Interprofessional Education (IPE) merupakan praktik kolaborasi antara dua atau lebih profesi kesehatan yang saling mempelajari peran masing-masing profesi kesehatan dan bertujuan untuk meningkatkan kemampuan kolaborasi dan kualitas pelayanan kesehatan.
Pembelajaran interprofesional didefinisikan sebagai pembelajaran yang muncul dari interaksi antar anggota (atau mahasiswa) dari dua atau lebih profesi. Penelitian terdahulu menyatakan 94,6% responden berpendapat perlunya berkolaborasi dengan profesi lain, Sebanyak 97,0% responden menyatakan perlunya IPE, sedangkan hasil pengukuran sikap menemukan bahwa mahasiswa kesehatan harus belajar dan berlatih secara langsung sebesar 98,8%.
Kegiatan pembelajaran mempunyai dua tujuan, yaitu sebagai calon pendidik sejawat, siswa diminta untuk mengkaji pengetahuan tentang kesehatan reproduksi melalui studi kasus dan kemudian terlibat dalam fokus diskusi antarprofesional tentang kemampuan mengkomunikasikan peran dan tanggung jawab dengan jelas; menjelaskan peran dan tanggung jawab orang lain penyedia layanan dan bagaimana tim berkolaborasi untuk memberikan layanan, serta secara aktif mendengarkan dan memberi semangat ide/pendapat dari anggota tim lainnya.
Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan menggunakan desain kuasi eksperimen, khususnya non-randomized desain pretest-posttest kelompok kontrol. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling dari mahasiswa di program kebidanan dan kesehatan masyarakat pada tahun ke-4 (setelah 5 semester), dengan jumlah responden 28 orang dibagi menjadi dua kelompok. Penelitian ini mempunyai variabel independen yaitu kepercayaan diri pendidik sebaya.
Mahasiswa menerima formulir informed consent tertulis, dan mereka yang memahami tujuan penelitian dan setuju untuk berpartisipasi menerima kuesioner. Semua peserta diberitahu bahwa survei tersebut tidak dilakukan wajib dan tidak terkait dengan penilaian mereka. Penelitian ini disetujui oleh Institutional Review Board Komisi Ethical Clearence Penelitian Kesehatan Fakultas Kedokteran Gigi 51¶¯Âþ dengan nomor 208/HRECC.FODM/III/2023.
Penelitian ini menggunakan modul yang dihasilkan dari model sebelumnya, yang menunjukkan faktor-faktor yang dapat meningkatkan rasa percaya diri pendidik sebaya kesehatan reproduksi berdasarkan Model Promosi Kesehatan (HPM), yaitu 1) Komitmen untuk merencanakan tindakan, 2) Faktor Kognisi dan Pengaruh Spesifik Perilaku (BSCA) termasuk Persepsi Manfaat dari Tindakan, Hambatan yang Dirasakan untuk Bertindak, Kemanjuran Diri yang Dirasakan, Pengaruh Terkait Aktivitas, Pengaruh Interpersonal, Pengaruh Situasional, dan 3) Kesadaran Diri. Semua faktor ini merupakan bagian dari modul, yang dirinci secara spesifik pada sesi 4)Peningkatan Perilaku Hidup Sehat dan Beretika.
Modul tersebut merupakan hasil diskusi yang diselenggarakan oleh peneliti dengan melibatkan 9 (sembilan) orang ahli. Modul IPERH terdiri dari 5 (lima) sesi yaitu sesi 1; memulai, sesi 2; pengayaan kesehatan reproduksi (membahas kesehatan reproduksi), sesi 3; pengambilan kendali (membahas IPE), sesi 4; meningkatkan kesehatan dan perilaku hidup etis (membahas model SCPE (hasil penelitian tahap pertama), dan sesi 5; Keahlian(ditutup dengan afirmasi dan refleksi).
Modul IPE-RH terbukti efektif meningkatkan rasa percaya diri sejawat kesehatan reproduksi pendidik (SCPE). Buktinya ditunjukkan oleh refleksi siswa atas pengalamannya selama ini implementasi modul Self-confident Peer Educator (SCPE) dalam kesehatan reproduksi melalui IPE, menunjukkan tanggapan positif. Diantaranya mendapatkan tambahan pengetahuan terkait kesehatan reproduksi dan IPE,menerapkannya untuk memecahkan masalah kesehatan yang ada, membangun hubungan, dan meningkatkan kepercayaan diri. Faktor yang berpengaruh terhadap peningkatan rasa percaya diri pendidik sebaya kesehatan reproduksi adalah komitmen untuk merencanakan action (CPA) yang merupakan faktor paling dominan mempengaruhi kepercayaan diri pendidik sebaya (SCPE),diikuti oleh faktor kognisi dan pengaruh khusus perilaku (BSCA), dan kesadaran diri (SA). Membangun kepercayaan diri melalui pendidikan interprofesional sangat penting untuk bersikap terbuka dalam belajar dan berkolaborasi individu yang mempunyai sudut pandang dan keterampilan yang berbeda. Pada hakikatnya setiap orang mempunyai identitasnya masing-masingsecara alami berbeda satu sama lain. Oleh karena itu, siswa hendaknya menumbuhkan sikap saling pengertian identitas. Kesadaran ini terus dipupuk agar perbedaan yang ada dapat menjadi potensi-potensi positif.Kurangnya rasa percaya diri pendidik sebaya terhadap kapasitasnya dalam menangani tugas-tugas sulit pada akhirnya berdampak pada tingkat motivasi dan ketekunan.
Faktor-faktor yang mempengaruhi kepercayaan diri yaitu : komitmen merencanakan tindakan, perilaku spesifik kognisi dan afek, serta kesadaran diri. Hasil Peningkatan kepercayaan diri terkait dengan kolaborasi, komunikasi, kreativitas, pengarahan diri, dan berpikir kritis.
Faktor-faktor yang memengaruhi peningkatan rasa percaya diri pendidik dalam kesehatan reproduksi adalah komitmen untuk merencanakan tindakan (CPA) yang merupakan faktor paling dominan dalam memengaruhi rasa percaya diri pendidik (SCPE), diikuti oleh faktor perilaku spesifik kognisi dan afek (BSCA), dan kesadaran diri (SA).
Pendidikan interprofesional melalui modul IPE-RH dapat meningkatkan kepercayaan diri pendidik untuk menyampaikan informasi kesehatan reproduksi, membangun kolaborasi antarprofesi kesehatan. Bukti tersebut dibuktikan dengan mahasiswa terhadap pengalaman mereka selama penerapan modul Self-confident Peer Educator (SCPE) dalam kesehatan reproduksi melalui IPE.
Penulis : Prof. Dr. Prihartini Widiyanti, drg, M.Kes, S. Bio, CCD
Link Jurnal : https://healthinformaticsjournal.com/index.php/IJMI/article/view/686/653





