Depresi/Major depressive disorder (MDD) pada remaja merupakan masalah kesehatan mental yang meningkat dari tahun ke tahun di seluruh dunia. Prevalensi depresi pada usia 15-24 tahun menurut data Riskesdas 2018 di Indonesia adalah 157.695 orang (6,2%) di Jawa Timur sebesar 14.934 orang (4,94%). Salah satu masalah pada depresi di usia remaja adalah masalah pengobatan. Pengobatan standar pada depresi remaja terdiri dari psikoterapi dan/atau farmakoterapi. Fluoksetin adalah farmakoterapi lini pertama untuk depresi remaja dari golongan Serotonin Selective Reuptake Inhibitor (SSRI). Pada remaja depresi, psikoterapi tidak memberikan hasil seoptimal pada dewasa, sementara farmakoterapi dapat menimbulkan masalah baru pada remaja, seperti kenaikan berat badan (BB), gangguan seksual, peningkatan ide untuk bunuh diri dan gangguan tidur. Penggunaan farmakoterapi dapat berulang dan berlangsung dalam jangka panjang karena adanya non responder pada terapi standar dan rekurensi. Salah satu faktor yang berpengaruh pada kurang optimalnya terapi depresi pada remaja adalah otak remaja yang masih dalam masa perkembangan. Terdapat perbedaan aktivitas neurofisiologi pada remaja depresi dibandingkan pada dewasa dan perbedaan efek terapi antidepresan terhadap perubahan perilaku pada usia remaja yang disebabkan perbedaan maturitas sistem dopaminergik dan perbedaan neurotransmitter. Fluoksetin sebagai terapi depresi, bekerja dengan menghambat reuptake 5-HT ke neuron 5-HT prasinaps, memperbaiki signaling cyclic-AMP responsive element binding protein (CREB) di hipokampus, dan menurunkan kadar kortisol serum. Terapi kronik fluoksetin selama 3 minggu pada hewan coba dapat meningkatkan adult neurogenesis di hipokampus yaitu pada dentate gyrus, menurunkan proses inflamasi di otak, dan menginduksi long-term potentiation (LTP) hipokampus. Pengobatan fluoksetin 10 mg/kg per oral selama 21 hari dapat meningkatkan kadar BDNF pada hipokampus tikus pada area C1 dan C3. Efektifitas antidepresan adalah sekitar 50% dan dibutuhkan waktu sekitar 2-4 minggu untuk memperbaiki klinis depresi, sehingga dibutuhkan tatalaksana tambahan untuk mengoptimalkan hasil terapi.
Musik adalah salah satu pilihan terapi komplementer yang dapat digunakan pada tatalaksana gangguan tidur, epilepsi refrakter, nyeri, depresi untuk berbagai usia dan banyak kondisi lainnya. Musik sebagai tambahan terapi depresi dapat diberikan secara aktif atau pasif/reseptif. Penambahan terapi musik pada standar terapi menunjukkan perbaikan mood yang lebih baik dibandingkan terapi standar saja secara dose-dependent. Paparan musik dapat menurunkan kadar kortisol, menaikkan kadar 5-HT, meningkatkan neurogenesis, meningkatkan regenerasi dan perbaikan neuron, menaikkan kadar melatonin, menaikkan kadar dopamine, dan memperbaiki depressive-like behavior dengan meningkatkan spine density pada hipokampus. Tambahan terapi musik pada terapi standar gangguan emosi dan perilaku pada anak dan remaja menunjukkan perbaikan klinis. Penggunaan musik yang berbeda (klasik, Indonesia, musik religius, rock dan sebagainya) dapat memberikan efek yang berbeda, bahkan berlawanan terhadap kesehatan mental. Perbedaan frekuensi, rhythm, mayoritas note dan berbagai karakteristik lainnya akan memberikan dampak yang berbeda pada otak. Perbedaan rhythm dan perbedaan cara memainkan (retrograde) pada musik yang sama akan memberikan dampak yang berbeda pada otak. Mozart K448 adalah salah satu musik klasik karya Mozart dengan frekuensi 5.000-8.000 Hz, rhythm 60-80x/menit, long-term periodicity (30-40 detik), dan mayoritas note mayor yang sering digunakan untuk memperbaiki masalah mental pada penelitian manusia maupun hewan coba. Paparan musik Mozart K448 dapat menurunkan derajat depresi, meningkatkan kadar BDNF pada korteks auditori dan meningkatkan pelepasan 5-HT pada area caudatus-putamen. Terapi musik dapat meningkatkan kadar serum melatonin. Penelitian pada manusia menunjukkan bahwa kombinasi musik dan terapi standar menunjukkan hasil yang menjanjikan tetapi kurang bisa direplikasi karena beragamnya populasi penelitian dan intervensi musik yang diberikan Penelitian kami terapi kombinasi fluoxetine dan Mozart K. 448 pada model hewan depresi mendapatkan, kelompok fluoxetine-Mozart memiliki tingkat BDNF yang lebih tinggi, tetapi tingkat serotonin lebih rendah dibandingkan dengan kelompok lain setelah 21 hari pengobatan.
Disarikan dari artikel dengan judul: 淭he Antidepressant Effect of Fluoxetine and Mozart K448 Combination Therapy on Hippocampal Serotonin and BDNF Levels yang diterbitkan di Pharmacogn J. 2023; 15(2): 325-328. Link
Penulis: Prof. Dr Irwanto,dr SpA(K)
Scopus ID 56705347700
Departemen Ilmu Kesehatan Anak
Fakultas Kedokteran 51动漫





