51¶¯Âþ

51¶¯Âþ Official Website

Efektivitas Asesmen Autentik dalam Pembelajaran Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan

Abad ke-21 disebut sebagai abad pengetahuan, abad ekonomi berbasis pengetahuan, abad teknologi informasi, globalisasi, revolusi industri 4.0, dan sebagainya (Rosnaeni, 2021). Kerangka kerja abad ke-21 menyediakan strategi untuk mengidentifikasi keterampilan yang harus diperoleh siswa untuk memasuki dunia kerja di masa depan. Oleh karena itu, pendidik bertugas untuk menganalisis apakah kompetensi dan pembelajaran saat ini dirancang untuk mencapai hal tersebut. Peserta didik perlu dibekali dengan keterampilan abad 21 yakni keterampilan belajar (kreativitas, inovasi, berpikir kritis, pemecahan masalah, komunikasi, dan kolaborasi), keterampilan literasi (literasi informasi, literasi media, dan literasi TIK), dan kecakapan hidup (fleksibilitas dan adaptasi; inisiatif dan pengarahan diri; keterampilan sosial dan antarbudaya; produktivitas dan akuntabilitas; kepemimpinan dan tanggung jawab) (GonzálezPérez & Ramírez-Montoya, 2022). Proyeksi pendidikan abad 21 adalah untuk menyiapkan peserta didik menghadapi dunia nyata dan mampu berkontribusi di dalamnya. Pembelajaran dan asesmen yang dilakukan harus mampu mengakomodir apa yang dibutuhkan oleh peserta didik untuk menghadapi tantangan di masa depan. Perubahan paradigma pendidikan dari teacher-centered menjadi student-centered diharapkan mampu meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia (Suhartawan et al., 2018). Segala proses pembelajaran yang ada di kelas perlu mengalami perubahan termasuk asesmen yang seharusnya menjadi lebih bermakna baik bagi peserta didik maupun guru. efektif berupa asesmen autentik yang dilakukan secara formatif dan mempunyai banyak manfaat bagi guru maupun peserta didik. Namun, terdapat beberapa tantangan yang perlu untuk diantisipasi oleh para guru agar proses penerapan di kelas bisa berjalan dengan optimal.

Ekosistem pendidikan perlu bertransformasi dari era asesmen tradisional ke era asesmen alternatif yang sesuai dengan kebutuhan pembelajaran abad ke 21. Çalýþkan & Kaþýkçý (2010) mengungkapkan bahwa asesmen alternatif adalah sebuah pendekatan yang berpusat pada peserta didik dan berfokus pada tingkat penerapan pengetahuan dan keterampilan dalam kehidupan nyata, serta mempertimbangkan karakteristik dari peserta didik. Asesmen tradisional hanya mempertimbangkan perilaku di bidang kognitif. Namun, asesmen alternatif juga mengamati perkembangan di bidang afektif dan psikomotorik. Pada era pembelajaran yang semakin maju, guru perlu memahami sepenuhnya dan menghadirkan konsep asesmen yang mampu mengoptimalisasi pembelajaran di kelas. Penelitian Poerwanti (2012) menemukan bahwa para guru belum memahami dan belum menerapkan asesmen autentik dengan benar. Guru masih cenderung lebih banyak menggunakan cara asesmen tradisional karena guru masih sedikit mengikuti pelatihan terkait asesmen yang lebih bermakna. Marhaeni (2015) menyebutkan bahwa asesmen disebut bermakna jika siswa memahami apa yang telah dicapainya dan apa yang perlu ditingkatkan sehingga para siswa akan terpacu untuk terus meningkatkan kemampuan serta keterampilannya. Asesmen bermakna tersebut berupa asesmen autentik yang dilaksanakan pada Kurikulum 2013 dan peneliti melakukan pengembangan instrumen asesmen autentik. Peneliti masih perlu untuk melakukan uji publik sebelum nantinya siap digunakan di sekolahsekolah. menguatkan dalam hasil penelitiannya bahwa pelaksanaan asesmen perlu diubah dari yang awalnya konvensional menjadi asesmen yang lebih holistik dan lebih nyata.

Asesmen tersebut adalah asesmen autentik karena hasil asesmen autentik dapat memberi gambaran sesungguhnya terhadap kemampuan siswa. Penelitian dari Adnan et al. (2019) mengungkapkan bahwa para guru SMA belum sepenuhnya melakukan asesmen autentik dan integratif dengan seutuhnya karena belum memiliki instrumen penilaiannya seperti rubrik maupun lainnya. Bahkan Rosidah et al. (2021) masih menemukan hasil yang hampir sama di tempat lain bahwa sebanyak 48% guru di Kecamatan Gondang telah memahami asesmen autentik dan 52% di antaranya menyatakan kurang siap dalam mengimplementasikannya di kelas pada Kurikulum Merdeka. Pada penelitian tersebut, sudah diulas teknik dan instrumen asesmen yang bisa digunakan di kelas. Penelitian tersebut belum menjelaskan asesmen seperti apa yang bisa membantu proses pembelajaran baik guru maupun peserta didiknya. Dari beberapa penelitian di atas, guru cenderung lebih memperhatikan pada aspek administratif berupa instrumen daripada bagaimana penerapannya yang efektif bagi perkembangan peserta didik. Penelitian dari Mohamed & Lebar (2017) mengungkapkan bahwa apabila asesmen autentik dilaksanakan dengan baik dengan melibatkan tugas berbasis kinerja akan mampu mendorong peserta didik untuk menggunakan HOTS (Higher Order Thinking Skill). Penerapan asesmen autentik penting bagi guru karena dapat memberikan gambaran seutuhnya akan pencapaian atau kemajuan peserta didik. Guru bisa mengetahui kelemahan dan kekuataan peserta didiknya yang bisa digunakan untuk perbaikan proses pembelajaran (Mustikarani & Ruhimat, 2018). Bahasan mengenai asesmen yang bermakna sudah dilakukan sejak Kurikulum 2013 sampai Kurikulum Merdeka. Bagaimana penerapan asesmen tersebut di kelas masih perlu untuk dibahas lebih dalam agar ke depannya mampu memberikan manfaat baik bagi guru maupun peserta didik. Oleh sebab itu, tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis asesmen pembelajaran bermakna dan efektif yang diterapkan di kelas.

Penelitian ini menggunakan metode Narrative Literature Review (Baumeister & Leary, 1997). Peneliti mencari artikel di beberapa situs database seperti Garuda, Scopus, Science Direct dan Web of Science dengan cara memberikan batasan pencarian dari tahun 2012 sampai 2022 dan subyek atau scope yang dipilih adalah ˜education™, ˜social science™ serta ˜psychology™. Kata kunci yang digunakan untuk pencarian tersebut adalah ˜asesmen autentik™, ˜authentic assessment™, ˜formatif asesmen™, ˜formative assessment™, ˜sumatif asesmen™, ˜summative assessment™, ˜meaning ful assessment™ dan ˜effective assessment™. Dari hasil pencarian di beberapa data base, didapatkan 9 artikel yang telah dipilih sesuai dengan kriteria yang ditetapkan. Kriterianya adalah penelitian yang dilakukan dalam waktu 10 tahun terakhir, dilakukan pada jenjang SD hingga SMA sederajat dan penelitian mengkaji asesmen pembelajaran bermakna yang meliputi asesmen alternatif maupun asesmen autentik.

Dari hasil asesmen yang perlu diterapkan dalam lingkungan kelas untuk bisa men jawab tantangan pendidikan abad 21 adalah asesmen pembelajaran bermakna yang efektif yakni asesmen autentik yang bersifat lebih formatif. Asesmen formatif lebih berfokus pada proses pencapaian tujuan pembelajaran daripada asesmen sumatif yang berfokus pada hasil akhir pembelajaran. Banyak manfaat yang akan didapatkan baik oleh peserta didik maupun guru dalam penerapannya di kelas. Namun, perlu diantisipasi oleh guru terkait tantangan yang dihadapi sehingga asesmen yang akan diterapkan di kelas bisa berjalan dengan optimal. Saran yang perlu dipertimbangkan adalah asesmen pembelajaran bermakna yang efektif membutuhkan persiapan dan kesiapan guru yang lebih banyak. Dari segi waktu perencanaannya yang otomatis perlu dilakukan dari awal pembelajaran hingga asesmen dilaksanakan. Termasuk di dalamnya instrumen penilaian yang akan digunakan harus sudah siap sejak awal pembelajaran. Dari peserta didik yang banyak, guru perlu mempersiapkan strategi pembelajaran serta asesmen yang tepat agar lebih berdaya dalam penerapannya. Guru juga perlu meningkatkan kemampuan dalam manajemen kelasnya, mendesain pembelajaran serta asesmen dan pembuatan instrumen penilaian, terutama rubrik yang membutuhkan rincian kriteria penilaian.

Penulis: Nono Hery Yoenanto

Jurnal: Efektivitas Asesmen Autentik dalam Pembelajaran The Effectiveness of Authentic Assessment in Learning

AKSES CEPAT