51¶¯Âþ

51¶¯Âþ Official Website

Efek Antioksidan, Anti-Melanogenesis, dan Sitotoksik Ekstrak Bunga Telang pada Sel Melanoma B16

Ilsutasi Bunga Telang (foto: dok istimewa)

Radikal bebas yang dihasilkan oleh paparan sinar matahari, polusi, dan faktor lingkungan lainnya dapat merusak sel-sel kulit dan meningkatkan produksi melanin.1,2 Melanin, merupakan pigmen alami dalam epidermis kulit, sangat penting dalam melindungi kulit dari radiasi ultraviolet matahari yang berbahaya. Namun jika diproduksi secara berlebihan, melanin dapat menyebabkan hiperpigmentasi. Selain sinar matahari enzim tirosinase juga sangat berpengaruh dalam produksi melanin3,4 Untuk mengatasi hal tersebut antioksidan atau inhibitor tirosinase dapat membantu mengurangi peradangan dan mencegah pembentukan melanin berlebihan dengan menetralkan radikal bebas dan mengurangi stres oksidatif maupun menghambat tirosinase.5,6

Bunga telang (Clitoria ternatea) adalah tanaman berbunga dalam keluarga Fabaceae, banyak dijumpai sebagai tanaman hias karena bunganya yang berwarna biru atau ungu yang mencolok. Tanaman ini tumbuh subur di daerah tropis, khususnya di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, dan banyak dimanfaatkan dalam berbagai konteks kuliner dan pengobatan.7 Secara historis, bunga telang telah digunakan dalam pengobatan tradisional untuk mengatasi berbagai kondisi kesehatan, termasuk stres, peradangan, dan infeksi. Analisis kimia menunjukkan adanya senyawa bioaktif yang kuat dalam dalam bunga telang, terutama antosianin, khususnya ternatin, yang bertanggung jawab atas warna biru bunga yang berbeda.8 Selain itu, bunga telang mengandung flavonoid seperti quercetin, kaempferol, saponin, dan tanin, yang semakin memperkaya potensi terapeutiknya.9“11 Ekstrak bunga telang dikenal luas karena sifat antioksidannya yang kuat, terutama karena adanya senyawa bioaktif seperti antosianin, flavonoid, dan fenolik. Senyawa ini menetralisir radikal bebas, pendorong utama stres oksidatif seluler, dengan menyumbangkan elektron atau atom hidrogen, sehingga mengurangi kerusakan oksidatif pada DNA, protein, dan lipid. Aktivitas antioksidan ini juga melindungi kulit, mencegah penuaan dini, peradangan, dan kerusakan akibat paparan sinar ultraviolet (UV).12,13

Selain itu, sifat antioksidan dari ekstrak bunga telang juga menunjukkan potensinya sebagai agen anti-melanogenesis. Antioksidan dapat meningkatkan pencerah kulit dengan menghambat enzim tirosinase, sehingga mengurangi produksi melanin pada tingkat sel. Tirosinase mengkatalisis konversi tirosin menjadi dihydroxyphenylalanine (DOPA) dan kemudian menjadi dopaquinone, yang merupakan langkah pertama dalam produksi melanin. Antioksidan seperti quercetin dan anthocyanin dapat menghambat aktivitas tirosinase dengan mengikat situs aktif enzim atau mengurangi oksidasi tirosin dan DOPA. Berkurangnya pembentukan melanin menyebabkan penurunan pigmentasi kulit. Oleh karena itu, ekstrak bunga telang menunjukkan potensi sebagai bahan aktif dalam kosmetik untuk aplikasi pencerah kulit.14“16 Uji keamanan sangat penting untuk memastikan bahwa bahan pemutih kulit aman untuk penggunaan jangka panjang. Uji 3-(4, 5-dimethylthiazolyl-2)-2, 5-diphenyltetrazolium bromide (MTT) pada sel melanoma B16 adalah metode yang umum digunakan untuk menilai toksisitas seluler senyawa ini. Metode tersebut menilai viabilitas sel berdasarkan kemampuan sel hidup dalam mereduksi MTT menjadi formazan, yang menghasilkan perubahan warna yang dapat diukur secara kuantitatif. Tes ini sangat penting untuk memastikan keefektifan zat pencerah kulit dalam menghambat melanogenesis, memastikan keamanannya dan tidak beracun terhadap sel kulit. Penting juga untuk memastikan bahwa senyawa pencerah kulit aman untuk aplikasi topikal jangka panjang.17 Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi sifat antioksidan, potensi anti-melanogenesis, dan efek sitotoksik ekstrak bunga telang pada sel melanoma B16.

Penelitian ini menyelidiki efek antioksidan, anti-melanogenesis, dan sitotoksik ekstrak bunga telang pada sel melanoma B16, yang bertujuan untuk mengeksplorasi potensinya sebagai alternatif yang lebih aman dan alami untuk mencerahkan kulit. Sifat antioksidan dan potensi anti-melanogenesis ekstrak bunga telang dievaluasi masing-masing menggunakan uji penghambatan radikal 2,2-difenil-1-pikrilhidrazil (DPPH) dan penghambatan tirosinase. Sitotoksisitas ekstrak BPF pada sel melanoma B16 diperiksa lebih lanjut menggunakan uji 3-(4, 5-dimethylthiazolyl-2)-2, 5-diphenyltetrazolium bromide (MTT). Hasil pengujian DPPH menunjukkan bahwa ekstrak bunga telang menunjukkan nilai IC50 sebesar 165,10±7,78 ppm, dibandingkan dengan kuersetin (senyawa acuan) dengan nilai IC50 sebesar 3,53±0,08 ppm, yang menunjukkan potensi antioksidan sedang. Ekstrak bunga telang menunjukkan IC50 sebesar 130,90±3,52 ppm pada uji penghambatan tirosinase, yang menunjukkan efek antimelanogenesis yang lebih lemah dibandingkan hidrokuinon (nilai IC50 sebesar 17,04±0,14 ppm). Teknik MTT menunjukkan biokompatibilitas yang tinggi dengan viabilitas sel melanoma B16 sebesar 85% pada 250 ppm untuk ekstrak bunga telang, dibandingkan dengan hanya 24,45% untuk doksorubisin pada 30 ppm. Temuan ini menggarisbawahi potensi ekstrak bunga telang sebagai bahan bioaktif untuk perawatan kulit, menawarkan aktivitas antioksidan moderat dengan efek anti-melanogenesis alami yang aman. Penelitian ini mendukung penerapan ekstrak bunga telang dalam formulasi kosmetik yang ditujukan untuk perlindungan dan pencerah kulit, dengan toksisitas yang minimal untuk penggunaan jangka panjang.

Penulis:

Prof. Dr. apt. Tristiana Erawati M., Dra., M.Si.

Informasi detail riset ini dapat diakses pada artikel kami di:

Fenita Shoviantari1,2, Tristiana Erawati3,4*, Widji Soeratri3, Mahardian Rahmadi3, Galang W. Permadi2, Muhammad Rafibahtiyar2, Antioxidant, Anti-Melanogenesis, and Cytotoxic Effects of Clitoria ternatea (Butterfly Pea) Flower Extract on B16 Melanoma Cells. Trop J Nat Prod Res. 2024; 8(12): 9456 “ 9460

AKSES CEPAT