Infeksi cacing (soil-transmitted helminth) yang ditularkan melalui tanah secara serius mengancam kesehatan masyarakat sejak saat itu cacing menyebar melalui kontaminasi tinja lingkungan. Penyebaran infeksi cacing tambang meliputi sanitasi yang tidak memadai, kebiasaan mencuci tangan dan buang air besar sembarangan, serta bermain di tanah tanpa alas kaki. Salah satu cara utama penularan parasit usus adalah melalui konsumsi sayuran mentah, pencucian yang tidak memadai. Tujuan dari penelitian ini mengkaji kontaminasi cacing pada sayuran mentah dari pasar tradisional di Kabupaten Gresik Jawa Timur.
Jenis penelitian ini adalah observasional analitik dengan desain cross sectional dilakukan sebanyak dua bulan. Sebanyak 125 sayuran mentah termasuk wortel, kubis, selada, kentang, mustard, daun bawang, dan bayam dikumpulkan dari pasar tradisional di Kabupaten Gresik Jawa Timur diambil antara Bulan September dan Oktober 2023. Identifikasi morfologi telur dilakukan dengan mengikuti pedoman identifikasi morfologi telur cacing tanah yang ditularkan melalui tanah oleh CDC (Center for Disease Control and Prevention). Prevalensi telur (Soil-transmitted helminth) dihitung dengan membandingkan jumlah sampel positif dan jumlah sayuran yang diperiksa.
Prevalensi (Soil-transmitted helminth) telur pada sayur mentah yang dikoleksi dari Kabupaten Gresik sebesar 17,6%. Bayam adalah yang paling banyak sayuran terbanyak yang terkontaminasi telur cacing sebanyak 31,8%. Telur Ascaris adalah yang paling banyak seringnya telur cacing yang mengkontaminasi sayuran mentah yang dikumpulkan dari tradisional pasar di Gresik Jawa Timur.
Orang dapat tertular cacing tambang karena bertelanjang kaki atau bersentuhan langsung dengan tanah yang terkontaminasi kotoran manusia atau hewan yang mengandung larva cacing tambang, yang merupakan agen penular yang menyebar melalui kulit. Sejumlah faktor, terutama yang menyerang anak-anak, dapat berkontribusi terhadap penyebaran infeksi cacing tambang. Hal ini termasuk sanitasi yang tidak memadai, kebiasaan mencuci tangan dan buang air besar sembarangan, serta bermain di tanah tanpa alas kaki.
Peneliti : Dr. Hariyono, M. Kep Dosen Sekolah Pascasarjana Unair
Artikel lengkap dapat diakses di





