Secara global, tren penggunaan rokok elektrik semakin meningkat sepanjang tahun. Peralihan tersebut merupakan bentuk alibi mengganti nikotin dalam tembakau rokok konvensional yang dirasa berbahaya bagi kesehatan dan lingkungan. Padahal bahaya yang sama juga mengintai perokok elektrik. Penggunaan produk tersebut akan mengaktifkan enzim yang memetabolisme efek karsinogen dan stres oksidatif. Hal tersebut berperan utama dalam mendorong patogenesis kronis, inflamasi, dan penyakit degeneratif seperti obstruktif kronik penyakit paru, dan kanker. Secara nyata, dampak paparan asap rokok elektrik tersebut juga berbahaya bagi hewan peliharaan yang ada disekitarnya. Paparan asap tersebut berperan dalam timbulnya penyakit pada hewan peliharaan termasuk kanker rongga hidung/mulut, dermatitis, dan penyakit pernapasan. Apalagi paparan asap rokok terbukti mempengaruhi profil hematologi tikus (Rattus Norvegicus) dalam penelitian sebelumnya.
Dalam mencegah inflamasi dari paparan rokok, bahan aktif sangat diperlukan. Salah satunya adalah bawang putih dan olahan turunannyayang telah lama digunakan dalam pengobatan tradisional. Bawang putih dikenal sebagai antioksidan, antitumor, antibakteri, dan antijamur. Senyawa antioksidan pada bawang putih tunggal (singlebulb) dinilai lebih baik dibandingkan kandungan antioksidan pada jenis bawang putih lainnya. Oleh karena itu tim peneliti melakukan pemberian oral ekstrak bawang putih umbi tunggal di tikus Sprague Dawley jantan yang diinduksi rokok elektrik untuk mempelajari pengaruh profil hematologi.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah posttest acak hanya desain kelompok kontrol. Dua puluh empat ekor tikus dibagi secara acak menjadi enam kelompok. Kelompok itu terdiri C (-) sebagai kontrol tikus normal; C (+) hanya terpapar asap rokok elektrik; T1 terpapar asap rokok elektrikdan diobati dengan vitamin C; T2 terpapar rokok elektrik dan diobati dengan ekstrak bawang putih umbi tunggal 75 mg/kg berat badan; T3 terpapar rokok elektrik dan diobati dengan ekstrak bawang putih umbi tunggal 100 mg/kg BB; dan T4 terpaparke rokok elektrik dan diolah dengan ekstrak bawang putih umbi tunggal 125 mg/kg BB. Pemberian paparan asap rokok dilakukan dengan menguapkan cairan ke dalam kamar gas dengan dosis nikotin 3,6 mg/ml. Semua perawatan diberikan selama 14 hari. Pada hari ke-15, tikus dieuthanasi.
Pengambilan sampel darah dilakukan oleh metode pungsi jantung dan diperiksa menggunakan hematology analyzer yang dianalisis dengan ANOVA. Data yang diperoleh menunjukkan peningkatan white blood count (WBC), jumlah eritrosit, dan kadar hemoglobin. Hasil dari penelitian ini adalah ekstrak bawang putih meningkatkan kekebalan tubuh. Allicin, senyawa yang bisa ditemukan dalam bawang putih umbi tunggal, mampu menjadi antioksidan bertindak sebagai antioksidan. Selain itu, ekstrak bawang putih umbi tunggal mampu meningkatkan sistem imun pada tubuh tikus. Namun, pemberian dosis yang lebih tinggi dapat menjadi racun bagi eritrosit.
Penulis: Maya Nurwartanti Yunita, drh., M.Si.
Artikel lengkap telah diterbitkan pada:
Yunita MN, Fauzi JC, Rahmania ZD, Safinda B, Sholikhah TI, Agustono B, et al. . Pharmacognosy Journal. 2023;15(3):296-300. DOI:





