51动漫

51动漫 Official Website

Efektifitas Edukasi Berbasis Self-Efficacy untuk Penguatan Perilaku Perawatan Kaki pada Pasien Diabetes Mellitus

Foto oleh hz.de

Tingginya insiden cedera kaki akibat diabetes mellitus (DM) telah banyak dilaporkan. Kondisi ini memiliki beberapa penyebab, antara lain kecenderungan penderita DM untuk mengabaikan manajemen perawatan kaki, padahal mengetahui dampaknya. Ketidaktahuan oleh individu merupakan faktor penting yang dikaitkan dengan kondisi ini. Oleh karena itu, perlu adanya self efficacy (SE) untuk meningkatkan dan memperkuat perilaku. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis signifikansi pendidikan berbasis self-efficacy dalam memperkuat perilaku perawatan kaki pada pasien DM. Penelitian menggunakan one group pre-post test design, jumlah populasi 112 responden. Besar sampel 51 responden dipilih dengan menggunakan purposive sampling. Instrumen yang digunakan adalah Notthingham Assessment of Functional Footcare (NAFF). Penelitian ini menggunakan efikasi diri dan perilaku perawatan kaki sebagai variabel bebas dan terikat. Data dianalisis menggunakan uji bertanda Wilcoxon (飦 = 0,05). Hasil penelitian ini sebelum pendidikan berdasarkan efikasi diri responden dikategorikan sebagai berikut, perilaku baik 6 (11,7%), perilaku sedang 38 (74,5%), dan perilaku buruk 6 (11,8%). Setelah pendidikan 2 minggu berdasarkan efikasi diri, 47 (92%), 3 (6%) dan 1 (2%) responden masing-masing memiliki perilaku baik, sedang dan buruk. Berdasarkan hasil uji Wilcoxon, pemberian efikasi diri pada penderita DM meningkatkan perilaku perawatan kaki.

