51¶¯Âþ

51¶¯Âþ Official Website

Membanggakan! Mahasiswa FH UNAIR Kembali Raih Juara Pada Kompetisi Debat Hukum Nasional

Kabar menggembirakan kembali datang dari Mahasiswa Fakultas Hukum 51¶¯Âþ. Kali ini, mahasiswa yang tergabung dalam Delegasi Kompetisi Debat Hukum Nasional Brawijaya Law Fair 2022 (BLF 2022) berhasil meraih Juara 3. Delegasi yang berasal dari Badan Semi Otonom Masyarakat Yuris Muda Airlangga Fakultas Hukum 51¶¯Âþ (MYMA FH UNAIR) tersebut beranggotakan Kevin Hartono (2020), Syarifah Fatimahtazzuhrah Rukhsal Assegaf (2020), dan Aditya Nur Rizki Putra (2020). Ketiganya juga didampingi oleh tiga orang researchers, yaitu Tazkia Sahria Aulia Mahmud (2020), Septi Tri Cahyanti (2021) dan Citra Agustin Pratiwi (2021). 

Dalam sebuah wawancara, perwakilan delegasi yang terdiri dari Syarifah, Aditya, dan Septi menceritakan pengalaman mereka selama mengikuti kompetisi Debat Hukum Nasional pada ajang Brawijaya Law Fair 2022 (BLF 2022). Melalui kesempatan tersebut, Syarifiah menjelaskan bahwa serangkaian kompetisi Debat Hukum Nasional Brawijaya Law Fair 2022 (BLF 2022) tersebut telah diselenggarakan oleh Fakultas Hukum Universitas Brawijaya dan sudah berlangsung sejak bulan Oktober sampai bulan November. Adapun tahapan yang harus dilalui oleh delegasi meliputi babak penyisihan, semifinal, sampai final. Perjalanan tersebut tentunya harus dilalui dengan tidak mudah karena banyak delegasi dari universitas lain yang harus dihadapi. “Kebetulan dari BLF 2022 ini, pesertanya terdiri dari 14 – 16 universitas” ujarnya menjelaskan.  

Berbagai kesulitan juga sempat dialami ketika melakukan persiapan selama dua bulan sebelum mengikuti Kompetisi Debat BLF 2022. Menurut Syarifiah, kompetisi debat hukum yang diselenggarakan secara offline lebih sulit daripada yang diselenggarakan secara online. “Jadi waktu babak penyisihan dan semifinal itu masih online. Waktu babak final baru offline, makanya kita agak kesusahan waktu peralihan dari online ke offline itu,” jelasnya. Septi kemudian menambahkan bahwa mereka juga sempat kesulitan untuk manajemen waktu latihan dan riset dengan perkuliahan yang sudah mulai offline. 

Aditya kemudian juga menjelaskan bahwa mosi yang didapatkan selama ajang kompetisi ini berkaitan dengan pemindahan Ibu Kota Negara (IKN). Hal ini tentunya didasari oleh tema yang diangkat pada ajang tersebut yakni “Penegakan Supremasi Hukum Terhadap Perpindahan Ibu Kota Negara Baru”. Setidaknya ada tiga mosi yang sempat diperdebatkan oleh delegasi tersebut pada setiap tahapan kompetisi. Babak penyisihan dengan mosi pemindahan Ibu Kota Negara (IKN) sebagai jawaban krisis perubahan iklim. Babak delapan besar dengan mosi penerapan industri kimia sebagai modal pembangunan di Ibu Kota Negara (IKN). Babak final dengan mosi tersulit tentang pembentukan badan khusus penyelesaian sengketa di wilayah Ibu Kota Negara (IKN). 

Septi yang merupakan salah satu mahasiswa dari angkatan paling muda pada delegasi tersebut mengatakan bahwa dirinya memiliki kesan awal saat terpilih menjadi delegasi. Salah satu kesan awal tersebut adalah perasaan tertantang dengan mosi-mosi yang diberikan karena perlu riset yang mendalam untuk memahaminya. Menurutnya banyak pelajaran dan pengalaman berharga yang diperoleh selama menjadi delegasi BLF 2022 kali ini.  Sebagai penutup, mereka menyampaikan tips dan trik untuk mengikuti kompetisi debat hukum. Syarifah menegaskan untuk selalu rajin berlatih dan melakukan riset. Selain itu, tambahnya, menumbuhkan kepercayaan antar anggota tim juga penting agar tidak timbul keraguan ketika kompetisi. “Di sini kita membawa nama baik almamater FH UNAIR, sehingga kekompakan tim juga penting untuk dijaga,” pungkasnya. 

Penulis: Dean Rizqullah Risdaryanto