Ikan merupakan salah satu sumber pangan berprotein tinggi yang dapat ditemukan dengan mudah di Indonesia. Namun, tren industrialisasi dan aktivitas manusia (misalnya pertanian) akhir-akhir ini yang memulai penurunan kualitas lingkungan yang diikuti dengan ketidakseimbangan ekologi menyebabkan masalah kesehatan masyarakat, terutama terkait keamanan ikan yang dikonsumsi di daerah di mana aktivitas pertambangan dan industri terjadi.
Masalah keamanan pangan menjadi perhatian karena kejadian tersebut semakin sering terjadi dan dapat mempengaruhi kondisi kesehatan jangka panjang maupun jangka pendek. Ini menempatkan beban kesehatan yang signifikan pada populasi. Salah satu permasalahannya adalah pencemaran logam berat pada ikan (ikan air tawar dan air laut). Kontaminasi logam berat dapat menyebabkan gangguan kesehatan melalui banyak jalur seperti bioakumulasi dan biomagnifikasi dalam rantai makanan (mengonsumsi ikan yang terkontaminasi), meminum air yang terkontaminasi, dan penggunaan air permukaan sebagai penggunaan sehari-hari untuk mencuci dan mandi. Mengonsumsi makanan atau makanan laut yang berasal dari laut yang tercemar merupakan jalur utama paparan logam berat pada manusia.
Kontaminasi logam berat pada manusia telah dipelajari untuk beberapa konsekuensi kesehatan. Kontaminasi merkuri diindikasikan sebagai agen penyebab beberapa kerusakan seperti imunologi, neurologi, reproduksi, motorik, nefrologi, dan gangguan jantung. Beberapa kelainan genetik seperti Alzheimer, Parkinson, autisme, lupus, dan amyotrophic lateral sclerosis juga dimediasi oleh paparan logam berat.
Penelitian ini dilakukan pada sekolah-sekolah yang berada di kawasan Pantai Kenjeran karena memiliki risiko paparan yang lebih tinggi. Oleh karena itu, pendidikan gizi perlu diberikan untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman tentang cemaran merkuri pada ikan dan produknya. Penelitian ini dimaksudkan untuk menambah pengetahuan siswa sekolah dasar tentang pencemaran merkuri pada ikan dan produknya. Penelitian ini bertujuan untuk memperluas pengetahuan anak sekolah tentang bahaya pencemaran merkuri pada ikan dan produknya.
Penelitian dilakukan dengan quasi-experimental yang dilakukan pada 120 sisa SD di SDN Sukolilo 250 dan SDN Komplek Kenjeran II. Dua sekolah tersebut terletak di sekitar Pantai Kenjeran. Dari sampel yang diambil, akan dibagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok kontrol dan kelompok intervensi masing-masing 60 siswa. Kerangka penelitian yang digunakan adalah Health Belief Model menggunakan edukasi gizi. Edukasi gizi yang diberikan terkait dari bahaya paparan merkuri dari ikan dan produk turunannya. Edukasi diberikan selama 6 bulan, sebelum edukasi diberikan, siswa akan diberikan pre-test dan setelah 6 bulan edukasi siswa diberikan post-test. Data yang dikumpulkan tersebut akan diolah menggunakan t-paired test dengan SPSS.
Anak-anak dinilai lebih rentan daripada orang dewasa terhadap paparan merkuri. Hal tersebut berhubungan dengan rasa penasaran dan ketidakpedulian yang mereka miliki. Anak-anak usia 6-12 tahun cenderung memiliki perkembangan yang cepat. Oleh sebab itu, memeberikan informasi pada usia tersebut diharapkan mampu memberikan dampak yang besar pada perilaku konsumsi mereka. Anak-anak yang mengonsumsi ikan air tawar dan air asin akan memiliki kadar level merkuri lebih tinggi dibanding mereka yang tidak mengonsumsi. Oleh sebab itu, menjadi penting untuk memberikan edukasi dan informasi terkait bahaya paparan merkuri dari ikan dan produk turunannya.
Hasil dari penelitian menunjukkan pada pre-test, kelompok kontrol memiliki nilai yang lebih tinggi daripada kelompok intervensi. Sedangkan, pada post-test menunjukkan nilai dari kelompok intervensi lebih tinggi dari kelompok kontrol. Kedua kelompok menunjukkan tingkat pengetahuan yang sedang, tetapi pada kelompok kontrol, siswa yang memiliki pengetahuan yang memiliki tingkat pengetahuan baik lebih banyak. Meski begitu, pada post-test, siswa pada kelompok kontrol menunjukkan level yang sama seperti pre-test.
Penelitian ini juga menunjukkan bahwa pertanyaan terkait dampak fisik yang terjadi akibat paparan merkuri secara signifikan meningkatkan pengetahuan dari kelompok kontrol. Selain itu, hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan signifikan antara frekuensi konsumsi ikan sebelum dan sesudah edukasi diberikan. Frekuensi konsumsi ikan menunjukkan mayoritas dikonsumsi sebanyak 2-3 kali per minggu. Sedangkan frekuensi konsumsi dari produk turunan ikan biasanya 1-2 kali per minggu.
Penelitian ini menunjukkan bahwasannya sikap mempengaruhi perilaku. Namun sikap dan pengetahuan adalah sebuah kombinasi yang efektif untuk mempengaruhi perilaku seseorang. Hasil pada penelitian menunjukkan bahwasannya edukasi yang diberikan pada siswa SD, berdasarkan pendekatan menggunakan modul, dapat mempengaruhi perilaku seseorang terkait gizi, konsumsi makanan, dan kewaspaan terkait merkuri. Sehingga, edukasi yang diberikan berpengaruh secara positif pada perilaku dengan adanya meningkatnya pengetahuan, niat seseorang, dan kontrol perilaku seseorang.
Penulis: Trias Mahmudiono, SKM., MPH., GCAS., Ph.D
Informasi detail dari penelitian ini dapat dilihat pada:
Mahmudiono, T., Wijanarko, M. A. V., Elkarima, E., Fikrah 楢rifah, D., Indriani, D., Setyaningtyas, S. W., & Chen, H. L. (2023). Education on mercury exposure from fish and its processed products among school children in the Kenjeran Beach Area, Surabaya. Journal of Public Health in Africa.





