Stroke masih menjadi penyebab kematian kedua terbanyak di dunia. Berdasarkan data terbaru dari World Stroke Organization (WSO), angka kematian akibat stroke meningkat dari 5,5 juta jiwa pada tahun 2020 menjadi 6,5 juta jiwa pada tahun 2022. Tak hanya itu, sekitar 12,2 juta kasus stroke baru terjadi setiap tahunnya, menjadikannya tantangan global dalam dunia kesehatan. Dari berbagai jenis stroke, stroke hemoragik intrakranial merupakan yang paling destruktif, dengan perdarahan pada talamus dikenal memiliki prognosis terburuk.
Talamus, yang terletak di bagian dalam dasar otak, menjadi lokasi yang sangat sulit dijangkau dalam prosedur evakuasi darah. Lokasi ini berada di sekitar struktur-struktur otak yang sangat penting dan dalam, sehingga tindakan pembedahan menjadi sangat berisiko. Salah satu pendekatan bedah yang semakin diperhatikan dalam dekade terakhir adalah bedah minimal invasif atau Minimally Invasive Surgery (MIS). Namun demikian, masih terjadi perdebatan di kalangan ahli bedah saraf terkait efektivitas dan keamanannya. Ada anggapan bahwa MIS kurang efektif dalam mengangkat hematoma secara menyeluruh dibanding prosedur konvensional seperti kraniotomi atau External Ventricular Drainage (EVD), dan dapat meningkatkan risiko perdarahan ulang (rebleeding).
Sebelumnya, beberapa studi meta-analisis telah dilakukan untuk membandingkan MIS dengan prosedur konvensional, tetapi fokusnya masih terbatas pada kasus stroke supratentorial atau hematoma subdural kronis. Hingga saat ini, belum ada kajian komprehensif yang secara khusus membahas kasus stroke hemoragik yang terlokalisasi di talamus.
Untuk memberikan kontribusi dalam bidang ini, sebuah kajian sistematis dan meta-analisis dilakukan oleh Pramatya dkk (2025) dari 51动漫. Penelitian yang telah diterbitkan dalam jurnal Neurosurgical Review oleh Springer Nature ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas dan keamanan prosedur bedah minimal invasif dibandingkan prosedur konvensional pada pasien dengan stroke hemoragik di area talamus.
Penelitian ini dilakukan sesuai pedoman PRISMA 2020, dengan protokol yang telah didaftarkan di PROSPERO (CRD42024532130). Kajian dilakukan melalui penelusuran literatur yang komprehensif di berbagai basis data utama seperti PubMed, Scopus, Web of Science, Sage, Taylor and Francis, dan Preprints pada bulan Agustus 2024. Dari hasil pencarian, diperoleh 2798 artikel, yang setelah melalui proses seleksi ketat, dipilih 10 artikel yang memenuhi kriteria inklusi untuk dianalisis lebih lanjut.
Dalam penelitian ini, dilakukan analisis statistik menggunakan perangkat lunak RevMan 5.1. Analisis mencakup perbandingan prognosis, angka kematian, risiko perdarahan ulang, dan lama rawat inap antara pasien yang menjalani prosedur MIS dengan yang menjalani prosedur konvensional. Risiko relatif (risk ratio/RR) digunakan untuk data prognosis dan kematian, sedangkan perbedaan rata-rata (mean difference/MD) digunakan untuk menganalisis durasi rawat inap.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum, prosedur MIS memberikan hasil yang lebih baik dibanding prosedur konvensional. Dalam aspek prognosis, MIS menunjukkan peningkatan yang signifikan baik pada studi uji klinis maupun observasional, dengan RR masing-masing sebesar 0,68 [0,550,84] dan 0,57 [0,460,71]. Ini berarti pasien yang menjalani MIS memiliki peluang lebih tinggi untuk pulih dengan baik.
Dari segi angka kematian, MIS juga terbukti menurunkan mortalitas secara signifikan. Pada studi klinis, RR untuk kematian pada kelompok MIS adalah 0,47 [0,330,66]. Artinya, risiko kematian lebih rendah hampir 50% dibandingkan dengan pasien yang menjalani prosedur konvensional. Baik teknik stereotaktik maupun endoskopik menunjukkan manfaat ini. Teknik endoskopik bahkan tercatat memiliki RR 0,37 [0,180,75] dibanding EVD.
Namun, hasil yang berbeda ditunjukkan dalam hal risiko perdarahan ulang. Kajian ini menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan signifikan antara kelompok MIS dan prosedur konvensional, dengan RR sebesar 1,15 [0,452,90] dalam uji klinis dan 0,76 [0,41,43] dalam studi observasional. Meski demikian, teknik endoskopik dalam MIS menunjukkan potensi penurunan risiko rebleeding bila dibandingkan dengan EVD (RR: 0,65 [0,331,27]).
Keunggulan lain dari MIS yang tak kalah penting adalah pemendekan lama rawat inap di rumah sakit. Analisis dari enam studi menunjukkan bahwa pasien yang menjalani MIS memiliki durasi rawat inap lebih singkat secara signifikan dibanding pasien prosedur konvensional, baik dalam studi klinis maupun observasional (MD: -7,15 dan -9,34 hari secara berturut-turut). Hal ini tentu berdampak positif terhadap pemulihan pasien dan beban ekonomi yang lebih ringan.
Pada akhirnya, penelitian ini mengungkapkan bahwa prosedur bedah minimal invasif memiliki keunggulan signifikan dalam memperbaiki prognosis dan menurunkan mortalitas pada pasien stroke hemoragik talamus. Meskipun tidak ada perbedaan berarti dalam risiko perdarahan ulang, manfaat lain seperti pengurangan lama rawat inap dan potensi komplikasi yang lebih rendah memberikan alasan kuat untuk mempertimbangkan MIS sebagai pendekatan utama.
Para peneliti menyarankan agar dilakukan studi lanjutan dengan desain uji klinis acak (randomized controlled trial) untuk memperkuat bukti yang telah ada. Dengan perkembangan teknologi bedah dan panduan navigasi modern, MIS berpotensi menjadi standar emas di masa depan untuk menangani kasus stroke hemoragik yang kompleks, khususnya pada lokasi dalam seperti talamus.
Penulis: Dr. Asra Al Fauzi, dr., Sp.BS.
DOI:





