Perkembangan zaman tak lepas dari kesempatan mudahnya akses informasi melalui internet, salah satunya adalah akses informasi kesehatan yang dapat mendatangkan manfaat maupun kerugian. Masyarakat yang menggunakan akses tersebut dengan benar maka dapat mendatangkan manfaat, namun apabila menggunakan internet dengan salah maka dapat menyebabkan kerugian, seperti pemakaian obat yang tidak tepat. Kebiasaan penggunaan obat, terutama antibiotika, tanpa resep dokter dapat membahayakan tubuh dan selanjutnya dapat menimbulkan resistensi antibiotika, dimana terjadi kebal terhadap antibiotika.
Menurut WHO, resistensi antibiotika terjadi ketika bakteri, virus, jamur, dan parasit bermutasi dari waktu ke waktu dan tidak lagi berespons terhadap pengobatan, sehingga membuat infeksi lebih sulit diobati dan meningkatkan risiko penyebaran penyakit, termasuk penyakit yang berbahaya, hingga terjadi kematian. WHO telah menyatakan bahwa resistensi antibiotik adalah salah satu dari 10 ancaman kesehatan masyarakat global. Penyebab utama dalam pengembangan bakteri yang resisten terhadap pengobatan adalah penyalahgunaan dan penggunaan antibiotik yang berlebihan. Dampak resistensi antibiotik terhadap perekonomian sangat signifikan. Selain kematian dan kecacatan, penyakit yang berkepanjangan mengakibatkan rawat inap yang lebih lama, sehingga kebutuhan pengobatan lebih mahal.
Salah satu bakteri yang apabila mengalami resistensi menyebabkan peningkatan beban pengobatan adalah Acinetobacter baumannii. Bakteri ini dapat menyebabkan infeksi saluran kemih, infeksi luka operasi, bakteremia, pneumonia, dan meningitis, khususnya pada pasien yang memiliki sistem imun rendah pada unit perawatan intensif. Bakteri gram negatif ini adalah penyebab utama dilakukannya perawatan medis yang disebabkan karena infeksi, dan bakteri ini resisten terhadap antibiotika jenis Carbapenem, dimana hal ini merupakan salah satu ancaman global di bidang pengobatan. Bakteri Acinetobacter baumannii ini adalah salah satu bakteri yang paling sering diisolasi dalam pemeriksaan laboratorium, dan diketahui resisten terhadap banyak macam antibiotika, serta merupakan penyebab utama infeksi terutama pneumonia yang dikaitkan dengan pemakaian ventilator di rumah sakit.
Infeksi oleh Acinetobacter baumannii berada dalam daftar prioritas pertama patogen berbahaya WHO, hal ini berkaitan dengan peningkatan beban klinis, ekonomi, dan resistensi terhadap banyak obat, khususnya Carbapenem yang sebenarnya merupakan pilihan terakhir untuk pengobatan terhadap infeksi ini.
Sebuah penelitian mengenai perbandingan harga pengobatan telah dilakukan pada pasien terinfeksi Acinetobacter baumannii yang resisten Carbapenem dan sensitif Carbapenem. Studi tersebut dilakukan di Departemen Mikrobiologi, RSUD Dr. Soetomo, Surabaya Indonesia selama periode Maret 2018 hingga Februari 2021. Faktor yang dinilai adalah biaya rawat inap seperti biaya diagnostik dan biaya antibiotika. Biaya diagnostik termasuk biaya pemeriksaan radiologi dan laboratorium seperti Patologi Klinik, Patologi Anatomi, dan Mikrobiologi Klinik.
Bakteri Acinetobacter menjadi sulit dikendalikan karena penularannya melalui udara dan bertahan hidup di lingkungan yang sangat rusak. Meskipun jumlah bakteri yang sensitif Carbapenem lebih banyak dibandingkan yang resisten Carbapenem, namun hal ini tetap menjadi perhatian karena Carbapenem adalah antibiotika yang paling efektif untuk pengobatan Acinetobacter baumannii. Namun sayangnya, resistensi Carbapenem semakin mendunia. Akibat resistensi ini, penyakit akan lebih sulit disembuhkan sehingga pengobatan di rumah sakit akan semakin lama yang menyebabkan biaya rumah sakit akan meningkat bila dibandingkan dengan biaya pengobatan pasien yang sensitif terhadap Carbapenem. Selain itu, penggunaan Carbapenem yang tidak tepat juga dapat meningkatkan biaya rumah sakit.
Pada penelitian ini infeksi Acinetobacter Baumannii yang resisten terhadap pengobatan antibiotika Carbapenem menghabiskan biaya diagnostik lebih tinggi. Oleh sebab itu perlu untuk mengeksplorasi dan mengatur diagnosis dini serta identifikasi organisme menular. Perawatan dini pada akhirnya dapat membantu mengurangi beban tambahan biaya rumah sakit.
Pengendalian dan pencegahan resistensi antibiotika perlu dilakukan oleh dokter maupun tenaga kesehatan lain dengan cara mencegah infeksi dengan menjaga sanitasi, menggunakan antibiotika sesuai kebutuhan dan pedoman, melaporkan kejadian infeksi yang mengalami resistensi obat, serta edukasi kepada pasien tentang cara minum antibiotika dengan benar dan bahaya penyalahgunaannya. Tak hanya itu, masyarakat umum juga perlu edukasi yang benar mengenai penggunaan obat, sehingga tidak asal membeli di apotik dan harus sesuai dengan resep dokter. Menjaga higienitas juga tak kalah penting dalam pencegahan resistensi obat, seperti menyiapkan makanan secara higienis, mengikuti 淟ima Kunci Makanan Lebih Aman dari WHO, yaitu (1) menjaga kebersihan; (2) memisahkan makanan mentah dan matang; (3) memasak dengan matang; (4) menjaga makanan pada suhu yang aman; dan (5) menggunakan air dan bahan baku yang aman.
Penulis: Yasmeen Lashari, Maftuchah Rochmanti, Abdul Khairul Rizki Purba, Hari Basuki Notobroto, Rosantia Sarassari, Kuntaman Kuntaman.
Detail tulisan lengkap dapat dilihat:
Lashari, Y., Rochmanti, M., Purba, A. K. R., Notobroto, H. B., Sarassari, R., & Kuntaman, K. (2022). Costs for Carbapenem-Resistant versus Carbapenem-Sensitive Acinetobacter Baumannii Infections. International Journal of Health Sciences, Volume 6, Special Issue 5, Pp. 26572665.
DOI:





