Anemia masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang serius. Salah satu kelompok yang berisiko untuk terkena anemia adalah anak-anak. Anemia dikaitkan dengan perkembangan kognitif dan motorik yang buruk pada anak-anak. Anemia pada anak-anak dapat disebabkan karena kelahiran premature, bayi dengan berat badan lahir rendah, dan berkurangnya simpanan zat besi.
Menurut laporan World Health Organization (WHO), pada tahun 2019, prevalensi anemia secara global mencapai 39,8% pada anak usia 6-59 bulan, yang setara dengan 269 juta anak dengan anemia. Di Indonesia, berdasarkan data dari Riset Kesehatan Dasar tahun 2018 menunjukkan bahwa prevalensi anemia pada balita di Indonesia mencapai 38.5%. Hal ini menunjukkan bahwa anemia pada anak di bawah 5 tahun masih menjadi masalah yang serius. Selain itu, kekurangan zat besi pada anak usia di bawah dua tahun berpotensi untuk mendapatkan risiko anemia defisiensi besi yang lebih tinggi. Dua tahun pertama kehidupan seorang anak merupakan waktu yang penting untuk perkembangan mereka. Pematangan sel-sel otak, khususnya perluasan serabut saraf dan cabang-cabangnya, berlanjut hingga anak mencapai usia dua tahun, sehingga sangat penting bagi mereka untuk menerima nutrisi yang tepat.
Zat besi berperan penting dalam pengangkutan oksigen, sintesis asam deoksiribonukleat, metabolisme otot, dan metabolisme otak. Kekurangan zat besi pada anak di bawah usia dua tahun berdampak signifikan dan permanen pada perkembangan otak anak, yang berdampak negatif pada proses belajar dan prestasi sekolah di masa mendatang. Kekurangan zat besi menyebabkan perubahan homeostasis neurotransmitter, penurunan produksi mielin, gangguan sinaptogenesis, dan penurunan fungsi ganglia dasar, sehingga memengaruhi fungsi kognitif dan perkembangan psikomotorik pada anak.
Oleh karena itu, kami tertarik untuk menganalisis factor yang berkaitan dengan asupan makanan kaya zat besi pada anak usia 6-23 bulan di Indonesia dengan menggunakan data dari Survei Demografi Kesehatan Indonesia tahun 2017. Secara keseluruhan, 71,7% anak kelompok umur 6-23 bulan di Indonesia menunjukkan tingkat konsumsi makanan kaya zat besi yang kuat. Anak-anak dengan usia lebih tua, ibu berpendidikan tinggi, kunjungan antenatal care <6 kali, yang mengonsumsi obat cacing dan antiparasit dalam 6 bulan terakhir, anak yang tidak sedang dalam masa menyusui, status ekonomi relatif kaya, dan ibu yang mampu mengakses media massa berkaitan dengan konsumsi makanan kaya zat besi pada anak usia 6-23 bulan di Indonesia.
Studi ini memberikan penekanan bahwa pendidikan gizi, akses ke perawatan antenatal (ANC), promosi kesehatan melalui media massa terutama pada ibu dengan sosial ekonomi rendah sangat penting. Diharapkan temuan dari penelitian ini akan bermanfaat dalam mengembangkan strategi intervensi yang berhasil untuk meningkatkan asupan makanan kaya zat besi.
Penulis:
Akhyudi, D. M. C., Astutik, E., & Ismail, W. I. (2024). IRON-RICH FOOD CONSUMPTION AND ASSOCIATED FACTORS AMONG CHILDREN AGED 6-23 MONTHS: A FURTHER ANALYSIS OF 2017 INDONESIA DEMOGRAPHIC AND HEALTH SURVEYS. Jurnal Biometrika Dan Kependudukan, 13(2), 153“163. https://doi.org/10.20473/jbk.v13i2.2024.153-163





