51动漫

51动漫 Official Website

Efek Perbaikan Transfersome Gel Ekstrak Kulit Pisang Kepok terhadap Photoaging pada Kulit Tikus Wistar

Efek Perbaikan Transfersome Gel Ekstrak Kulit Pisang Kepok terhadap Fotoaging pada Kulit Tikus Wistar
Sumber: Kontan

Photoaging dapat menyebabkan penuaan kulit yang disebabkan oleh radiasi ultraviolet. Penuaan kulit adalah proses biologis kompleks yang mempengaruhi penampilan kulit dan tidak dapat dihindari karena berkaitan dengan proses degeneratif kulit. Mayoritas penyebab penuaan kulit pada wajah berhubungan dengan sinar ultraviolet, salah satunya akibat pajanan sinar UVB.

Pajanan sinar UVB secara akut dapat membantu sintesis vitamin D dalam tubuh, tetapi pajanan yang berulang dapat menyebabkan gejala photoaging seperti kemerahan, kerutan, hilangnya elastisitas, kulit kendur, dan lesi prakanker. Gejala photoaging berdampak pada kehidupan sosial seseorang karena gejala tersebut mempengaruhi penampilannya saat berinteraksi dengan orang lain. Radiasi UVB secara langsung dapat merusak DNA, meningkatkan reactive oxygen species (ROS) dan menurunkan aktivitas enzim antioksidan. Stres oksidatif akibat ROS dapat memicu peroksidasi lipid yang ditandai dengan peningkatan malondialdehyde (MDA), pengaktifan activator protein-1 (AP-1) dan nuclear factor kappa B (NF-魏B) yang merangsang produksi tumor necrosis factor-伪 (TNF-伪), dan penurunan transforming growth factor-尾 (TGF-尾). Mekanisme ini menyebabkan ketidakteraturan serat kolagen. Oleh karena itu, diperlukan tanaman alami yang memiliki aktivitas antioksidan dan dapat dijadikan alternatif pengembangan produk anti penuaan kulit, salah satunya kulit pisang kepok (Musa balbisiana) yang belum banyak dimanfaatkan sebagai obat.

Kulit pisang mengandung flavonoid, katekolamin, karotenoid, eugenol yang berkhasiat menghilangkan jerawat, mencerahkan kulit, mengurangi bengkak, melembabkan kulit dan menyamarkan bekas jerawat. Kulit pisang mengandung senyawa flavonoid yang berpotensi sebagai antioksidan. Kulit pisang berperan dalam penyembuhan luka dengan aktivitas antioksidan kuat, dengan konsentrasi yang diberikan masih cukup tinggi yaitu 12,5%, 25%, dan 50%. Kulit pisang kepok (Musa balbisiana) mempunyai senyawa flavonoid yang berpotensi mencegah photoaging. Namun, sifat fisikokimia flavonoid yang tidak stabil, berat molekul tinggi dan mudah teroksidasi menyebabkan penggunaannya masih terbatas. Kondisi ini menyebabkan pengiriman transdermal untuk menembus kulit menjadi tidak efisien. Oleh karena itu, diperlukan penelitian lebih lanjut untuk meningkatkan permeasi ekstrak kulit pisang kepok (Musa balbisiana) ke dalam kulit.

Penelitian yang kami lakukan bertujuan untuk mengembangkan sediaan alternatif dari ekstrak kulit pisang kepok (Musa balbisiana) yaitu gel transfersom, sehingga diharapkan sediaan ini dalam pemberian topikal dapat bertindak secara sinergis dan efisien untuk mencegah efek photoaging akibat pajanan UVB. Transfersom merupakan pengembangan dari liposom dan lebih efektif dalam menghantarkan zat aktif melalui kulit karena kemampuannya yang fleksibel untuk berubah bentuk ketika melewati pori-pori kecil, tanpa merusak ukuran dan bentuk awal, sehingga memudahkan penetrasi obat ke dalam kulit dan meningkat. penyerapan bahan aktif. Formulasi transfersom dapat diaplikasikan dalam bentuk sediaan semipadat, seperti gel transdermal, yang mudah diaplikasikan dan memiliki daya serap lebih baik secara perkutan karena memiliki kandungan air yang tinggi sehingga dapat melembabkan kulit dan mudah menyebar saat diaplikasikan. Sehingga, pada penelitian ini dilakukan karakterisasi nanopartikel pada sediaan gel transfersom ekstrak kulit pisang kepok (Musa balbisiana). Selain itu, kami mengidentifikasi efek perbaikan dari pemberian gel transfersom ekstrak kulit pisang kepok (Musa balbisiana) pada derajat kerutan kulit, penebalan epidermis, penipisan dermis dan ketidakteraturan serat kolagen. Dan, untuk memahami mekanisme perbaikan tersebut, kami mengevaluasi ekspresi MMP-1 dan ekspresi TGF-尾, kadar MDA dan kadar TNF伪 pada kulit tikus wistar yang mengalami photoaging akibat pajanan UVB.

