Keberadaan Pontederia crassipes atau eceng gondok di Sungai Bengawan Solo telah menjadi perhatian serius karena dampaknya terhadap ekosistem perairan dan aktivitas manusia. Sebagai tanaman invasif, P. crassipes berkembang pesat melalui reproduksi vegetatif, menutupi permukaan air secara padat dan menghambat penetrasi cahaya matahari. Hal ini telah mengurangi kadar oksigen terlarut, mengganggu fotosintesis, serta memicu penurunan kualitas air.
Dalam penelitian terbaru, indeks pencemaran (PI) menunjukkan bahwa kualitas air di area ini tergolong tercemar berat dengan nilai 13,10. Tingginya konsentrasi nitrat (1,16 ppm) dan fosfat (0,19 ppm), yang melampaui batas standar, telah memberikan substrat kaya nutrisi bagi pertumbuhan eceng gondok. Parameter seperti permintaan oksigen biokimia (BOD5) sebesar 12,01 ppm juga menandakan tingginya polusi organik yang memperburuk kondisi perairan.
Untuk menghadapi tantangan ini, solusi berbasis keberlanjutan perlu diterapkan. Bioremediasi berbasis ekologi dianjurkan sebagai pendekatan utama. Pemanfaatan bakteri indigenous sebagai agen pengurai polutan organik dapat membantu memulihkan kualitas air.
Selain itu, pengelolaan nutrien seperti pengendalian limbah domestik dan pertanian yang mengalir ke sungai perlu diperketat. Tanaman eceng gondok dapat diolah menjadi bioenergi atau kompos untuk mengurangi populasi tanaman sekaligus menghasilkan nilai tambah. Penanaman vegetasi riparian lokal yang dapat menyerap nutrien juga dapat membantu mengurangi aliran nutrien berlebih ke sungai. Pengawasan rutin menggunakan pendekatan indeks kualitas air (Water Quality Index) serta keterlibatan masyarakat lokal dalam program pengelolaan lingkungan berbasis sains warga (citizen science) akan mendukung keberhasilan program restorasi ekosistem. Dengan langkah-langkah terpadu ini, diharapkan ekosistem perairan Sungai Bengawan Solo dapat dipulihkan. Keberlanjutan lingkungan perairan tidak hanya melindungi keanekaragaman hayati tetapi juga menjaga manfaat ekonomi dan sosial yang diperoleh dari sungai ini.
Penulis: Dr. Veryl Hasan, S.Pi., M.P.
Detail tulisan ini dapat dilihat di:





