Fakultas Kedokteran Hewan 51动漫 (FKH UNAIR) kembali menjangkau masyarakat peternak di Madura melalui kegiatan Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) Pengendalian dan Penanggulangan Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) yang diselenggarakan pada Senin, 8 Desember 2025. Kali ini, kegiatan berlangsung di Desa Tobaddung, Kecamatan Klampis, Kabupaten Bangkalan, melibatkan puluhan peternak sapi dan kambing yang datang untuk memperoleh pengetahuan dan panduan langsung dari tenaga ahli FKH UNAIR.
Kegiatan KIE ini merupakan agenda bersama antara Direktorat Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian dan pemerintah daerah. FKH UNAIR menghadirkan tiga narasumber pada kegiatan tersebut, dan untuk sesi di Desa Klampis, materi disampaikan oleh Dr. Emy Koestanti Sabdoningrum, drh., M.Kes., dosen Divisi Peternakan FKH UNAIR yang dikenal aktif dalam program penguatan peternakan rakyat serta pengendalian penyakit hewan menular.
Kegiatan ini juga menjadi bagian dari rangkaian Dies Natalis ke-54 FKH UNAIR, yang tahun ini mengusung semangat kolaborasi dan pengabdian masyarakat. Fakultas menjadikan KIE PMK sebagai salah satu agenda lapangan prioritas untuk memperkuat peran edukatif di daerah dengan populasi ternak tinggi seperti Madura.
Berdasarkan jadwal kegiatan resmi, rangkaian acara dimulai pada pukul 13.00 WIB dengan sambutan dari perangkat desa, diikuti perwakilan Dinas Peternakan Bangkalan dan Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur. Para peserta kemudian mengikuti sesi dasar mengenai pengenalan PMK yang dipandu fasilitator setempat.
Setelah sesi pemahaman awal dan penjelasan mengenai vaksinasi, Dr. Emy Koestanti tampil sebagai narasumber dengan materi inti mengenai strategi pengendalian PMK serta peran peternak dalam pencegahan penyebarannya. Penjelasan beliau disusun berdasarkan pengalaman lapangan dan rekomendasi praktis yang relevan dengan kondisi peternak di Madura.
Suasana diskusi berlangsung santai namun serius, mengingat banyak peserta pernah mengalami langsung dampak wabah PMK pada tahun 20222023.

Pada bagian pertama pemaparan, Dr. Emy menjelaskan kembali karakteristik PMK sebagai penyakit virus yang sangat mudah menyebar antar-hewan melalui kontak langsung maupun media perantara seperti kendaraan pengangkut, pakan, dan peralatan kandang. Ia menekankan bahwa kecepatan penularan PMK jauh lebih tinggi dibandingkan banyak penyakit lain, sehingga langkah pencegahan harus menjadi prioritas.
Dr. Emy menegaskan bahwa keberhasilan pengendalian tidak hanya bergantung pada intervensi pemerintah, tetapi juga pada kedisiplinan peternak dalam menjalankan biosekuriti sederhana seperti membatasi keluar-masuk ternak, menyediakan tempat cuci kaki dan semprotan disinfektan, memisahkan hewan sakit dari hewan sehat, dan memastikan kebersihan kandang terjaga setiap hari.
Ia menjelaskan bahwa langkah-langkah ini, meskipun terlihat sederhana, dapat membantu menekan risiko penularan secara signifikan di tingkat desa.
Dalam sesi berikutnya, Dr. Emy memberikan penjelasan menyeluruh mengenai vaksinasi PMK dan cara kerjanya. Ia menjelaskan bahwa vaksin PMK berfungsi merangsang kekebalan ternak agar lebih tahan terhadap virus, sehingga bila ada paparan, tingkat keparahan penyakit dapat ditekan.
Namun, ia mengingatkan bahwa vaksin bukan satu-satunya solusi. Vaksinasi harus didukung manajemen kandang yang baik, serta pemantauan rutin kondisi kesehatan ternak.

Dr. Emy juga menyampaikan beberapa alasan mengapa vaksinasi di lapangan terkadang kurang optimal, antara lain jadwal vaksinasi yang tidak seragam, pemahaman peternak yang masih beragam, dan mitos yang sering berkembang terkait efek vaksin.
Untuk itu, ia mengajak peternak agar selalu berkoordinasi dengan dokter hewan atau petugas lapangan, terutama bila ada ternak yang menunjukkan gejala mirip PMK seperti air liur berlebihan, lemas, atau luka pada kuku.
淧MK bukan hanya merugikan secara ekonomi, tetapi juga membuat peternak kehilangan rasa aman dalam beternak. Makanya kita perlu mencegah jangan sampai kejadian 2022 terulang kembali, jelas Dr. Emy dalam salah satu penuturannya.
Beliau juga menambahkan bahwa PMK dapat memengaruhi aktivitas ekonomi di sektor lain seperti perdagangan sapi, pasar hewan, hingga usaha kecil berbasis daging dan susu. Karena itu, pengendalian PMK penting tidak hanya bagi peternak, tetapi juga bagi stabilitas ekonomi daerah.
Sesi diskusi menjadi bagian yang paling menarik dalam kegiatan di Klampis. Peternak mengajukan pertanyaan seputar cara memastikan vaksinasi aman, bagaimana mengenali gejala ringan yang sering terlewat, serta apa yang harus dilakukan bila ternak mereka baru saja didatangkan dari luar desa.

Dr. Emy menjawab setiap pertanyaan dengan pendekatan yang praktis dan sesuai kondisi lapangan. Ia menekankan pentingnya dokumentasi sederhana seperti mencatat tanggal vaksinasi, jumlah ternak yang divaksin, dan kondisi kesehatan sebelum vaksin. Menurutnya, catatan kecil seperti itu sangat membantu ketika terjadi kejadian penyakit.
Pada beberapa pertanyaan lain, beliau menyampaikan perlunya edukasi berkelanjutan, bukan hanya sekali dalam setahun. Ia mendorong peternak untuk membentuk kelompok kecil yang bisa menjadi pusat informasi dan saling membantu dalam kondisi darurat.
Dalam sesi penutup, Dr. Emy mengingatkan bahwa keberhasilan pengendalian PMK di Madura membutuhkan kolaborasi erat antara pemerintah, perguruan tinggi, tenaga kesehatan hewan, dan peternak. Ia menyebut kegiatan KIE seperti ini sebagai salah satu langkah nyata untuk memperkuat jejaring dan mempercepat target 淢adura Bebas PMK dengan Vaksinasi.
Beliau juga menyampaikan apresiasi kepada pemerintah daerah dan peternak Klampis yang hadir dan aktif dalam diskusi. Menurutnya, keterbukaan peternak dalam bertanya dan berbagi pengalaman merupakan modal penting dalam menggerakkan keberhasilan program pengendalian PMK.

Sebagai bagian dari rangkaian Dies Natalis ke-54, kegiatan ini mencerminkan komitmen FKH UNAIR untuk mendukung pembangunan sektor peternakan melalui edukasi dan penguatan kapasitas masyarakat. Tahun ini, fakultas menaruh perhatian pada respons terhadap penyakit hewan strategis, pengembangan teknologi pakan, serta upaya peningkatan kesejahteraan peternak.
Kegiatan KIE PMK di Desa Klampis menegaskan bahwa FKH UNAIR tidak hanya hadir dalam penelitian dan pendidikan di kampus, tetapi juga aktif menjangkau masyarakat di tingkat desa yang menjadi garda terdepan dalam menjaga kesehatan hewan.

Dengan penyampaian materi yang mudah dipahami dan diskusi yang responsif, kegiatan di Desa Klampis menjadi salah satu contoh bagaimana perguruan tinggi dapat berperan langsung dalam menguatkan ketahanan ternak di daerah.
Penulis: Arindita Niatazya Novianti, drh., M.Si




