Insiden kasus batu ureter pada anak-anak saat ini diperkirakan sebanyak 50 kasus per 100.000 anak, menunjukkan tren naik dalam beberapa tahun terakhir. Sejak tahun 1999 hingga 2008, ada peningkatan 86% dalam proporsi kunjungan ke departemen gawat darurat pediatrik untuk kasus batu ureter. Penting untuk mengidentifikasi pilihan pengobatan yang paling efektif untuk batu ureter pada anak-anak, karena batu yang tidak diobati dapat menyebabkan morbiditas yang signifikan. Ketika mengelola batu ureter pada anak-anak, penting untuk mengevaluasi beberapa faktor, termasuk ukuran, lokasi, komposisi, dan anatomi batu dan sistem urin yang akan mempengaruhi luaran dari tatalaksana kasus batu ureter pada anak-anak.
Saat ini shockwave lithotrypsy (SWL), yang merupakan pengobatan utama untuk kebanyakan batu ureter pada anak-anak, tidak efisien untuk batu yang lebih besar dari 10 mm. Praktik operasi batu terbuka sekarang jarang dilakukan, membuat prosedur endoskopi seperti URS menjadi pendekatan yang lebih disukai untuk batu yang lebih besar.Pneumatik dan perangkat laser umumnya digunakan sebagai sumber energi untuk URS. Pneumatic lithotripsy menggunakan udara terkompresi untuk menghasilkan energi mekanis dengan mendorong partikel udara pada frekuensi tertentu per menit. Namun, metode ini memiliki kelemahan berupa risiko pergerakan retrograde batu kembali ke ginjal saat mereka terfragmentasi serta adanya potensi terjadinya perforasi ureteral.Saat ini telah dikembangkan teknologi lithotripsy yang paling maju dengan menggunakan laser. Dalam hal keamanan dan efektivitas, laser yang digunakan adalah laser berjenis holmium: yttrium-aluminium-garnet (Ho: YAG). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menilai dan membandingkan efektivitas dan keamanan dari kedua terapi.
Penelitian ini dilakukan dengan cara melakukan pencarian literatur pada database Scopus, Pubmed/Medline, Embase, Web of Science, Cochrane Library dan ScienceDirect untuk literatur yang telah terbit hingga Maret 2023. Kata kunci yang digunakan dalam pencarian secara boolean adalah ((laser lithotripsy) OR (laser) OR (holmium)) AND ((pneumatic lithotripsy) OR (pneumatic) OR (ureterorenoscopy)) AND ((children) OR (paediatric). Dari hasil pencarian ditemukan sebanyak 397 artikel yang kemudian dilakukan penyaringan sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi dan didapatkan sebanyak 5 artikel yang layak untuk dilakukan penilaian secara kualitatif dan kuantitatif. Dari pencarian artikel penelitian didapatkan jumlah responden sebanyak 1370 pasien yang berusia 2 14 tahun. Kemudian dilakukan penilaian risiko bias terhadap 5 artikel yang memenuhi kriteria menggunakan instrumen Newcastle-Ottawa Scale (NOS) dan didapatkan nilai rata-rata 8 yang berarti baik.
Pada studi ini ditemukan terdapat perbedaan signifikan pada aspek stone-free rate (SFR) antara pneumatic lithotripsy dan Ho:YAG laser lithotripsy. SFR dinilai pada kelima studi yang tersedia dengan ukuran sampel sebesar 294 sampel dengan hasil SFR yang lebih baik pada kelompok laser lithotripsy (OR: 2,06; 95%CI: 1,06 4,00; p= 0,03) dengan nilai heterogenitas yang rendah pada analisis model tetap (p=0,08). Selain itu ditemukan pula perbedaan signifikan pada aspek retropulsi batu pada kelompok laser yang lebih rendah dibandingkan dengan kelompok pneumatic (OR: 0,37; 95%CI: 0,16 0,87; p=0,02) dengan nilai heterogenitas yang rendah (p=0,19) pada forest plot.
