Mengapa Infeksi Jamur Sulit Sembuh?
Banyak perempuan di dunia, termasuk di Indonesia, pernah mengalami infeksi jamur pada area kewanitaan yang disebut Vulvovaginitis Candidiasis (VVC). Penyakit ini disebabkan oleh jamur Candida albicans. Masalahnya, jamur ini pintar sekali bertahan hidup: mereka membuat benteng berupa biofilm, semacam lapisan lendir pelindung yang membuat obat antijamur sulit menembus dan bekerja efektif. Akibatnya, pengobatan sering gagal dan terjadi infeksi berulang.
Temuan Baru: Senjata dari Enzim Siput
Tim peneliti dari Universitas Wijaya Kusuma Surabaya dan 51 meneliti aktivitas enzim khusus bernama β-1,3-glukanase terhadap biofilm Candida albicans yang diambil dari sampel hapusan vulvovaginitis. Enzim ini awalnya ditemukan di dalam sistem pencernaan siput (Achatina fulica) dan berhasil diproduksi lewat teknologi DNA rekombinan oleh tim peneliti dari Fakultas Sains dan Teknologi 51. Fungsinya? Enzim ini bisa menghidrolisis dan menghancurkan biofilm jamur, sehingga benteng pertahanan Candida menjadi rapuh.
Cara Kerjanya
Ketika enzim β-1,3-glukanase digunakan bersama obat antijamur fluconazole, hasilnya kinerja anti jamur ini jauh lebih efektif. Biofilm Candida bisa dihancurkan hingga lebih dari 80%, dan jumlah sel jamur hidup berkurang lebih dari 70%. Bayangkan, seperti ada pasukan yang menghancurkan dinding benteng, lalu pasukan utama (obat antijamur) bisa langsung menyerang musuh di dalamnya.
Dampak Penelitian Ini
Hasil penelitian ini membuka harapan baru dalam mengatasi infeksi jamur yang selama ini sulit disembuhkan. Dengan bantuan enzim rekombinan, pengobatan bisa menjadi lebih efektif, dosis obat bisa diturunkan sehingga efek samping berbahaya seperti kerusakan hati atau ginjal dapat dikurangi.
Langkah Selanjutnya
Penelitian ini masih dilakukan di laboratorium (uji in vitro). Tahap berikutnya adalah menguji pada hewan dan manusia untuk memastikan keamanan dan efektivitasnya. Jika berhasil, kita bisa punya terapi baru yang lebih ampuh melawan infeksi jamur membandel.
Penulis: Prof. Dr. Afaf Baktir, M.S
Detail tulisan ini dapat dilihat di:





