Endometriosis menyebabkan kemandulan, namun mekanisme pastinya masih belum sepenuhnya dipahami. Menurut sebuah penelitian, sekitar 25% menjadi 50% wanita dengan infertilitas didiagnosis menderita endometriosis dan 30% hingga 50% wanita yang didiagnosis menderita endometriosis menghadapi tantangan dalam kesuburan. Pada endometriosis terjadi penurunan kualitas oosit. Tingkat pembuahan oosit dan pembelahan embrio lebih rendah pada wanita penderita endometriosis yang menjalani fertilisasi in vitro. Mekanisme infertilitas pada endometriosis adalah perlengketan panggul dan endometrioma, serta produksi faktor inflamasi yang berlebihan di lingkungan panggul, sehingga mempengaruhi potensi kesuburan wanita sehingga mengubah fungsi kesuburan. Endometriosis menginduksi makrofag untuk melepaskan IL-1, tumor necrosis factor-伪 (TNF-伪), dan sitokin lain yang tidak hanya menghambat produksi progesteron yang diinduksi gonadotropin oleh sel granulosa tetapi juga produksi androgen oleh sel teka. Namun, bahkan sitokin yang disekresikan oleh makrofag cairan peritoneum menghambat proses steroidogenesis. Pada wanita dengan endometriosis, terjadi peningkatan konsentrasi sitokin seperti TNF-伪, Interleukin-8, Interleukin-10, Interleukin-6, faktor pertumbuhan turunan makrofag, dan faktor perangsang koloni makrofag (M-CSF). Makrofag pada wanita dengan endometriosis dilaporkan mengeluarkan fibronektin dalam jumlah besar, dan endometriosis ringan dikaitkan dengan penurunan aktivitas faktor pengaktif trombosit asetilhidrolase.
Kualitas oosit pada pasien endometriosis diduga mengalami perubahan, dalam siklus IVF atau ICSI yang khas, sekitar 70% oosit matang diharapkan dapat dibuahi. Sebagian besar laboratorium menetapkan indikator kinerja utama sebesar 50-60% fertilisasi dari seluruh hasil oosit per siklus. Tingkat pembuahan lebih rendah kurang dari 30% setelah ICSI atau 10-40% setelah IVF konvensional kadang-kadang dapat diamati karena alasan seperti ketidakmatangan oosit, jumlah oosit keseluruhan yang rendah, oosit abnormal, dan faktor pria yang parah. Endometriosis menyebabkan pelepasan sitokin inflamasi seperti TNF-伪. Sitokin TNF-伪 adalah sitokin pleiotropik yang memediasi berbagai respon biologis, termasuk peradangan, infeksi, cedera sel dan apoptosis, dimana kadar TNF-伪 dalam cairan peritoneum wanita dengan endometriosis terbukti jauh lebih tinggi daripada di kontrol. TNF-伪 dapat menyebabkan gangguan ekspresi gap. Endometriosis mempengaruhi gap persimpangan pada sel granulosa yang mengelilingi oosit. Kalsium dalam lingkungan intraseluler dapat diangkut dari retikulum endoplasma (ER) ke mitokondria dan lisosom. Kalsium dilepaskan dari retikulum doplasma en (ER) melalui reseptor IP3 (IP3R) dan reseptor ryanodine (RyR). Perubahan kadar kalsium dapat berdampak pada fungsi mitokondria, yang menyebabkan peningkatan kadar sitokrom c. Akibatnya, terjadi penurunan produksi ATP dan gangguan aktivitas faktor pemacu maturasi (MPF). Gangguan-gangguan ini mengganggu proses pematangan oosit dan mengakibatkan penurunan kualitas oosit. MPF adalah kompleks yang terdiri dari cyclin B dan cyclin-dependent kinase 1 (Cdk1).
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh endometriosis terhadap kadar kalsium intraseluler, ekspresi Cdk1, dan ekspresi cyclin B dalam oosit. Tiga puluh dua ekor mencit (Mus musculus) dibagi menjadi kelompok kontrol dan kelompok endometriosis. Kompleks kumulus oosit (COC) diperoleh pada semua kelompok. Sel-sel yang mengalami denudasi dinilai kadar kalsiumnya dengan pemeriksaan kalorimetri. Oosit kompleks diperiksa untuk ekspresi Cdk1 dan cyclin B dengan sitokimia imun dan dibaca di bawah mikroskop. Kadar kalsium antar sel, ekspresi Cdk1, dan cyclin B secara signifikan lebih rendah pada kelompok endometriosis dibandingkan pada kelompok kontrol. Terdapat hubungan yang signifikan antara kadar kalsium dengan ekspresi Cdk1 (p<0.05, r=0.659), terdapat hubungan yang signifikan antara kadar kalsium dengan ekspresi cyclin B (p<0.05, r=0.885), serta terdapat korelasi yang signifikan antara kadar Cdk1. dan ekspresi cyclin B (p<0,05, r=0,537). Kesimpulan, data yang disajikan dalam penelitian ini menunjukkan bahwa kadar kalsium oosit intraseluler, ekspresi Cdk1, dan ekspresi cyclin B lebih rendah pada tikus dengan endometriosis. Korelasi positif diamati antara kadar kalsium dan ekspresi Cdk1 dan cyclin B. Selain itu, korelasi positif juga ditemukan antara ekspresi Cdk1 dan cyclin B.
Penulis: Widjiati
Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan di





