Berbagai obat-obatan dapat menyebabkan kerusakan pada telinga (ototoksik), sehingga dapat menyebabkan gangguan pendengaran. Efek ototoksik pada telinga dapat terjadi pada satu atau kedua telinga, dengan efek yang dapat berlangung dalam jangka waktu pendek ataupun lama. Ototoksisitas dapat dibagi menjadi kohleotoksisitas (mengganggu pendengaran) dan vestibulotoksisitas (mengganggu keseimbangan).
Aminoglikosida merupakan antibiotika berspektrum luas yang mempunyai aktivitas antibakteri yang kuat terhadap kuman gram negatif. Obat ini digunakan secara luas karena aktivitas antibakterinya. Aminoglikosida mempunyai efek samping terhadap telinga bagian dalam, dan dapat menyebab gangguan pendengaran. Walaupun efek samping ototoksik tergantung dari akumulasi dosis dan cara pemberian obat, kerusakan kohlea dapat terjadi dalam rentang atau dibawah dosis terapi.
Curcumin, yang merupakan zat bioaktif dari ekstrak kencur, telah digunakan dalam secara luas dalam pengobatan tradisional Cina dan India. Berbagai penelitian mendapatkan curcumin mempunyai efek antara lain sebagai antioksidan, anti radang, obat kanker, anti-angiogenik, dan melindungi hati. Peningkatan produksi oksigen reaktif mempunyai peranan penting dalam proses gangguan pendengaran. Malondial-dehyde (MDA) merupakan produk oksidasi lemak, dan dianggap sebagai petanda stress oksidatif.
Penelitian dilakukan untuk menilai curcumin sebagai antioksidan yang efektif untuk mencegah dan memperlambat kerusakan sel fibroblast di kohlea, berdasarkan ekspresiMDA pada model tikus ototoksik. Penelitian ini menggunakan sampel sebanyak 32 ratus norvegicus, yang secara acak dibagi dalam 8 grup, yaitu: kontrol negative, kontrol ototoksik, 2 grup otoktoksik dengan dosis curcumin masing-masing 100 mg/kg dan 200 mg/kg, 2 grup ototoksik dengan dosin curcumin masing-masing 100 mg/kg dan 200 mg/kg yang diberikan selama 7 hari, dan 2 grup mendapat curcumin dosis 100 mg/kg dan 200 mg/kg, sebelum ototoksik terjadi (sebagai pencegahan).
Hasil penelitian menunjukkan dosis terendah curcumin yaitu 100 mg/kg, dapat menurunkan ekspresi MDA pada sel fibroblast kohlea; namun penggunaan dosis yang lebih tinggi (200mg/kg) selama 7 hari dapat memberikan efek yang lebih baik. Curcumin juga dapat secara bermakna menurunkan ekspresi MDA ketika diberikan sebelum terjadi ototoksitas. Sebagai kesimpulan, curcumin dapat diberikan sebagai terapi untuk mencegah ototoksik.
Penulis: Dyah Fauziah, dr., Sp.PA.
Berikut link jurnal terkait artikel di atas:





