51动漫

51动漫 Official Website

Efek Nefroprotektif Rhodomyrtus Tomentosa Pada Nefrotoksisitas Yang Diinduksi 7,12-Dimetilbenz[A]Antrasena (DMBA)

sumber; Rumah Sakit Umum Citra Medika
sumber; Rumah Sakit Umum Citra Medika

Nefrotoksisitas adalah dampak buruk yang signifikan akibat paparan zat toksik, termasuk agen karsinogenik seperti 7,12-dimetilbenz[a]antrasena (DMBA), yang dapat menginduksi stres oksidatif, inflamasi, dan kerusakan jaringan ginjal. DMBA adalah hidrokarbon aromatik polisiklik yang banyak digunakan untuk menginduksi nefrotoksisitas melalui stres oksidatif, pembentukan adisi DNA, dan aktivasi sitokin pro-inflamasi, yang pada akhirnya menyebabkan cedera jaringan ginjal. Kemoterapi merupakan komponen fundamental dari pengobatan kanker; namun, pemberiannya seringkali mengakibatkan efek samping yang signifikan, termasuk nefrotoksisitas. Paparan zat berbahaya, termasuk agen karsinogenik seperti 7,12-dimetilbenz[a]antrasena (DMBA), dapat memicu stres oksidatif dan inflamasi, yang pada akhirnya mengakibatkan gagal ginjal. DMBA adalah hidrokarbon aromatik polisiklik yang diketahui menghasilkan spesies oksigen reaktif (ROS), yang merusak struktur seluler dan mengaktifkan jalur inflamasi. Aktivasi metaboliknya menyebabkan pembentukan adisi DNA dan mendorong disregulasi sitokin, yang menyebabkan cedera nefron melalui peningkatan stres oksidatif dan sinyal pro-inflamasi. Obat-obatan tertentu dapat menyebabkan gangguan ginjal jika digunakan dalam jangka panjang dan bertentangan dengan saran dan resep dokter. Sitokin mengatur aktivitas sel imun untuk mempertahankan homeostasis dalam organisme. Sirkuit sinyal sitokin terdiri dari beberapa titik pemeriksaan yang terlibat dalam proses inflamasi dan tolerogenik. Sitokin pro-inflamasi berkontribusi pada pertahanan tubuh dan respons imun terhadap potensi infeksi atau bahaya, khususnya yang menargetkan ginjal. Sitokin inflamasi berperan dalam perkembangan kanker dan hipertensi dengan memengaruhi aliran darah ginjal dan regulasi garam.

Rhodomyrtus tomentosa, yang biasa disebut ‘haramonting’ oleh masyarakat Batak di Sumatera Utara, digunakan dalam pengobatan tradisional karena sifat anti-inflamasi dan anti-stres oksidatifnya. Tanaman ini terdiri dari total 42 komponen kimia yang berbeda, termasuk floroglusinol, flavonoid, terpenoid, glikosida antrasena, dan tanin. Penelitian sebelumnya telah melaporkan bahwa senyawa yang diisolasi dari R. tomentosa, seperti rhodomyrtone dan myricetin, memiliki efek protektif dalam model cedera jaringan, termasuk hepatoproteksi dan penyembuhan luka. Namun, data yang terbatas mengenai peran nefroprotektifnya, terutama pada kondisi toksisitas ginjal yang diinduksi DMBA. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa R. tomentosa memodulasi enzim oksidatif seperti superoksida dismutase (SOD) dan malondialdehid (MDA), yang menyiratkan potensi perlindungan ginjal melalui jalur antioksidan. Rhodomyrtone, yang merupakan asil floroglusinol, telah terbukti memiliki efek antibakteri dan anti-infeksi yang kuat. Studi telah menunjukkan bahwa herba ini dapat secara efektif memulihkan jaringan plasenta yang rusak, mengatur kadar SOD dan MDA dalam sampel serum darah, dan menekan produksi berbagai protein yang terlibat dalam transduksi sinyal molekuler untuk mencegah apoptosis. Rhodomyrtus tomentosa memiliki kemampuan untuk meningkatkan produksi PDGF, IL-18, TGF尾1, MMP9, dan VEGFR, yang mengarah pada perbaikan struktur seluler kanker serviks.

Studi ini menunjukkan bahwa Rhodomyrtus tomentosa memberikan efek nefroprotektif yang signifikan pada model tikus nefrotoksisitas yang diinduksi DMBA melalui modulasi sitokin inflamasi utama, termasuk IL-6, IL-10, TGF-尾1, dan VEGFR1. Analisis docking molekuler dan dinamika molekuler mengungkapkan bahwa senyawa bioaktif dari Rhodomyrtus tomentosa, seperti Myricitrin, Myricetin, dan Corchorifatty Acid F, menunjukkan afinitas pengikatan yang beragam terhadap target protein terkait inflamasi dan kanker, termasuk IL-6, IL-10, TGF-尾1, dan VEGFR1. Interaksi ini melibatkan berbagai jenis ikatan (ikatan hidrogen, interaksi 蟺-alkil, dan interaksi 蟺-anion), yang berkontribusi pada stabilisasi kompleks protein-ligan. Simulasi dinamika molekuler menunjukkan bahwa senyawa tertentu, seperti Myricitrin dan Myricetin, meningkatkan stabilitas protein target dan mengurangi fluktuasi struktural, mendukung peran mereka dalam memodulasi jalur inflamasi dan karsinogenik. Meskipun memiliki keterbatasan seperti durasi pengobatan yang singkat, penggunaan model hewan, dan ukuran sampel yang relatif sederhana, penelitian ini menyajikan pendekatan multi-metode yang komprehensif yang mengintegrasikan identifikasi senyawa, prediksi in silico, dan validasi in vivo. Kombinasi ini memberikan dasar yang kuat untuk memahami potensi nefroprotektif Rhodomyrtus tomentosa. Temuan in vivo menunjukkan bahwa tikus yang diberi ekstrak Rhodomyrtus tomentosa menunjukkan penurunan kadar urea dan kreatinin serum, perbaikan histoarsitektur ginjal, dan modulasi ekspresi sitokin攅fek yang sebanding dengan yang diamati dengan vitamin C. Hasil ini menyoroti R. tomentosa sebagai kandidat yang menjanjikan untuk pengembangan terapi di masa mendatang, terutama sebagai tambahan nefroprotektif selama pengobatan kanker. Untuk menilai lebih lanjut relevansi klinisnya, penelitian di masa mendatang harus mencakup studi farmakokinetik, isolasi senyawa bioaktif, dan uji klinis yang dirancang dengan baik. Upaya tersebut akan sangat penting untuk menerjemahkan temuan ini menjadi aplikasi klinis yang aman dan efektif.

Link lengkap:

Penulis: Putri Cahaya Situmorang, Alexander Patera Nugraha

AKSES CEPAT