Fakultas Kedokteran Hewan 51动漫 (FKH UNAIR) kembali menunjukkan komitmennya dalam mendukung pengendalian penyakit hewan strategis di Indonesia melalui partisipasi aktif dalam kegiatan Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) Pengendalian dan Penanggulangan Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) yang digelar pada Senin, 8 Desember 2025 di Kabupaten Bangkalan, Madura. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian acara Dies Natalis ke-54 FKH UNAIR, yang puncaknya akan dilaksanakan pada 10 Januari 2026.
Acara KIE yang diselenggarakan oleh Direktorat Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian ini bertujuan meningkatkan pemahaman peternak mengenai pentingnya vaksinasi, dampak kerugian PMK, serta langkah-langkah pencegahannya. Berdasarkan undangan resmi dari Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan , kegiatan dilaksanakan di tiga desa: Pangolangan (Burneh), Tobaddung (Klampis), dan Petrah (Tanah Merah). Prof. Dr. Widya Paramita Lokapirnasari, drh., MP., Wakil Dekan I FKH UNAIR, menjadi narasumber yang mengisi Sesi 3 di Desa Pangolangan, Kecamatan Burneh.
Kegiatan dimulai pukul 12.00 WIB dengan registrasi peserta diikuti sambutan dari aparat desa, perwakilan Dinas Peternakan Kabupaten Bangkalan, Dinas Provinsi Jawa Timur, dan Direktur Kesehatan Hewan. Setelah sesi pembukaan dan pengenalan dasar-dasar PMK pada Sesi 1, acara dilanjutkan dengan penjelasan mengenai vaksinasi PMK.

Memasuki pukul 15.05 WIB, peserta dari kalangan peternak sapi dan kambing di Desa Pangolangan menyimak paparan Prof. Widya Paramita mengenai 淒ampak Kerugian Akibat PMK yang disusun berdasarkan materi presentasi resmi narasumber.
Sebagai wilayah dengan populasi ternak ruminansia yang tinggi, Kabupaten Bangkalan sempat merasakan dampak besar dari wabah PMK pada tahun-tahun sebelumnya. Karena itu, kehadiran FKH UNAIR memberikan ruang dialog yang sangat dibutuhkan masyarakat.
Dalam paparannya, Prof. Widya menjelaskan bahwa wabah PMK bukan hanya persoalan kesehatan hewan, tetapi juga persoalan sosial-ekonomi yang berdampak luas. Berdasarkan materi presentasi, kerugian akibat PMK pada tahun 2022 tercatat mencapai Rp9 triliun, meliputi kematian ternak, pemotongan paksa, hilangnya potensi produksi, dan menurunnya daya beli peternak.
Beliau menguraikan dua kategori besar kerugian, yaitu kerugian langsung pada peternakan, seperti kematian sapi, penurunan produksi susu, gangguan reproduksi, penghambatan pertumbuhan pedet, serta biaya perawatan dan pencegahan tambahan; dan kerugian pada sektor perdagangan, mencakup turunnya mobilitas ternak, pembatasan distribusi, anjloknya transaksi di pasar hewan, serta dampaknya terhadap rantai pasokan daging dan susu.
Pada beberapa daerah, Prof. Widya menyampaikan bahwa PMK menimbulkan tekanan ekonomi yang memengaruhi stabilitas sosial masyarakat pedesaan. Peternak mengalami penurunan pendapatan drastis, hingga memicu kekhawatiran akan keberlanjutan usaha ternak rakyat.
Materi juga menyoroti dampak pada sektor lain, seperti industri pengolahan daging dan susu yang mengalami kekurangan bahan baku, serta sektor usaha lain mulai dari hotel, restoran, transportasi, hingga perdagangan yang turut terdampak akibat gangguan ekonomi di sektor peternakan.
淧MK tidak hanya merusak populasi ternak, tetapi juga mengancam mata pencaharian peternak dan ketahanan pangan nasional, demikian salah satu poin penegasan dalam materi yang dibawakan Prof. Widya. Pesan ini mendapatkan perhatian besar dari para peserta, terutama mereka yang pernah merasakan langsung dampak wabah PMK.
Setelah pemaparan materi, sesi diskusi dibuka dan diikuti dengan sangat antusias oleh peternak setempat. Mereka mengajukan berbagai pertanyaan tentang cara mengenali tanda awal PMK, mekanisme vaksinasi dan ketahanannya, serta bagaimana mengurangi kerugian ketika wabah terjadi.
Prof. Widya menjelaskan bahwa salah satu masalah utama di lapangan adalah keterlambatan dalam melaporkan kejadian klinis dan masih rendahnya cakupan vaksinasi di beberapa daerah. Ia menekankan bahwa vaksinasi berperan sangat penting dalam mencegah penyebaran virus PMK yang memiliki tingkat penularan sangat tinggi.

Beliau juga mendorong peternak untuk memperkuat manajemen kandang, membatasi lalu lintas ternak, dan bekerja sama dengan dokter hewan setempat. Edukasi seperti ini menurutnya sangat penting untuk membangun kesadaran kolektif di tingkat desa.
Selaras dengan tujuan Kementerian Pertanian untuk mencapai 淧ulau Madura Bebas PMK dengan Vaksinasi sebagaimana tercantum dalam undangan resmi kegiatan, Prof. Widya menyampaikan bahwa kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, perguruan tinggi, tenaga kesehatan hewan, dan masyarakat peternak menjadi kunci keberhasilan.
Keterlibatan FKH UNAIR dalam kegiatan KIE ini menunjukkan kontribusi nyata perguruan tinggi dalam mendukung kebijakan nasional dan memperkuat kapasitas masyarakat. Sebagai akademisi yang lama berkecimpung dalam penelitian kesehatan hewan, Prof. Widya juga menegaskan bahwa edukasi lapangan seperti ini membantu mempersempit kesenjangan informasi antara peneliti dan peternak.
Upaya ini diharapkan dapat mempercepat pemulihan ekonomi di sektor peternakan Madura dan menurunkan potensi kerugian berulang akibat PMK yang masih menjadi ancaman di berbagai wilayah Indonesia.
Kegiatan KIE PMK di Bangkalan merupakan salah satu agenda lapangan yang dilaksanakan FKH UNAIR menjelang Dies Natalis ke-54. Tahun ini, FKH UNAIR fokus memperkuat kontribusi masyarakat melalui edukasi, penelitian terapan, dan kegiatan pengabdian yang relevan dengan kebutuhan daerah.

Dengan keterlibatan dosen multidisiplin, termasuk Prof. Widya Paramita sebagai Wakil Dekan I, kegiatan ini sekaligus menjadi wujud tanggung jawab akademik FKH UNAIR dalam mendukung ketahanan kesehatan hewan nasional.
Rangkaian kegiatan Dies Natalis akan terus berlanjut hingga awal Januari, dengan acara puncak yang dijadwalkan pada 10 Januari 2026. Kontribusi FKH UNAIR pada kegiatan KIE PMK ini menjadi salah satu bentuk nyata kepedulian fakultas terhadap isu-isu strategis nasional, sekaligus memperkuat sinergi antara perguruan tinggi dan masyarakat.
Kegiatan KIE PMK di Kabupaten Bangkalan menunjukkan bahwa edukasi lapangan masih menjadi fondasi penting dalam menjaga kesehatan hewan serta kestabilan ekonomi peternak. Melalui penjelasan mendalam dari Prof. Widya Paramita mengenai besarnya kerugian akibat PMK, peternak di daerah Burneh mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang risiko yang mereka hadapi dan langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk melindungi ternak mereka.
Dengan semangat Dies Natalis ke-54, FKH UNAIR terus berkomitmen untuk hadir di tengah masyarakat dan memberikan kontribusi terbaik bagi pengembangan sektor peternakan Indonesia.
Penulis: Arindita Niatazya Novianti, drh., M.Si