Ulkus Kaki Diabetik (DFU) merupakan salah satu komplikasi DM yang paling sering menjadi penyebab utama banyaknya rawat inap yang salah satu penyebabnya adalah perilaku perawatan kaki yang tidak tepat dan konsisten yang dapat mengakibatkan amputasi pada ekstremitas bawah. Perilaku perawatan kaki yang terabaikan terutama oleh orang dewasa dan lansia, penguatan efikasi diri akan meyakini bahwa perawatan kaki merupakan salah satu cara terbaik untuk meningkatkan kesadaran penderita diabetes sehingga mampu secara konsisten melakukan perilaku perawatan kaki. Faktor penentu dalam mewujudkan perilaku adalah efikasi diri, yaitu keyakinan seseorang terhadap kemampuannya untuk melakukan perilaku yang perlu dilakukan untuk mencapai tujuan, tugas, dan tantangan. Self-efficacy menggambarkan interaksi antara faktor perilaku, pribadi, dan lingkungan yang mempengaruhi penderita diabetes mellitus dalam melakukan perilaku kesehatan. Orang dengan efikasi diri yang tinggi meyakini bahwa mampu mengerjakan tugas yang sulit dengan baik sebagai sesuatu yang harus dikuasai bukanlah sesuatu yang harus dihindari. Terdapat 463 juta penderita diabetes di seluruh dunia pada tahun 2019, yang didominasi oleh 463 juta penderita diabetes pada usia 20-79 tahun dan diprediksi pada tahun 2045 akan terjadi peningkatan sebesar 51% atau 700 juta orang menurut International Diabetes Fenderation (IDF,2019). Indonesia merupakan negara yang menempati urutan ke-7 dari 10 besar dengan 10 juta penderita diabetes melitus hingga tahun 2019, dengan urutan pertama adalah China dengan >100 juta orang. Provinsi Jawa Timur sebanyak 2,6% atau 113.045 penderita diabetes, didominasi usia 15 tahun. Kota Surabaya menunjukkan penurunan potensi dari tahun 2013 sebesar 4,9% dan pada tahun 2018 sebesar 4,5%. Berdasarkan data yang diperoleh dari Puskesmas Pucang Sewu Surabaya, jumlah penderita Diabetes Mellitus Tipe 2 di Puskesmas Pucang Sewu Surabaya pada tahun 2018 sebanyak 362 pasien. Berdasarkan data yang diperoleh menunjukkan bahwa kejadian Diabetes Mellitus Tipe 2 paling banyak terjadi pada pria dan wanita pada usia 56 sampai 70 tahun. Sementara itu, data yang peneliti dapatkan dari Puskesmas Pucang Sewu Surabaya pada Januari 2020 menunjukkan hasil 177 penderita diabetes melitus. Komplikasi yang paling sering dialami oleh penderita DM adalah terjadinya luka kaki diabetik, kejadian ini berawal dari adanya kadar glukosa yang tinggi dalam darah yang merusak pembuluh darah tepi kaki. Salah satu upaya pencegahan cedera kaki adalah dengan melakukan pencegahan dan perawatan kaki secara mandiri dan rutin. Perilaku perawatan kaki sudah menjadi sesuatu yang harus dilakukan sebagai bentuk pencegahan, walaupun ada berbagai cara untuk mencegah terjadinya ulkus pada penderita diabetes. Cara-cara tersebut antara lain membersihkan kaki setiap hari, mengeringkannya setelah basah di sela-sela kaki, mengoleskan pelembab, memotong kuku langsung ke bentuk kaki yang normal, memakai alas kaki. Kegiatan pencegahan dan perawatan kaki yang harus dilakukan setiap hari oleh pasien DM, dari tentunya sering menimbulkan kebosanan dan kebosanan terutama bagi pasien yang masih produktif dan masih bekerja, tentunya diperlukan berbagai upaya penunjang untuk memperkuat baik kondisi psikologis, sistem pendukung maupun penunjang lainnya, sehingga perilaku ini dapat dilakukan dengan lancar tanpa ada hambatan. Telah banyak diberitakan bahwa meningkatnya angka kejadian cedera kaki orang dewasa karena melakukan perawatan kaki secara rutin pada pasien perilaku. Pola budaya dan pengetahuan yang berbeda pada setiap daerah di Indonesia menyebabkan perilaku pasien DM disetiap daerah berbeda, pengaruh faktor budaya dan keluarga juga membuat pengalaman pasien mengalami penurunan atau peningkatan efikasi diri, sehingga menyebabkan angka kejadian ulkus kaki akibat diabetes di Indonesia meningkat. Salah satu upaya penguatan perilaku perawatan kaki adalah dengan memberikan self efficacy. Tenaga kesehatan sebagai pendidik dan dapat melakukan upaya penyuluhan dapat menggunakan konsep berbasis efikasi diri yang dikembangkan sebagai program intervensi kesehatan bagi penderita diabetes. Penguatan efikasi diri penderita DM dapat meningkatkan dan mengubah perilaku perawatan kaki yang lebih baik sehingga dapat mencegah komplikasi yang akan terjadi. Beberapa penelitian di luar menunjukkan bahwa efikasi diri dapat meningkatkan perilaku perawatan kaki dan terbukti dapat menurunkan angka cedera kaki hingga 85%. Oleh karena itu, diperlukan penelitian lebih lanjut tentang bagaimana efikasi diri dapat meningkatkan perilaku perawatan kaki di Indonesia. Efikasi diri merupakan keyakinan individu akan kemampuan untuk melakukan kontrol atas berbagai fungsi diri dan penemuan di lingkungan mereka. Kemampuan individu untuk menggerakkan motivasi, sumber daya kognitif dan tindakan yang diperlukan untuk memenuhi tuntutan yang dihadapi. Khasiat mengacu pada keyakinan bahwa seorang individu mampu memperkirakan kemampuannya dalam melaksanakan tugas untuk mencapai hasil yang diharapkan. Khasiat selalu berkembang secara terus menerus dalam diri pribadi.

Sejalan dengan kemampuan dan banyaknya pengalaman atau peristiwa yang dialaminya dalam menyadari, menerima, dan bertanggung jawab atas potensi yang dimiliki, keterampilan yang sesuai dalam mencapai perilaku dalam mencapai tujuan tertentu. Efikasi diri yang tinggi seseorang dipengaruhi oleh motivasi, emosi dan pengalaman yang pernah dialami atau dialami oleh orang lain. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pendidikan berbasis efikasi diri terhadap perilaku perawatan kaki penderita DM dalam mencegah cedera kaki.

Pemberian edukasi perawatan kaki berbasis efikasi mampu meningkatkan rasa percaya diri, kepercayaan dan pengetahuan pasien diabetes, sehingga dapat meningkatkan dan memantapkan perilaku perawatan kaki dengan baik. individu dalam melakukan perilaku perawatan kaki diabetes, membentuk persepsi yang kuat dan baik untuk mendukung dan memperkuat perilaku penderita DM serta mencegah terjadinya cedera kaki diabetes.

Penulis: Nuh Huda, Nursalam, Tintin Sukartini, Qori Ila Saidah, Dwi Priyantini

Link Artikel:

AKSES CEPAT