untuk bisa berkiprah di kancah internasional.
Tak hanya itu, AGE juga menjadi jembatan untuk melakukan 榩romosi universitas. Tujuannya, tidak lain agar UNAIR menjadi jujugan akademisi dari berbagai negara untuk mengikuti program akademik yang diselenggarakan di UNAIR.
淯ntuk menuju langkah internasionalisasi itu, UNAIR akan lebih aktif menguatkan jejaring internasional. Seperti pimpinan muncul di pertemuan-pertemuan internasional, itu memperkuat posisi UNAIR, ungkap Direktur Eksekutif AGE Prof., Dr., Ni Nyoman Tri Puspaningsih., M.Si.
Nyoman juga menambahkan, agar kegiatan akademik diakui, maka lingkup kegiatan mesti sesuai standart yang ditetapkan oleh QSWorld University Rankings.
淜egiatan bukan hanya satu dua hari, tapi yang memiliki makna akademik. Ada standarnya di QS. Kalau tidak masuk standar ya kita tidak bisa klaim bahwa kegiatan itu skala internasional, papar Nyoman.
Salah satu syarat itu, tambah Nyoman, misalnya dengan dosen exchange minimal tinggal selama tiga bulan di perguruan tinggi tujuan, baik untuk mengajar maupun melakukan penelitian.
Bukan hanya sivitas UNAIR yang didorong untuk mengikuti kegiatan lintas Negara, namun juga akademisi luar negeri didorong untuk mengambil program akademik di UNAIR. Nyoman mengatakan, salah satu program yang banyak diminati akademisi asing adalah program-program yang berkaitan dengan field trip dan community service atau pengabdian masyarakat.
淧engmas justru jadi daya tarik asing ke Indonesia. Negara-negara maju senang mengikuti field trip dan community service, mengetahui kehidupan masyarakat berkembang, tambah Prof Nyoman.
Di UNAIR, misalnya, ada program yang digagasan AGE yakni program AMERTA yang bisa dilakukan kredit transfer. Untuk mendukung program outbound, menurut Nyoman, sebagian mahasiswa terkendala biaya. Untuk itu, ke depan, AGE akan mendukung mahasiswa kalangan mampu untuk melakukan outbound dengan dana mandiri. Sedangkan untuk mahasiswa lainnya, tetap akan diberikan bantuan biaya.
Di usia UNAIR ke-63 tahun, Nyoman berharap daya saing lulusan akan meningkat, serta dapat mengisi berbagai peluang karir, tidak hanya dalam negeri tapi juga luar negeri.
淒aya saing lulusan harus bisa lebih baik. Karena bangsa kita besar, kalau semua umeg di dalam negeri, nggak akan cukup. Ke luar dan mengisi peluang karir di luar negeri, itu peran kita pada posisi intelektual yang berdaya saing, tandas Nyoman. (*)
Penulis : Binti Q. Masruroh
Editor : Nuri Hermawan





