51动漫

51动漫 Official Website

EGCG on Neutrophils Count and IL-6 Expression in Pseudomonas Aeruginosa Keratitis

Keratitis Pseudomonas aeruginosa merupakan infeksi mata yang paling sering terjadi. Keratitis P. aeruginosa paling umum ditemukan pada 23-50% kasus keratitis bakterial, ditandai dengan lesi nekrosis liquefactive dan akumulasi masif leukosit polimorfonuklear (PMN) yang dapat merusak kornea secara progresif yakni terjadi kekeruhan kornea, penipisan kornea, perforasi kornea hingga kebutaan permanen. Kekeruhan kornea adalah penyebab terbanyak keempat kebutaan di seluruh dunia dan setengahnya disebabkan oleh keratitis Pseudomonas aeruginosa. Keratitis Pseudomonas aeruginosa berkembang sangat cepat dan progresif. Pemberian terapi antibiotik dengan cepat membunuh bakteri, namun kerusakan kornea akibat toksin tetap berlanjut. Proses tersebut menyebabkan terbentuknya jaringan parut pada kornea yang bersifat kronis sehingga mengganggu penglihatan sampai dengan kebutaan penderita. Proses penyembuhan luka kornea ditandai oleh keberadaan neutrofil dan dan ekspresi interleukin-6 (IL-6). Inflamasi keratitis Pseudomonas aeruginosa menunjukkan peran NF-魏B dalam mencetus interleukin-6 (IL-6) via TNF- 伪 serta merekrut neutrofil lalu berujung pada kematian sel yang secara klinis memberikan gambaran kekeruhan kornea, penipisan kornea hingga perforasi kornea. Sel pertama yang memberikan respon terhadap kebanyakan infeksi, khususnya infeksi bakteri dan fungi, serta sel yang dominan saat homeostasis dan inflamasi akut adalah neutrofil. Neutrofil dalam fase inflamasi juga mengalami up-regulation dari makrofag, sel T, TNF-伪, IL-8, IL-1, IL-6. Pengaturan mekanisme imunitas okuli bawaan dan adaptif sebagai respon terahadap infeksi bacterial termasuk keratitis Pseudomonal melalui serangkaian kaskade komplemen, protein, growth factor, dan sitokin proinflamasi yang meliputi IL-1, IL-6 dan TNF-伪 yang akan meningkat.

Pengobatan utama keratitis Pseudomonas dengan pemberian antibiotik yang sesuai untuk menghentikan proses invasi mikroba serta non steroid anti inflamasi atau steroid anti inflamasi untuk mengatasi proses inflamasi. Namun penanganan tersebut belum dapat menghambat proses pengrusakan lebih lanjut akibat proses inflamasi berat. Proses regenerasi jaringan pun menjadi kurang optimal akibat proses inflamasi yang masih terus berlangsung walaupun bakteri penyebab sudah hilang. Epigallocatechin gallate (EGCG) dalam ekstrak Camellia sinensis berpotensi sebagai alternatif terapi adjuvant keratitis bakterial karena mempunyai efek antibakteri, antiinflamasi sekaligus antioksidan. Studi terkini, EGCG dikatakan memiliki efek anti-inflamasi dan anti-oksidan di berbagai tipe sel termasuk kornea. EGCG dapat menekan inflamasi, menghambat proliferasi dan sitokin pro-inflamasi seperti IL- 6 dengan menghambat aktivasi NF- 魏B, yang merupakan kelompok faktor transkripsi yang berperan penting dalam respon inflamasi dan imun. Stimulasi oleh mediator inflamasi seperti sitokin pro- inflamasi IL-1 IL-6, TNF-伪, TLRs dan reactive oxygen species, memicu aktivasi NF- 魏B. Kondisi tersebut dapat menurunkan kadar IL-6 yang berperan sebagai chemoattractant dan rekrutmen neutrofil. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis jumlah neutrofil dan ekspresi IL-6 pada model keratitis karena infeksi Pseudomonas aeruginosa setelah pemberian tetes mata Epigallocatechin Gallate (EGCG) (studi eksperimental pada model tikus Rattus norvegicus). Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental untuk menganalisis perbedaan tetes mata Moxifloxacin 0,5% dan kombinasi kombinasi Moxifloxacin 0,5% dan EGCG 50 渭g/mL terhadap jumlah neutrophil dan ekspresi Interleukin-6. Sampel dalam penelitian ini adalah sediaan kornea Rattus Norvegicus yang sebelumnya telah dibuat model keratitis. Sampel yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi serta besar sampel yaitu 6

sampel untuk masing-masing kelompok kontrol negatif (pelarut), Moxifloxacin 0,5% maupun kombinasi Moxifloxacin 0,5% dan EGCG 50 渭g/mL. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rerata presentase jumlah neutrofil pada kelompok kontrol yang ditetesi pelarut adalah 63.33卤21.60. Pada kelompok kontrol positif dan kelompok uji didapatkan rerata persentase jumlah neutrofil masing- masing adalah 49.17卤12.01 dan 38.33卤14.72. Hasil tersebut menunjukkan bahwa jumlah neutrofil pada kelompok perlakuan yang diberi kombinasi Moxifloxacin 0,5% dan EGCG 50 渭g/mL didapatkan lebih rendah dibandingkan kelompok yang hanya mendapat Moxifloxacin 0,5%. Rerata persentase ekspresi IL-6 pada kelompok kontrol yang ditetesi pelarut adalah 31,67卤 11,69. Pada kelompok kontrol positif (Moxifloxacin 0,5%) dan kelompok uji (kombinasi Moxifloxacin 0,5% dan EGCG 50 渭g/mL) didapatkan masing- masing adalah 22.5卤6.89 dan 16.67卤5.16. Hasil tersebut menunjukkan bahwa rerata ekspresi IL-6 terlihat lebih kecil pada kelompok perlakuan yang diberi kombinasi Moxifloxacin 0,5% dan EGCG 50 渭g/mL dibandingkan kelompok yang hanya mendapat Moxifloxacin 0,5%.

Kesimpulannya terdapat penurunan jumlah neutrophil dan ekspresi Interleukin-6 yang signifikan antara kelompok kontrol negatif (pelarut) dibandingkan dengan kelompok kombinasi Moxifloxacin 0,5% dan EGCG 50 渭g/mL pada hewan model keratitis Pseudomonas aeruginosa.

Penulis: Annisa Karima1, Luki Indriaswati2*, Susy Fatmariyanti2, Nila Kurniasari3 Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

Judul Jurnal:

Effect of epigallocatechin gallate (EGCG) on neutrophils count and interleukin-6 (IL-6) expression in Pseudomonas aeruginosa keratitis: an experimental study on Rattus norvegicus rat

AKSES CEPAT