Sendi temporomandibular (TMJ) merupakan sendi sinovial yang berfungsi membantu proses berbicara, membuka dan menutup mulut, serta proses mengunyah dan menelan makanan. Kerusakan pada TMJ disebut dengan gangguan temporomandibular (TMD). Gangguan ini sering terjadi tanpa disadari oleh penderitanya dan dianggap sebagai penyakit umum yang tidak memerlukan intervensi. Prevalensi TMD cukup tinggi di dunia. Sekitar 60“70% penduduk India mengalami TMD, tetapi hanya 5“7% yang mencari pengobatan. Di Indonesia, prevalensi TMD adalah 23,4% pada anak usia 7“12 tahun dan 36,9% pada remaja usia 13“18 tahun. Penelitian lainnya dilakukan pada mahasiswa kedokteran gigi yang terdiri dari 58,8% TMD dalam kategori sedang.
TMD merupakan gangguan muskuloskeletal kedua yang paling umum (setelah nyeri punggung kronis) yang menyebabkan nyeri dan kecacatan dan karenanya memengaruhi kualitas hidup. TMD menggambarkan sekelompok disfungsi muskuloskeletal umum yang mempengaruhi TMJ atau otot pengunyahan.1Gejala dan tanda-tandanya meliputi hal-hal seperti bunyi klik dan krepitasi selama proses mengunyah, yang dapat diikuti oleh nyeri sendi, nyeri otot, sakit kepala, nyeri telinga, keterbatasan gerakan mandibula, deviasi dan defleksi. Kebiasaan mengunyah pada satu sisi, bruxism dan stres merupakan faktor penyebab gangguan TMJ. Penelitian sebelumnya telah menyebutkan bahwa gangguan oklusal juga menjadi penyebab TMD, namun hingga saat ini belum ada pemahaman yang jelas mengenai hal ini. Gangguan oklusal yang disebabkan oleh reduksi oklusal tanpa adanya koreksi akan menyebabkan ketidakseimbangan oklusi atau disharmoni oklusal.8,9Disharmoni oklusal disebabkan oleh kontak gigi yang terlalu dini sehingga akan menimbulkan tekanan oklusi yang berlebihan.
Oklusi ini merupakan faktor utama timbulnya gejala TMD. Akan tetapi, apabila kondisi ini tidak ditangani, maka akan mengakibatkan tekanan pada sendi TMJ dan mengakibatkan peradangan dan berpotensi kerusakan sendi. Pada penderita disharmoni oklusal terdapat pola oklusi, dan kondisi ini akan menimbulkan hambatan atau gangguan pada proses pergerakan rahang. Pada keadaan oklusi yang tidak seimbang, pergerakan fungsional juga akan berubah, yang akan meningkatkan peningkatan biomekanik TMJ. Peningkatan biomekanik yang berlebihan tersebut menyebabkan trauma oklusi pada jaringan periodontal dan TMJ, kerusakan jaringan lunak, reaksi inflamasi dan kerusakan sel. Kerusakan sel menyebabkan munculnya damage-associated molecular patterns (DAMPS), yang akan mengaktifkan tool-like receptor 4 (TLR-4) pada proses inflamasi. Aktivasi TLR4 akan menginduksi aktivasi faktor transkripsi, yaitu sel Nuclear Factor Kappa Beta (NFκB). NFκB merupakan protein transkripsi untuk memproduksi sitokin proinflamasi. Sitokin proinflamasi terdiri dari interleukin (IL) seperti IL-6, tumor necrosis factor-alpha (TNF-a), IL-1, IL-8, dan enzim degradasi. Sitokin-sitokin ini diketahui berhubungan dengan kondisi patologis TMJ. Di sisi lain, enzim degradasi akan diinduksi oleh sitokin. Salah satu enzim degradasi adalah MMP13, yaitu enzim degradasi kolagenase yang mendegradasi kolagen tipe II sebagai penyusun utama tulang rawan kondilus. MMP13 mendegradasi matriks ekstraseluler dengan memecah kolagen dan proteoglikan dalam ikatan peptida pada protein target.
NFκB dan MMP13 memiliki peran penting dalam patogenesis kerusakan TMJ. Fungsi NFkB sebagai faktor transkripsi untuk mediator proinflamasi dan MMP13 mendegradasi matriks ekstraseluler pada tulang rawan kondilus. Namun, mekanisme peradangan yang disebabkan oleh disharmoni oklusal masih belum sepenuhnya dipahami atau dijelaskan dengan jelas. Oleh karena itu, tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis efek ekspresi NFκB dan MMP13 pada tulang rawan kondilus TMJ dengan disharmoni oklusal pada tikus Wistar (Rattus norvegicus), sebuah studi in vivo. Terdapat perbedaan yang signifikan dalam ekspresi NFκB dan MMP13 antara kelompok kontrol dan kelompok eksperimen (p<0,05). Ekspresi NFκB meningkat pada hari ke-7, ke-14, dan ke-21 pengamatan. Ekspresi MMP13 menunjukkan perbedaan yang signifikan antara kelompok kontrol dan kelompok eksperimen (p<0,05). Sebagai kesimpulan, penelitian ini menunjukkan bahwa ketidakharmonisan oklusal dapat menyebabkan peningkatan kadar ekspresi NFκB dan MMP13 dan menyebabkan gangguan temporomandibular. Temuan ini menjadi dasar untuk menyesuaikan dan meningkatkan kualitas perawatan pasien dengan gangguan TMJ. Oleh karena itu, dalam penelitian mendatang, perlu dilakukan penelitian tentang dampak spesifik MMP pada TMJ untuk memberikan pemahaman yang lebih baik tentang kerusakan TMJ dan mengembangkan terapi yang berharga untuk TMD.
Penulis: Suhartini, Ida Bagus Narmada, Zahreni Hamzah, Endang Joewarini
Link:
Baca juga: Pengaruh Posisi Gigi Kaninus yang Terimpaksi pada Rahang Atas terhadap Resorpsi Akar





