51动漫

51动漫 Official Website

Efektivitas Terapi Integrasi Sensorik pada Gangguan Hiperaktif Defisit Perhatian Peningkatan Gejala Dan Kadar Serum Dopamin

Sebelum pengetahuan tentang kesehatan mental pada anak berkembang, orang tua dan masyarakat berasumsi bahwa anak yang berperilaku overaktif, tidak bisa diam, dan sulit menerima pelajaran adalah anak yang nakal, sehingga mereka memberikan sanksi kepada anak tersebut, baik berupa kekerasan verbal maupun fisik. Seiring berjalannya waktu dan berkembangnya pengetahuan, perilaku tersebut dikenal sebagai salah satu gangguan tumbuh kembang anak yang disebut ADHD. Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD), merupakan gangguan perilaku dengan gejala hiperaktif, impulsif, dan kurang perhatian, berdasarkan Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM)-5.

Faktor risiko ADHD disebabkan oleh berbagai faktor seperti genetika, aspek neurokimia, neurofisiologis, neuroanatomi, faktor perkembangan, dan faktor psikososial. Berdasarkan ADHD Institute, anak ADHD dan 21 anak non-ADHD dari kelas 1 hingga 6 diikutsertakan dalam penelitian. Berdasarkan jenis kelamin, 13 anak adalah perempuan, dan 31 adalah laki-laki. Kadar serotonin pada anak ADHD secara signifikan lebih tinggi daripada pada anak non-ADHD . Beberapa faktor penyebab ADHD terkait dengan penurunan volume dan aktivitas otak, seperti kurangnya aktivitas pada korteks prefrontal, korteks cingulate anterior (ACC), globus pallidus, thalamus kaudatus dan visual, serebelum, dopaminergik, disfungsi, hiponorepinefrin, dan berat badan lahir rendah, infeksi selama kehamilan dan gangguan aliran darah otak.

Terkait disfungsi dopaminergik yang menyebabkan penurunan kadar dopamin yang dapat memengaruhi gangguan konsentrasi, kecemasan, impulsivitas, dan disfungsi integrasi sensorik, dopamin sering dikaitkan dengan etiologi ADHD. Beberapa penelitian sebelumnya tidak menemukan perbedaan kadar dopamin SSP dengan plasma, dan terjadi sedikit penurunan kadar dopamin metabolik. Disfungsi integrasi sensorik pada anak dengan ADHD dapat memengaruhi respons mereka terhadap kejadian sensorik sehari-hari.

Oleh karena itu, tingkat pencarian sensorik menjadi lebih tinggi, dan ini menyebabkan kesan lebih agresif dan nakal dibandingkan dengan anak lain tanpa gejala ADHD.Terapi Integrasi Sensorik bertujuan untuk meningkatkan pengenalan, pembedaan, dan perubahan sensorik, menghasilkan tujuan atau respons adaptif seperti pengendalian emosi, impulsivitas, kognisi, dan hiperaktivitas. Deteksi dini dan penanganan masalah pemrosesan sensorik dapat memainkan peran penting dalam meningkatkan kinerja kognitif pada anak-anak dengan ADHD.

Perbedaan jenis kelamin pada ADHD disebabkan oleh perbedaan kepadatan reseptor dopamin. Kepadatan reseptor D2 striatal pada laki-laki meningkat sebesar 144 +- 26%, sedangkan kepadatan reseptor D2 pada wanita hanya meningkat sebesar 31 +- 7%. Kepadatan reseptor pada laki-laki kemudian menurun tajam menjadi 55% pada usia dewasa.12 Rata-rata usia anak yang berisiko ADHD adalah 4,85卤1,47 tahun. Lebih banyak laki-laki yang terdiagnosis daripada wanita, tetapi tidak ada signifikansi statistik dengan p = 0,317 (signifikan jika p<0,05).

Tidak ada perubahan signifikan pada gejala ADHD pada kelompok kontrol. sedangkan terdapat perubahan signifikan pada kelompok perlakuan sebelum dan sesudah Terapi Integrasi Sensori. Terapi integrasi sensori dapat berperan penting dalam pengobatan pasien ADHD. Studi lain pada 20 siswa sekolah dasar Iran yang menderita ADHD menunjukkan bahwa 12 sesi terapi integrasi sensori individual (2 sesi per minggu, masing-masing 30 menit) dapat meningkatkan fungsi eksekutif pada anak-anak ADHD.

Untuk lebih detail terkait Sensory Integration Therapy Efectivity Of Attention Deficit Hyperactivity Disorder Symptoms Improvement And Dopamine Serum Levels dapat diunduh di

AKSES CEPAT