Renal Cell Carcinoma (RCC) merupakan salah satu jenis tumor ginjal terbanyak di dunia. Menurut GLOBOCAN, angka kejadiannya mencapai 431.288 kasus (2,2%) dengan angka mortalitas di 179.368 kasus. Embolisasi vaskuler bertujuan untuk menghambat aliran darah serta menimbulkan respon inflamasi di dinding pembuluh darah. Embolisasi arteri renalis saat ini banyak digunakan untuk mengurangi morbiditas perioperatif dari reseksi tumor ginjal, menurunkan kebutuhan transfusi intra operatif, pendarahan, serta waktu pembedahan. Dilakukan tinjauan pustaka pada 3 database jurnal, yaitu PubMed, Embase, dan Science Direct untuk artikel yang terbit diantara 2013-2023, untuk membandingkan efektivitas penyumbat vaskular Amplatzer (PVA) dan gelatin sponge particles (GSP) untuk embolisasi transarterial pada kasus tumor ginjal.
Penjelasan
Tindakan embolisasi dapat dilakukan secara endovaskular/perkutaneous, maupun secara bedah terbuka. Teknik endovaskular lebih dipilih oleh karena mortalitas dan morbiditas yang lebih rendah, lebih tidak invasif serta risiko anestesi intraoperatif yang minimal, meskipun memiliki risiko terjadinya migrasi material embolan ke aliran darah vena dan paru-paru. Terdapat beberapa jenis agen embolan, yang dapat dibagi menjadi bentuknya (padat atau cair), mekanisme kerja (mekanikal atau kimiawi), dan bahan dasar (biosintesis, sintesis, dan lainnya). Secara umum, bahan embolan terbagi menjadi bahan permanen dan sementara. PVA termasuk bahan embolan permanen dan bersifat non-absorbable, sedangkan PSG termasuk bahan embolan sementara. Sebelum penyumbat vaskular, koil dan n-butyl cyanoacrylate glue adalah bahan embolan yang sering digunakan. PVA baru dikenalkan belakangan ini, dan disetujui penggunaannya oleh FDA pada tahun 2004. PVA berbentuk silindris anyaman dan dapat mengembang dengan sendirinya untuk menutup aliran pembuluh darah tertentu. PVA efektif digunakan pada pembuluh darah kecil dengan aliran tinggi, seperti pada pembuluh darah ginjal oleh karena penutupannya yang cepat. PVA 2 yang juga memiliki struktur serupa dengan berbahan anyaman kawat nitinol, serta dapat dilakukan reposisi apabila posisi perlekatan awal pada dinding pembuluh darah dianggap kurang sesuai. Beberapa laporan kasus merekomendasikan PVA 2 sebagai bahan embolan pada kasus embolisasi pembuluh darah ginjal, oleh karena penempatannya yang lebih akurat, lebih murah, serta gambaran artefak yang minimal pada pemeriksaan CT Scan. Keterbatasannya berupa penempatan pada pembuluh darah yang berkelok-kelok, oleh karena struktur kateter pengarah dari PVA 2 yang lebih kaku. PVA IV memiliki keunggulan dalam menutup pembuluh darah yang kecil dan berkelok-kelok, terutama jika dibandingkan dengan penggunaan koil. PVA IV bekerja dengan menutup pembuluh darah pada titik anastomosis arteriovenous, dan hanya menutup aliran pembuluh darah yang dituju tanpa mengganggu aliran pembuluh darah lainnya. Karakteristik bentuk dari PVA IV memungkinkan oklusi selektif pada pembuluh darah target, dan bisa menutup suatu pembuluh darah secara komplit dalam waktu 10 menit setelah menyesuaikan dengan bentuk pembuluh darah target.
Selain PVA, terdapat beberapa bahan embolan lain seperti polyvinyl alcohol (PVA), n-butyl cyanoacrylate (NBCA), micro-coils, dan gelatin sponge particles (PSG). GSP sering digunakan pada kasus pendarahan dan hipervaskularisasi tumor ganas. GSP menyebakan penutupan pembuluh darah yang tidak terkontrol oleh karena bahan ini dipotong dengan tangan, sehingga bentuknya ireguler dan mudah berubah bentuk. Waktu degradasi GSP berkisar dari 3 minggu hingga 4 bulan dan disertai dengan respon inflamasi kronis. GSP banyak digunakan karena kemampuannya untuk menutup suatu pembuluh darah secara sementara. Pembuluh darah yang tertutup, dapat terbuka kembali setelah beberapa minggu, sehingga dapat menjaga aliran darah ke jaringan yang normal dan memungkinkan untuk dilakukan embolisasi transarterial tambahan untuk menghambat pertumbuhan jaringan tumor. Namun, lumen pembuluh darah yang pernah disumbat menggunakan GSP biasanya mengalami penyempitan yang diakibatkan oleh penumpukan bekuan darah (trombus) dan penebalan dinding pembuluh darah (hiperplasia intimal). Penumpukan trombus diakibatkan oleh reaksi peradangan akut, sedangkan penebalan dinding pembuluh darah disebabkan oleh kerusakan dinding arteri akibat inflamasi transmural dan migrasi dari sel otot polos akibat kerusakan lapisan lamina elastik interna. Keterbatasan dari GSP adalah sifatnya yang dapat terdegradasi parsial dan memicu reaksi peradangan akibat benda asing. Hal ini diakibatkan oleh karena pemotongan GSP yang dilakukan secara manual dan bahkan dapat berubah bentuk. Beberapa studi menyebutkan hanya sekitar 88% oklusi yang terbentuk pada 4 bulan pasca embolisasi, sehingga terjadi rekanalisasi inkomplit untuk jangka panjang. Bahkan, beberapa GSP ditemukan terdegradasi dan terekanalisasi sebanyak 80% pada 7 hari pasca embolisasi. Efektivitas GSP akan lebih baik bila dilanjutkan dengan embolisasi microcoil tambahan, yang diketahui dapat mengurangi ukuran tumor lebih baik pada >3 tahun pasca embolisasi. Mikrocoil meningkatkan efektivitas embolisasi GSP, meningkatkan penyusutan ukuran tumor serta mengurangi risiko rekanalisasi, terutama setelah >3 tahun.
Penutupan
Setiap bahan embolan memiliki kegunaan dan kelebihannya masing-masing. Menurut beberapa laporan kasus, PVA terbukti efektif dan aman digunakan untuk embolisasi transarterial pada kasus tumor ginjal, terutama pada keterlibatan pembuluh darah renal perifer. Penggunaan GSP membutuhkan waktu yang lama dan terdapat resiko rekanalisasi
Sumber:
Lalu Muhamad Sabar Setiawan, Yan Efrata Sembiring. Effectiveness of the AmplatzerTM vascular plug versus gelatin sponge particle instrument on transarterial embolization of renal tumors to improval surgical outcomes: literature review. Angiologia 2024; 76(5): 294-302.