Penelitian ini menggunakan tiga puluh ekor tikus jantan strain Wistar berumur 10 minggu dengan berat badan 150-250 gram yang dibagi secara acak menjadi 5 kelompok perlakuan, masing-masing kelompok berjumlah 6 ekor tikus, yaitu kelompok Kontrol (kelompok tikus yang tidak dipajan UVB dan tanpa diberi gel), kelompok UVB (kelompok tikus yang dipajan UVB dan diberi gel placebo), kelompok UVB+Mb 2% (kelompok tikus yang dipajan UVB dan diberi gel transfersom Musa balbisiana 2%), kelompok UVB+Mb 4% (kelompok tikus yang dipajan UVB dan diberi gel transfersom Musa balbisiana 4%), kelompok UVB+Mb 8% (kelompok tikus yang dipajan UVB dan diberi gel transfersom Musa balbisiana 8%). Permukaan kulit punggung tikus dicukur seluas 5×5 cm2 dan dibiarkan tidak berbulu selama masa penelitian. Frekuensi pajanan UVB selama tiga kali seminggu selama empat minggu, menggunakan lampu UVB Phillips yang memancarkan radiasi dengan panjang gelombang 290-320nm. Total dosis pajanan UVB mencapai 840 mJ/cm2. Kulit punggung tikus diolesi gel transfersom ekstrak kulit pisang kepok (Musa balbisiana) secara merata tiga kali seminggu selama empat minggu. Kulit punggung tikus difoto menggunakan kamera. Derajat kerutan dievaluasi dan diukur melalui perangkat lunak ImageJ 1.53e. Di akhir penelitian, tikus dikorbankan menggunakan metode dislokasi leher dan jaringan kulit dikumpulkan untuk analisis lebih lanjut, yaitu pengamatan histologis ketebalan epidermis dan dermis, kepadatan serat kolagen, evaluasi ekspresi MMP-1 dan ekspresi TGF-尾, pengukuran kadar MDA dan kadar TNF伪. Hasil statistik analisis varians satu arah (ANOVA) dan uji post hoc Tukey digunakan untuk menganalisis perbedaan antar kelompok dengan tingkat signifikansi p<0,05.

Karakterisasi nanopartikel dari gel transfersom ekstrak kulit pisang kepok (Musa balbisiana) menggunakan alat transmission electron microscopy (TEM HT 7700) dan hasilnya terbukti bahwa sediaan ini merupakan sediaan nanopartikel. Gel transfersom ini memiliki ukuran partikel antara 1-100 nm dan mempunyai bentuk bulat dengan log-normal distribusi diameter sebesar 卤 50nm.

Manifestasi proses penuaan akibat pajanan langsung sinar ultraviolet berupa kulit kasar, keriput dan kendur. Dalam penelitian ini, kami membuktikan pengaruh gel transfersom ekstrak kulit pisang kepok (Musa balbisiana) terhadap pajanan sinar UVB. Secara makroskopis, pemberian gel transfersom ekstrak kulit pisang kepok (Musa balbisiana) menunjukkan perbaikan kerutan pada permukaan kulit.

