51动漫

51动漫 Official Website

Eksplorasi Virus Avian Influenza Subtype H5n1 Clade 2.3.2.1 Isolat Asal Itik sebagai Kandidat Vaksin

Foto by CNET

Avian Influenza (AI) merupakan penyakit menular pada unggas yang bersifat zoonosis. Virus penyebab AI dapat digolongkan menjadi 3 subtype, yakni H5, H7 dan H9. Ketiga subtype virus AI dapat menyerang unggas, mamalia maupun manusia.

Di Indonesia sudah banyak dilaporkan kasus AI yang disebabkan oleh subtype H5, baik pada hewan maupun manusia, namun belum ada laporan kasus terkait kejadian pada manusia yang disebabkan oleh subtype H7 atau H9. Virus AI dapat menyerang hospes dari berbagai spesies hewan (ayam, itik, puyuh, angsa, babi, anjing, kucing) atau  manusia,  karena virus ini dapat menempel pada reseptor sialic acid alfa 2,3 dan 2,6 (SA 蓱 2,3 dan SA 蓱 2,6) yang dimiliki hospes. Tanpa adanya kedua reseptor ini virus AI tidak dapat hidup dan berkembang biak. Virus AI terbagi menjadi dua kelompok penting, yakni HPAI (highly pathogenic avian influenza) dan LPAI (low pathogenic avian influenza). Type HPAI sangat berbahaya karena dapat menyerang hewan dan manusia dengan angka kematian mencapai 100%, sementara type LPAI tidak banyak menimbulkan kerugian dan hanya menimbulkan gejala ringan atau bahkan tanpa gejala.  Saat ini virus AI di Indonesia yang berkembang hanya clade 2.3.2.1c dan merupakan clade yang dominan tersebar di berbagai provinsi, sedangkan clade 2.1.3 hanya ada di beberapa daerah (DI Yogyakarta, Sumatera Utara dan Kalimantan Utara).  

Mengingat bahaya yang ditimbulkan oleh virus AI, maka upaya terbaik untuk mencegah penyakit adalah dengan menggunakan vaksin. Vaksin AI dapat dibuat secara inaktif, yakni dengan mematikan virus  menggunakan bahan kimia seperti formalin, tetapi tanpa merusak struktur virus. Pencarian isolat yang cocok sebagai bahan vaksin dapat didasarkan atas homologi urutan nukleotida genom virus yang mewabah dengan virus yang akan dijadikan sebagai kandidat vaksin. Nilai homologi yang tinggi (mencapai 100%) berarti ada kesamaan struktur nukleotida antara virus vaksin dan virus yang mewabah, sehingga antibodi yang terbentuk nantinya sangat tepat untuk melindungi hospes dari serangan virus AI. Vaksin yang baik dapat memicu timbulnya antibodi protektif yang akan dapat melindungi hospes dari serangan infeksi virus AI. Vaksin akan bekerja untuk memicu sistema imun tubuh agar mampu menghasilkan antibodi dan selanjutnya antibodi yang terbentuk diharapkan mampu menetralisir virus yang menginfeksi tubuh hospes.

Salah satu isolat yang diharapkan mampu dijadikan sebagai kandidat vaksin AI adalah isolat virus yang berasal dari suatu peternakan itik. Isolat ini berhasil diisolasi dari anak itik umur sehari (DOD, day old duck) yang mewabah pada peternakan itik di daerah Sidoarjo. Beberapa isolat juga berhasil dikumpulkan dari daerah Mojokerto, Jombang dan Blitar. Karakterisasi terhadap semua isolat dilakukan dengan uji PCR (polymerase chain reaction) menggunakan primer spesifik genotyping subtype N1. Produk PCR berupa amplicon  dengan panjang 761 bp. Berdasarkan hasil sikuensing terhadap produk PCR yang berhasil diidentifikasi menunjukkan bahwa isolat asal  Sidoarjo dengan nama DOD_3_2013 merupakan isolat yang paling stabil dan memiliki tingkat homologi yang paling tinggi dibanding virus AI yang mewabah saat itu.

Proses pembuatan vaksin inaktif dimulai dari perbanyakan virus yang dilakukan dengan menanam virus AI pada telor ayam bermbryo (TAB). Hasil panenan virus kemudian dilakukan titrasi untuk mengetahui titer virus. Pasca ditentukan titer virus per dosis kemudian dilakukan inaktivasi virus dengan penambahan formalin. Tahap selanjutnya dilakukan formulasi vaksin dengan menambahkan adjuvant montanide. Setelah vaksin selesai diproses kemudian disimpan di dalam refrigerator sampai saat digunakan. Uji coba kandidat vaksin dilakukan dengan menggunakan ayam ras umur tiga minggu, yang dibagi menjadi dua kelompok, yakni kelompok perlakuan dan kelompok kontrol yang divaksin dengan vaksin komersiil. Hasil penelitian menunjukkan,  kandidat vaksin DOD_3_2013 mampu membentuk titer antibodi,  mulai minggu pertama hingga minggu kedelapan terus meningkat dari  0,55 (log2) hingga mencapai 8,2. Nilai protektivitas didapat hasil sebesar 100%, yang artinya kandidat vaksin mampu melindungi ayam dari infeksi virus AI berdasrakan challenge test, dibandingkan dengan vaksin komersiil.

Hasil pengujian efikasi kandidat vaksin berdasarkan titer antibodi yang terbentuk dan challenge test menunjukkan bahwa vaksin DOD_3_2013 layak digunakan sebagai vVaksin AI di Indonesia.

Disarikan oleh:  Prof. Dr. Suwarno, drh., M.Si.

Judul artikel scopus: Exploration of local isolate of highly pathogenic avian influenza clade 2.3.2.1 as vaccine candidate to prevent mass outbreak in East Jawa. Iraqi Journal of Veterinary Sciences 2022. Volume 36,  Issue 1, Page 1-7.

Sumber:

AKSES CEPAT