Studi ini juga menilai aspek durasi operasi, length of stay, demam post-operatif, serta kejadian cedera ureter yang ditemukan tidak terdapat perbedaan signifikan antara kelompok laser Ho:YAG dan pneumatic lithotripsy. Durasi operasi dilaporkan pada 3 studi yang memenuhi kriteria dengan hasil tidak ada perbedaan signifikan diantara kedua kelompok (MD: 2,33; 95%CI: -4,09 8,74; p=0,48). Length of stay dilaporkan pada 3 studi yang dianalisis dengan hasil tidak ada perbedaan signifikan (MD: -0,17; 95% CI: -0,360,02; p=0.08). Kejadian demam post-operasi dilaporkan pada 3 studi dengan total 200 sampel dan didapatkan tidak ada perbedaan yang signifikan antara kedua kelompok (OR: 1,50; 95% CI: 0,48 4,66; p=0,48). Cedera ureter dilaporkan pada 3 studi dengan hasil tidak ada perbedaan signifikan antara kedua kelompok (OR: 0,43; 95% CI: 0,082,48; p=0,35).
Studi ini menunjukkan perbedaan yang signifikan dalam hasil dari stone-free rate (SFR) antara kelompok laser dan pneumatik, dengan kelompok lithotripsy laser memiliki hasil yang lebih menguntungkan. Namun, tingkat kejadian striktur ureteral setelah operasi lebih tinggi dalam kelompok yang menjalani lithotripsy laser. Fragmen yang dihasilkan menggunakan metode fragmentasi laser Ho:YAG relatif lebih kecil dan lebih mudah untuk diekstraksi pada saat prosedur dan setelah perawatan. Sedangkan pada lithotripsy pneumatik, operator diminta untuk melakukan manuver manipulasi pada peralatan untuk menemukan batu yang bergerak. Selain itu, adanya kebutuhan yang jauh lebih besar untuk metode ekstraksi tambahan dalam lithotripsy pneumatik. Pertimbangan-pertimbangan ini dapat menjelaskan durasi yang lebih lama pada metode lithotripsy pneumatik dibandingkan dengan Ho:YAG laser lithotripsy.
Pada meta-analisis ini ditemukan perbedaan yang signifikan dalam migrasi batu antara lithotripsy laser Ho:YAG dan lithotripsy pneumatic. Insiden migrasi fragmen batu uereter yang lebih tinggi diamati pada kelompok lithotripsy pneumatik. Fragmen batu ureter ini umumnya bergerak ke atas (retrograde), terutama pada pasien yang memiliki batu di bagian atas ureter serta pada individu yang telah menjalani operasi menggunakan ureteroskop berukuran 7,5Fr.
Studi tinjauan pustaka sistematis dan meta-analisis ini memiliki beberapa keterbatasan. Semua studi yang disertakan adalah studi kohort retrospektif karena jumlah studi yang terbatas dengan desain uji klinis. Hal ini berpotensi mempengaruhi kualitas penelitian karena data yang diperoleh tidak terkontrol secara ketat dan tidak ada proses randomisasi dalam studi observasional.
Pada kesimpulannya, penelitian ini menemukan adanya perbedaan signifikan pada aspek stone-free rate (SFR) yang jauh lebih tinggi dan insiden retropulsi batu yang secara signifikan lebih rendah dalam kelompok lithotripsy laser daripada dalam kelompok lithotripsy pneumatik. Faktor lain yang dianalisis ditemukan tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan dalam hal waktu operasi, length of stay, demam pasca-operasi, dan kerusakan ureteral antara kedua kelompok. Sayangnya, tidak ditemukan adanya data mengenai beberapa faktor penting yang dapat mempengaruhi hasil lithotripsy menjadi kelemahan pada studi ini. Faktor-faktor ini tidak dilaporkan dalam semua studi yang termasuk dalam analisis.
Pada akhirnya diperlukan sebuah uji coba terkontrol acak yang komprehensif (RCT) untuk tinjauan literatur sistematis dan meta-analisis di masa depan, terutama berhubungan dengan perbandingan laser dan lithotripsy pneumatik pada pasien pediatrik dan menilai aspek-aspek yang berpengaruh terhadap hasil luaran tatalaksana secara lebih luas.
Penulis: Prof. Dr. Soetojo, dr., Sp.U
Link:





