Kriptorkismus merupakan salah satu kelainan bawaan yang paling umum ditemukan pada hewan, terutama anjing dan kucing. Prevalensi kriptorkismus pada anjing dilaporkan sebesar 0,8%-10%. Kriptorkismus ditandai dengan tidak adanya satu gonad (kriptorkismus unilateral) atau keduanya (kriptorkismus bilateral) di dalam skrotum. Secara fisiologis, testis di dalam skrotum memiliki suhu yang lebih rendah, sekitar 2-4 ℃ dibandingkan dengan suhu tubuh, yaitu 32-34℃. Hipertermia abdomen dapat menyebabkan peningkatan suhu testis, yang mengakibatkan stres oksidatif. Stres oksidatif disebabkan oleh peningkatan produksi Spesies Oksigen Reaktif (ROS), penurunan aktivitas enzim antioksidan, peningkatan peroksidasi lipid, dan penurunan kadar H2O2. Kenaikan suhu di lingkungan testis yang tertahan di abdomen menyebabkan hilangnya sel germinal sehingga dapat mengakibatkan berkurangnya diameter dan ketebalan tubulus seminiferus, yang mengakibatkan penurunan fertilitas.
ROS dapat dinetralkan oleh aktivitas antioksidan senyawa fenolik. Cengkeh mengandung beberapa senyawa aktif, seperti eugenol, eugenol asetat, saponin, flavonoid, tanin, karfilena, seskuiterpenol, dan naftalena. Senyawa aktif eugenol dalam bubuk cengkeh sangat dominan, yaitu sekitar 74-76% atau 9381,7 hingga 14650 mg/100 gram, dan 0,15-0,24% eugenol asetat. Beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa eugenol dalam cengkeh dapat digunakan sebagai antioksidan .
Eugenol mampu menghentikan kerusakan akibat radikal bebas lima kali lebih efektif dibandingkan vitamin E yang dinyatakan sebagai antioksidan kuat. Pertimbangan-pertimbangan di atas menjadi dasar perlunya dilakukan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh ekstrak bunga cengkeh (Syzygium aromaticum) terhadap diameter dan tebal epitel tubulus seminiferus testis pada tikus putih (Rattus norvegicus) dengan model kriptorkismus unilateral.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh ekstrak bunga cengkeh (Syzygium aromaticum) terhadap diameter dan ketebalan epitel tubulus seminiferus testis tikus putih (Rattus norvegicus) yang diinduksi kriptorkismus. Penelitian ini menggunakan 24 ekor tikus putih jantan galur Sprague Dawley yang dibagi menjadi enam kelompok yang terdiri dari dua kelompok dengan interval yang berbeda. Kelompok interval 18 hari terdiri dari kelompok perlakuan K-1, K+1, dan P+1, sedangkan kelompok interval 36 hari terdiri dari kelompok perlakuan K-2, K+2, dan P+2. Data diameter dan ketebalan epitel tubulus seminiferus dianalisis menggunakan uji ANOVA dan dilanjutkan dengan uji Duncan pada data yang menunjukkan perbedaan signifikan (P<0,05). Berdasarkan hasil penelitian, pemberian ekstrak bunga cengkeh (Syzygium aromaticum) dengan dosis 70 mg/kg selama 18 dan 36 hari tidak berpengaruh positif terhadap penurunan diameter dan ketebalan epitel tubulus seminiferus testis tikus putih (Rattus norvegicus) yang diinduksi dengan operasi kriptorkismus.
Penulis: Budiarto
Publish di jurnal: GSC Biological and Pharmaceutical Sciences, 2025, 32(01), 176-182.
Link artikel:
Link laman jurnal:





