Penggunaan ekstrak kulit buah kakao dalam perawatan kedokteran gigi sudah diteliti sehubungan dengan kandungan bioaktifnya. Menurut Campos-Vega et al. (2018) ekstrak kulit buah kakao memiliki aktivitas antioksidan, anti-inflamasi, anti-kariogenik dan antimikrobial. Ekstrak kulit buah kakao dapat diperoleh dengan berbagai teknik ekstraksi, antara lain menggunakan maserasi konvensional dan ekstraksi dengan ultrasonik. Proses ini memiliki pengaruh menguntungkan berupa penurunan ukuran partikel, dimana teknik ultrasonik menghasilkan penurunan ukuran partikel lebih besar daripada teknik maserasi konvensional (Chemat et al., 2017). Analisis ukuran partikel dapat dilakukan menggunakan alat particle size analyzer (PSA) yang memiliki keunggulan akurasi dan kecepatan pengukuran (Zhang et al., 2017). Proses analisis menggunakan diluen dan ada beberapa diluen yang dapat dipilih. Pada penelitian Beliciu dan Moraru (2009) dinyatakan bahwa jenis diluen dapat mempengaruhi hasil pengukuran partikel.
Ekstrak kulit buah kakao dipersiapkan dengan metode maserasi konvensional dan ultrasonik. Setelah dikeringkan, diblender dan diayak menggunakan ayakan 80 mesh; teknik konvensional (MK) dilakukan menggunakan etanol 80% selama 48 jam pada suhu kamar. Dilanjutkan dengan filtrasi dan evaporasi menggunakan evaporator pada suhu 40藲C dan 100 rpm. Teknik ultrasonik (U) dilakukan dengan metode waterbath pada frekuensi 40 kHz, daya 296 W, suhu 55藲C selama 45 menit. Dilanjutkan dengan filtrasi dan evaporasi. Selanjutnya pengukuran partikel dilakukan menggunakan PSA (Delsa Nano C, Beckman Coulter). Sampel didilusi menggunakan diluen air pada kelompok MK1 dan U1; dan diluen etanol pada kelompok MK2 dan U2. Perbandingan ekstrak dan diluen adalah 150 渭L/1 L. Uji dilakukan pada suhu 25藲C. Data yang didapat adalah rata-rata ukuran partikel.
Ekstraksi menggunakan ultrasonik menghasilkan ukuran partikel lebih kecil daripada maserasi konvensional baik pada penggunaan air maupun etanol sebagai diluennya. Hal ini disebabkan gelembung kavitasi yang terjadi pada proses ultrasonik menyebabkan efek fisik yang berakibat pada pelepasan substansi aktif dan penurunan ukuran partikel (P膬tr膬u牛anu et al, 2019). Pada teknik ultrasonik, penggunaan diluen air menghasilkan ukuran partikel rata-rata 320,8卤81,6 nm dan penggunaan etanol menghasilkan ukuran partikel rata-rata adalah 107,8卤27 nm. Pada teknik maserasi konvensional penggunaan diluen air menghasilkan ukuran rata-rata 1.689卤359 nm dan penggunaan diluen etanol menghasilkan ukuran rata-rata 221,9卤49,7 nm. Penggunaan pelarut etanol dalam metode ekstraksi menyebabkan karakter higroskopis dari ekstrak. Hal ini menyebabkan absorpsi dan pembesaran partikel saat air digunakan sebagai diluen. Perbedaan hasil terlihat sangat besar pada kelompok 1 daripada kelompok 2. Hal ini mungkin dipengaruhi kestabilan partikel yang dihasilkan dari metode ultrasonik membuat perbedaan ukuran akibat absorpsi cairan tidak terlalu besar. Diketahui dari penelitian Yue et al. (2022) bahwa kavitasi ultrasonik akan mempengaruhi sifat reologis ekstrak. Penggunaan diluen pada pengukuran menggunakan PSA berpengaruh pada hasil pengukuran. Penggunaan diluen etanol menunjukkan hasil lebih kecil dari diluen air. Ekstrak kulit buah kakao memiliki sifat higroskopis yang mungkin berpengaruh pada hasil ini.
Penulis: Drg. Anastasia Elsa Prahasti, SpKG , Prof. Dr. Tamara Yuanita, drg., MS., SpKG(K), Prof.Dr. Retno Pudji Rahayu. S.,drg., M.Kes.
Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:





