Hiperglikemia adalah suatu kondisi yang terjadi ketika tubuh memiliki sedikit insulin atau tidak dapat mengatur insulin dengan baik. Penyakit ini merupakan penyebab utama kematian dini dan kecacatan. Terapi konvensional memiliki berbagai efeksamping, maka perlu dilakukan penelitian mengenai potensi sumber obat baru dengan efek samping yang minimal. Petiveria alliacea merupakan tanaman yang secara empiris digunakan sebagai obat tradisional untuk mengobati berbagai penyakit, diantaranya seperti diabetes, antiinflamasi dan imunomodulator. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui efek Petiveria alliacea terhadap tikus model hiperglikemi dan mengetahui lebih lanjut potensi mekanisme senyawa aktifnya secara in silico. Hewan coba diinduksi terlebih dahulu dengan STZ 50mg/KgBB untuk mengkondisikan hiperglikemi, kemudian diukur ekspresi BCL2 dan apoptosis, serta identifikasi senyawa isoarborinol acetate, dan myricitrin yang terkandung dalam EEPa terhadap alpha-glukosidase dan caspase-3.
pemberian STZ tersebut dapat digunakan sebagai induktor hiperglikemi, hal ini terbukti dari pengukuran GDA pada tikus, dilanjutkan dengan pengukuran BCL2 sebagai agen antiapoptosis yang meningkat dibandingkan dengan kelompok kontrol hiperglikemi dan dapat menurunkan ekspresi apoptosis pada sel jantung tikus model hiperglikemi, dengan dosis optimal adalah 90 mg/KgBB. Dan diketahui senyawa isoarborinol acetate dan myricitrin memiliki penghambatan pada alpha-glukosidase dan caspase-3. EEPa merupakan salah satu alternatif pilihan untuk mengatasi hiperglikemi. Hal tersebut menumbuhkan harapan adanya bahan alam berkhasiat untuk mengatasi komplikasi hiperglikemia.
Material and Methods Material
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah streptozotocin (STZ) yang diperoleh dari ®santacruz. Daun Petiveria alliacea yang telah dideterminasi di Balai Materia Medika. Sedangkan alat yang digunakan seperti pipet 10, 200ul, pipet tip, stir bar, tabung mikrosentrifugasi poliprolena, spuit 1 ml, spuit 3ml, mikroskop, gelas penutup, obyek gelas obyek. bedah minor.
Hewan coba
Tikus putih (Rattus norvegicus) strain wistar digunakan sebagai hewan coba dalam penelitian ini dengan kriteria jenis kelamin jantan dewasa dengan berat badan 160-180 gram dan berumur 16-18 minggu, pemilihan jenis kelamin jantan dikarenakan menghindari pengaruh hormonal, sedangkan umur 16-18 minggu adalah usia dewasa pada tikus
Perlakuan Hewan Coba
Hewan coba tikus putih strain Wistar yang telah diaklimatisasi selama 2 minggu, kemudian diukur berat badan dan gula darah acak. Selanjutnya, tikus diinjeksi STZ dengan dosis 30mg/KgBB dan 50mg/KgBB sekali injeksi diberikan secara intraperitonel, Tikus diberikan larutan sukrosa 10% sepanjang malam pertama setelah induksi untuk menghindari sudden hypoglycemic post injection. Dua hari setelah induksi, tikus diperiksa kadar glukosa darah. Tikus dinyatakan menderita DM tipe 2 jika kadar glukosa darah ≥200 mg/dL dan disebut sebagai tikus model DM tipe 2 dan luas fibrosis sel otot jantung.
Pengambilan data luas fibrosis pada otot jantung diperoleh dari tikus yang telah dilakukan sacrifice, jantung hewan di ambil, dicuci dengan PZ lalu diukur luas fibrosis sel otot jantung dengan cara dilakukan pembuatan preparat histopatologi dengan pewarnaan Malory Azan, di lihat dibawah mikroskop dengan pembesaran 400x.
Hewan coba dalam penelitian ini dibagi dalam 5 kelompok. Kelompok 1 (K1) merupakan kelompok kontrol positif yang merupakan kelompok yang diberi STZ 50 mg dipertahankan selama 8 minggu, kelompok 2 (K2) merupakan kelompok kontrol negatif/ normal, kelompok 3 (P1) merupakan kelompok yang diberi STZ 50 mg dan sonde ekstrak etanol Petiveria alliacea dosis 90 mg/KgBB/hari selama 56 hari, kelompok 4 (P2 merupakan kelompok yang diberi STZ 50 mg dan sonde ekstrak etanol Petiveria alliacea dosis 180 mg/KgBB/hari selama 56 hari, kelompok 5 (P3) merupakan kelompok yang diberi STZ 50 mg dan sonde ekstrak etanol Petiveria alliacea dosis 360 mg/KgBB/hari selama 56 hari
Hasil dan Kesimpulan
Berdasarkan hasil ekspresi BCL2, pemberian EEPa pada kelompok perlakuan dapat meningkatkan ekspresinya dibandingkan dengan kelompok C1 dengan nilai signifikan <0,001. Peningkatan ekspresi BCL2 ini diikuti dengan penurunan ekspresis apoptosis.
Senyawa isoarborinol acetate dan myricitrin merupakan senyawa yang telah diidentifikasi terdapat dalam EEPa 70% dan memiliki aktivitas antiinflamasi terhadap reseptor IL1 and TNFA secara in silico Pada penelitian ini dilakukan identifikasi kembali terhadap alpha-glukosidase dan caspase-3 secara in silico, dari hasil yang didapatkan diketahui kedua senyawa ini berperan dalam hyperglikemia dan cardiac fibrosis, antara lain antidiabetes, anti-inflammatory, antioxidant, and alpha-glucosidase inhibitor.
Pemberian EEPa dapat digunakan sebagai salah satu pilihan untuk mengobati hiperglikemi secara herbal. Diketahui senyawa yang terkandung dalam EEPa ini memiliki aktivitas antiinflamasi, peningkatan agen antiapoptosis seperti BCL2, penghambatan alpha-glukosidase serta caspase-3 dan penurunan apoptosis pada sel jantung tikus model hiperglikemi.
Penulis: Dr. Nurmawati Fatimah,dr.,M.Si
Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:
Nurmawati Fatimah, Arifa Mustika, Sri Agus Sudjarwo, Suharjono, Jusak Nugraha, Reny I™thisom, Hari Basuki Notobroto, Wibi Riawan, Alphania Rahniayu (2024). Effect of Petiveria alliacea leaf extract and its active components on heart muscle cell apoptosis induced by hyperglycemia. Open Veterinary Journal, (2024), Vol. 14(11): 2970-2979; DOI: 10.5455/OVJ.2024.v14.i11.25





