Kematangan menandai kemampuan yang lebih baik dalam menerima stres fisik bagi otot rangka yang sedang berkembang paska pubertas. Bagi pemerhati olahraga, otot rangka yang telah matang adalah otot yang telah siap menerima latihan ketahanan, tanpa takut risiko cidera. Sayangnya, sampai saat ini bagaimana otot rangka matang paska pubertas belum dapat dijelaskan.
Sebelum pubertas, otot rangka memiliki kerentanan yang tinggi untuk mengalami cidera. Saat menerima stres fisik, otot rangka mudah rusak. Selain itu, kemampuan otot rangka dalam mempertahankan kerja juga terbatas dalam waktu. Sistem metabolisme energi otot rangka dijalankan secara anaerobik. Metabolisme anaerobik menyebabkan otot membutuhkan suplai glukosa yang tinggi, namun menghasilkan energi yang rendah. Otot rangka bekerja kurang efisien
Setelah pubertas, efisiensi otot rangka membaik. Otot rangka mampu meningkatkan kemampuan menggunakan oksigen dalam menyelenggarakan metabolsime aerobik. Otot tidak lagi bergantung hanya kepada glukosa dan mampu menghasilkan energi yang lebih besar untuk mempertahankan kinerja dalam waktu yang lebih lama. Kerentanan cidera saat menerima beban stres fisik mengalami penurunan. Otot rangka menjadi lebih endure setelah pubertas.
Perubahan karakter otot rangka diduga dipicu oleh kemampuan sistem kardiorespirasi dalam menyediakan dan mensuplai oksigen yang lebih tinggi. Hal ini ditunjukkan oleh kepadatan jumlah kapiler otot betis mencit yang matang lebih tinggi dibandingkan dengan otot betis mencit yang belum matang. Kapiler yang lebih padat menghadirkan lingkungan aerobik dari suplai oksigen yang lebih tinggi.
Lingkungan aerobik dengan suplai oksigen yang lebih tinggi memicu otot betis beradapatasi secara fisiologis. Gen MyH7b yang terkunci paska fase embryonal mengalami aktivasi kembali. Ekpsresi dari gen MyH7b menghasilkan mir499 yang bekerja menghambat ekspresi Folliculin Interacting Protein 1 (FNIP-1). Selama ini, ekspresi FNIP-1 mengunci sinyal AMPK dalam produksi myoglobin, enzim oksidatif dan biogenesis mitokondria. Hambatan terhadap ekspresi FNIP-1, membuka kunci adaptasi otot betis untuk bertransformasi menjadi serabut otot tipe I yang lebih efisien, endure dan tidak mudah rusak saat menerima beban fisik.
Dalam penelitian ini dihadirkan bukti bahwa ekspresi FNIP-1 dalam otot betis mencit yang telah pubertas lebih rendah dibandingkan yang belum pubertas. Pubertas menandai fase perkembangan otot betis menjadi matang, efisen, lebih endure dan tahan terhadap kerusakan. Dengan demikian, setiap pemerhati olahraga seyogyanya bersabar untuk mulai memberikan beban latihan ketahanan pada otot rangka menunggu pubertas selesai.
Selain itu, penelitian ini juga mengungkap potensi penelitian lanjutan untuk mencari berbagai mdalitas intervensi yang dapat menghambat ekspresi FNIP-1 dalam rangka meningkatkan kemampuan aerobik otot rangka. Setiap intervensi yang mampu menghambat FNIP-1 berpotensi menghadirkan otot rangka yang lebih endur, tahan dari kerusakan dan efisien dalam metabolsime energi
Penulis : Bambang Purwanto
Sumber : Choiriyah, S. A., Purwanto, B., Kalanjati, V. P., Argarini, R., & Rosydiyah, A. (2025).Folliculin Interacting Protein 1 (FNIP-1) expression and capillary density in gastrocnemius muscle tissue of mice after biological maturation period. Retos, 64, 647“654. .





