UNAIR NEWS Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) bukan sekadar seremoni tahunan. Melainkan momentum refleksi atas arah dan esensi pendidikan tinggi di Indonesia. Di tengah perubahan tuntutan kampus agar lulusannya cepat terserap oleh Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI), marwah perguruan tinggi rentan mengalami pergeseran. Hal ini mendapat sorotan khusus dari Pakar Sosiologi Pendidikan 51动漫 (UNAIR), Prof Dr Tuti Budirahayu Dra MSi.
Menurut Prof Tuti, pendidikan tinggi memiliki makna dan tujuan yang sangat penting bagi pengembangan peradaban suatu bangsa. Terutama dalam menghasilkan masyarakat yang tidak hanya mampu bernalar kritis, tetapi juga bertindak menggunakan hati nurani untuk kebaikan umat manusia.
淧erguruan tinggi harus membebaskan mahasiswa dari ikatan feodalistik dan kolonial, membentuk jiwa yang merdeka secara lahir dan batin. Pendidikan tinggi juga harus bersifat holistik. Di mana tidak hanya mengejar kepintaran otak. Tetapi juga membangun karakter, etika, dan budi pekerti berbasis nilai-nilai luhur bangsa, ungkap Prof Tuti mengutip pemikiran Ki Hajar Dewantara.
Tantangan dan Perubahan Orientasi Kampus
Menyoroti tren perguruan tinggi saat ini, Prof Tuti menilai kebijakan yang hanya berfokus pada pemenuhan tenaga kerja DUDI berisiko mengubah arah orientasi kampus. Mahasiswa dibentuk sedemikian rupa agar match dengan kebutuhan industri, sehingga mengabaikan fungsi utamanya dalam membangun karakter.

淛ika orientasi pendidikan tinggi dipersempit hanya sebatas untuk mengisi tenaga kerja di sektor usaha dan industri, maka lulusannya dapat dianalogikan seperti 榮ekrup-sekrup dari mesin-mesin kapitalisme. Orientasi kerdil pendidikan tinggi semacam itu menjadikan generasi muda tidak memiliki kepekaan terhadap ketimpangan dan ketidakadilan sosial, tegasnya.
Tergilasnya Ilmu Humaniora dan Pentingnya Sinergi
Kondisi komersialisasi tersebut semakin parah dampaknya terhadap nasib program studi ilmu dasar, sosial, dan humaniora. Jika kampus hanya menggunakan logika pelayanan terhadap DUDI sebagai agen kapitalistik, program studi yang mengajarkan pemikiran kritis ini akan perlahan tersingkirkan.
淧rogram studi yang mengajarkan ilmu-ilmu dasar, sosial dan humaniora akan mengalami peminggiran, dan mungkin dapat tergilas oleh kepentingan pasar yang berkarakter seperti juggernaut. Sebuah objek sangat besar yang berjalan seperti tank raksasa yang dapat menghancurkan apapun yang menghalanginya, papar Guru Besar tersebut.
Ancaman ini nyatanya bisa mengikis fondasi peradaban dan moral bangsa. Padahal, ilmu dasar, sosial, dan humaniora sangat krusial untuk memastikan bahwa kemajuan teknologi tidak menjadi perusak kelestarian alam dan ekosistem.
Sebagai solusi, Prof Tuti merekomendasikan adanya keseimbangan yang nyata dalam pengelolaan program studi di perguruan tinggi. 淧rogram-program studi yang berbasis ilmu dasar, sosial dan humaniora justru harus bisa bersinergi dengan program-program studi berbasis teknologi, dengan cara menyesuaikan kurikulumnya agar tetap relevan dan up to date dengan perkembangan zaman, dan tetap menginternalisasikan nilai-nilai moral, pungkasnya.
Penulis: Muhammad Yasir Dharmawan D.
Editor: Yulia Rohmawati





