Kavernoma, juga dikenal sebagai malformasi kavernosa atau angioma kavernosa, adalah lesi vaskular jinak di susunan saraf pusat (CNS) dan organ lain seperti hati atau kulit. Kavernoma CNS menyumbang 5-13% dari semua anomali vaskular intrakranial, dan ukurannya bervariasi secara diameter, mulai dari beberapa milimeter hingga beberapa sentimeter. Batang otak adalah lokasi yang paling sering terjadinya gangguan ini (9-35% dari semua kasus), sementara kavernoma fossa posterior menyumbang 7,8 hingga 35,8% dari semua kasus. Kavernoma otak (CCMs) menyumbang 1,2 hingga 11,8% dari semua kasus intrakranial dan 9,3 hingga 52,9% dari semua kasus infratentorial, menurut ukuran sampel yang besar.
Namun, kavernoma raksasa, yang didefinisikan sebagai kavernoma dengan diameter lebih besar dari 4 cm pada MRI pra operasi, jarang terjadi. Malformasi kavernosa adalah kelainan vaskular bawaan. Mereka biasanya tidak diketahui sampai peristiwa perdarahan terjadi. Kavernoma dapat terlihat bersamaan dengan anomali perkembangan vena (DVA) pada 20% (kisaran 20%“40%) kasus, hal ini dikenal sebagai malformasi vaskular campuran.
DVA adalah malformasi kongenital yang terdiri dari vena meduler melebar yang bergabung membentuk satu saluran, mengalir ke sistem drainase superfisial dan dalam. Mereka adalah jenis malformasi vaskular yang paling umum terjadi di otak dan terjadi pada hingga 3% populasi. Mereka secara luas dianggap sebagai kelainan bawaan, dan ada banyak teori mengenai patofisiologi yang mendasarinya, termasuk gagasan bahwa DVA adalah perubahan embriologis drainase vena daripada kelainan vaskular yang sebenarnya.
Untuk menambah referensi di bidang ini, sebuah laporan kasus disampaikan oleh Irsyad dkk., (2023), penelitian yang telah diterbitkan dalam International Journal of Surgery Case Reports (Elsevier) ini menggambarkan kasus seorang wanita yang mengalami sakit kepala parah onset akut akibat kavernoma otak dengan preservasi DVA yang dioperasi dengan hasil yang memuaskan.
Para penulis melaporkan sebuah kasus dari seorang dewasa muda yang sehat yang datang dengan serangan sakit kepala akut, dengan karakteristik sakit kepala kronis yang semakin memburuk. Pasien mengeluh sering pusing saat duduk dan berdiri lama. Keluhan sudah dirasakan selama dua tahun dan semakin memburuk selama dua minggu terakhir. Terdapat pula keluhan tambahan berupa pusing dan mual dengan periode muntah yang berselang-seling selama empat hari. Pencitraan resonansi magnetik (MRI) mengungkapkan bahwa tidak hanya ada perdarahan kavernoma, tapi juga ada DVA yang menyertainya. Setelah kavernoma dieksisi, pasien dipulangkan ke rumah tanpa defisit. Tindak lanjut rawat jalan dua bulan kemudian juga tidak menunjukkan gejala atau defisit neurologis.
Pada penelitian ini, didapatkan bahwa malformasi kavernosa adalah sebuah anomali vaskular kongenital yang terjadi pada sekitar 0,5% populasi umum. Pasien yang dilaporkan dalam laporan ini kemungkinan mengalami pusing karena lokalisasi perdarahan kavernoma di sisi kiri otak kecilnya. Pencitraan otak mengungkapkan ada banyak pembuluh darah abnormal yang memancar dari lesi otak, dengan kata lain, DVA yang sangat sugestif terkait dengan kavernoma.
Pada akhirnya, penelitian ini mengungkapkan bahwa malformasi kavernosa adalah entitas yang tidak biasa yang mungkin hidup berdampingan dengan DVA, yang membuat penanganannya menjadi lebih menantang. Temuan pencitraan otak pada laporan ini dan presentasi klinis dari pasien menunjukkan bahwa kavernoma merupakan penyebab utama dari perdarahan dengan DVA yang mendasarinya.
MRI biasanya merupakan alat diagnostik pilihan untuk mengevaluasi DVA. Dalam kasus kavernoma terisolasi, pengobatan konservatif dengan pemantauan klinis dan pencitraan berkala sudah cukup. Hal ini berbeda dari pasien dengan perdarahan, di mana intervensi bedah dapat dipertimbangkan tergantung pada perluasannya. Dokter perlu menyadari adanya malformasi kavernosa dan DVA.
Penulis: Dr. Irwanto, dr. Sp.A(K)
Link:





