Odontoma adalah tumor odontogenik paling umum pada rahang. Tumor ini bersifat jinak, tumbuh lambat, tidak agresif, dan umumnya tidak menimbulkan nyeri. Lesi odontoma sering menghambat erupsi gigi permanen, sehingga biasanya ditemukan secara kebetulan melalui pemeriksaan radiografi. Berdasarkan bentuknya, odontoma dibagi menjadi kompleks dan kompound; tipe kompound lebih sering ditemukan di regio anterior rahang atas.
Penatalaksanaan odontoma umumnya melalui tindakan bedah eksisi. Pada anak, eksisi biasanya dilakukan dengan anestesi umum karena dianggap lebih mudah dan aman. Namun, anestesi umum berisiko menimbulkan efek samping sistemik seperti mual, muntah, hingga gangguan kardiovaskular dan respirasi. Oleh karena itu, pemilihan anestesi lokal menjadi pilihan alternatif yang lebih hemat biaya, waktu, dan minim risiko, meskipun tantangannya adalah tingkat kooperatif pasien anak yang seringkali rendah.
Kasus ini melaporkan seorang anak perempuan berusia 8 tahun yang datang ke Departemen Kedokteran Gigi Anak RSUD Dr. Saiful Anwar karena gigi depan atas permanennya belum erupsi. Pemeriksaan intraoral menunjukkan gigi insisivus sentralis kanan (#11) telah erupsi, sedangkan gigi insisivus sentralis kiri (#21) dan lateral kiri (#22) belum erupsi. Radiografi periapikal dan panoramik memperlihatkan adanya massa radiopak multipel yang menghalangi erupsi gigi, sesuai dengan dugaan odontoma kompound.
Pasien dipersiapkan dengan edukasi kesehatan gigi dan pembersihan karang gigi satu minggu sebelum tindakan. Eksisi dilakukan menggunakan anestesi lokal (Scandonest 2%). Flap mukoperiosteal penuh dibuka dari regio mesial #21 hingga #62. Tulang tipis yang menutupi lesi diangkat, lalu odontoma dieksisi menggunakan forsep. Luka kemudian ditutup dengan tiga jahitan sederhana. Pasca operasi, pasien diberi obat analgesik untuk manajemen nyeri.
Satu minggu setelah operasi, kontrol menunjukkan luka sembuh baik, tanpa tanda infeksi atau pembengkakan, dan nyeri minimal. Pemeriksaan histopatologi menegaskan diagnosis odontoma. Sepuluh minggu setelah tindakan, gigi #22 berhasil erupsi secara spontan. Pasien dianjurkan untuk tetap melakukan kontrol berkala untuk memantau erupsi gigi #21 dan menjaga kesehatan rongga mulut.
Diskusi menekankan bahwa odontoma dapat menjadi hambatan utama erupsi gigi permanen. Pilihan eksisi dengan anestesi lokal terbukti efektif dalam kasus ini karena pasien kooperatif dengan skor Frankl positif (kategori 3). Anestesi lokal memberikan kontrol nyeri yang memadai, mempercepat pemulihan, dan menurunkan risiko sistemik dibanding anestesi umum. Keberhasilan tindakan juga ditunjang oleh teknik manajemen perilaku non-farmakologis, seperti tell-show-do, penguatan positif, distraksi, dan pemberian reward.
Temuan kasus ini sejalan dengan literatur yang menyatakan bahwa eksisi odontoma memiliki prognosis baik selama prosedur dilakukan hati-hati tanpa merusak gigi permanen. Meskipun anestesi umum masih banyak digunakan, anestesi lokal dapat menjadi alternatif yang aman untuk anak dengan tingkat kooperatif yang baik. Evaluasi tiap kasus tetap diperlukan dengan mempertimbangkan usia, kondisi medis, dan kompleksitas prosedur.
Kesimpulannya, eksisi odontoma komposit pada anak perempuan usia 8 tahun berhasil dilakukan dengan anestesi lokal. Pasien mentoleransi prosedur dengan baik, mengalami ketidaknyamanan minimal, dan menunjukkan penyembuhan cepat. Kasus ini menunjukkan bahwa bedah minor pada anak dapat dilaksanakan tanpa anestesi umum bila persiapan dan pendekatan perilaku dilakukan dengan tepat.
Oleh : Ardianti Maartrina Dewi, drg., M.Kes., Sp KGA(K)