Evaluasi ketebalan epidermis menunjukkan bahwa gel transfersom ekstrak kulit pisang kepok (Musa balbisiana) mampu mengurangi ketebalan epidermis kulit akibat pajanan sinar UVB. Ketebalan epidermis merupakan parameter histologi yang berperan dalam pembentukan kerutan dan tingkat kerusakan kulit akibat pajanan sinar UVB. Sementara itu, pemberian gel transfersom ekstrak kulit pisang kepok (Musa balbisiana) dapat berpotensi sebagai antiinflamasi dan antioksidan pada photoaging karena mengandung flavonoid. Sedangkan, evaluasi ketebalan dermis menunjukkan bahwa gel transfersom ekstrak kulit pisang kepok (Musa balbisiana) dapat memperbaiki ketidakteraturan jaringan pada lapisan dermis.

Penuaan ekstrinsik pada kulit akibat pajanan sinar UVB dapat memicu ketidakseimbangan antara sintesis dan degradasi kolagen, sehingga mengakibatkan penurunan jumlah kolagen. Kolagen dapat langsung terdegradasi oleh pajanan sinar UVB dan menyebabkan kerutan. Pada evaluasi densitas kolagen menunjukkan bahwa gel transfersom ekstrak kulit pisang kepok (Musa balbisiana) dapat mempengaruhi keteraturan kolagen dan meningkatkan jumlah kolagen pada lapisan dermis.

MMP-1 berkontribusi terhadap degradasi kolagen. ROS mengaktifkan mitogen activated protein kinase (MAPK) dan menyebabkan peningkatan AP-1. AP-1 menginduksi sintesis dan ekspresi MMP-1 yang menyebabkan degradasi kolagen pada jaringan kulit. Penelitian ini menunjukkan gel transfersom ekstrak kulit pisang kepok (Musa balbisiana) secara signifikan dapat menghambat peningkatan ekspresi MMP-1. Hasil ini berkorelasi dengan pemeriksaan makroskopis dan histologis, di mana gel transfersom ekstrak kulit pisang kepok (Musa balbisiana) secara signifikan dapat meningkatkan densitas kolagen, menghambat ketebalan epidermis, dan mengurangi pembentukan kerutan dan eritema. Sintesis kolagen ditingkatkan melalui aktivasi TGF-尾 melalui jalur TGF-尾 /Smad. Pajanan UVB dapat mengganggu TGF-尾 sehingga mengurangi sintesis prokolagen tipe 1 dan menyebabkan penurunan jumlah kolagen pada lapisan dermis. Sehingga, pada penelitian ini juga menunjukkan bahwa pajanan UVB dapat mengurangi ekspresi TGF-尾, dan pemberian gel transfersom ekstrak kulit pisang kepok (Musa balbisiana) dapat memperbaiki dengan meningkatkan ekspresi TGF-尾.

Patogenesis photoaging akibat pajanan sinar UVB dikaitkan dengan peningkatan stres oksidatif. MDA adalah biomarker penting dari stres oksidatif dan digunakan untuk mengevaluasi terjadinya preoksidasi lipid. Lebih lanjut, proses ini dapat meningkatkan ekspresi sitokin inflamasi yaitu TNF-伪 pada jaringan kulit. Pajanan UVB pada tikus menyebabkan peningkatan aktivitas MDA. Sedangkan, TNF-伪 yang dilepaskan setelah pajanan UVB dapat menginduksi kolagenase (MMP-1) dan menyebabkan penuaan kulit. Pada penelitian ini gel transfersom ekstrak kulit pisang kepok (Musa balbisiana) secara signifikan dapat mengurangi kadar MDA dan TNF-伪 akibat pajanan UVB.

Pemberian gel transfersom ekstrak kulit pisang kepok (Musa balbisiana) dapat memberikan hasil yang signifikan dalam mengurangi pembentukan kerutan, memperbaiki ketebalan epidermis dan dermis, meningkatkan kepadatan serat kolagen, menurunkan ekspresi MMP-1 dan meningkatkan ekspresi TGF-尾, menurunkan kadar MDA dan TNF-伪 yang secara keseluruhan menunjukkan bahwa gel transfersom ekstrak kulit pisang kepok (Musa balbisiana) dapat menghambat klinis photoaging akibat pajanan sinar UVB. Konsentrasi yang paling optimal dalam penelitian ini adalah konsentrasi 8%.

Penulis: Elly Mayangsari, Arifa Mustika, Nurdiana Nurdiana, Nozlena Abdul Samad

Link:

Baca juga: Ekstrak Polong Okra Merah Mencegah Kerusakan Sel Ginjal

AKSES CEPAT