51动漫

51动漫 Official Website

Gigi Susu dan Bahan Implan, Kombinasi Masa Depan untuk Regenerasi Tulang Rahang

Ilustrasi Tulang Rahang. (sumber: Alodokter)
Ilustrasi Tulang Rahang (Foto: Alodokter)

Kehilangan tulang alveolar攖ulang yang menopang gigi攁dalah masalah serius dalam dunia kedokteran gigi. Kerusakan ini bisa terjadi akibat infeksi, trauma, penyakit periodontal, atau pencabutan gigi, dan seringkali menyebabkan gangguan fungsi dan estetika rongga mulut. Untuk mengatasinya, regenerasi tulang menjadi solusi utama. Penelitian terbaru dari tim peneliti Fakultas Kedokteran Gigi 51动漫 bekerja sama dengan Hiroshima University menunjukkan potensi luar biasa dari kombinasi sel punca gigi susu (SHED) dan bahan scaffold sintetis berbasis PMMA-HA untuk memperbaiki kerusakan tulang tersebut.

SHED, atau stem cells from human exfoliated deciduous teeth, merupakan sel punca yang diisolasi dari pulpa gigi susu yang tanggal secara alami. Sel ini sangat menjanjikan dalam bidang rekayasa jaringan karena mudah diperoleh, memiliki kemampuan regeneratif tinggi, serta tidak menimbulkan reaksi penolakan yang serius. Dalam penelitian ini, SHED dikombinasikan dengan scaffold (rangka penyangga jaringan) berbahan polymethylmethacrylate dan hydroxyapatite (PMMA/HA). PMMA dikenal sebagai bahan plastik medis yang kuat dan mudah dibentuk, sementara HA adalah mineral utama penyusun tulang yang memiliki kemampuan osteokonduktif, yaitu mendukung pertumbuhan tulang baru.

Penelitian dilakukan menggunakan tikus Wistar yang gigi depannya dicabut untuk menciptakan defek tulang alveolar. Selanjutnya, daerah tersebut diisi dengan scaffold PMMA/HA, baik dengan atau tanpa SHED. Setelah 14 dan 28 hari, jaringan tulang diperiksa secara histologis untuk melihat respons regeneratif.

Hasilnya mengejutkan: kelompok yang menerima scaffold + SHED menunjukkan peningkatan signifikan dalam jumlah sel-sel penting untuk penyembuhan tulang seperti makrofag, fibroblas, limfosit, sel plasma, osteoblas (pembentuk tulang), dan jaringan tulang anyaman (woven bone). Sebaliknya, jumlah osteoklas攕el pemecah tulang攍ebih sedikit dibanding kelompok tanpa SHED. Artinya, SHED tidak hanya mempercepat proses pembentukan tulang baru, tetapi juga menekan proses penghancuran tulang.

Efek positif ini diperkirakan berasal dari kemampuan SHED dalam menghasilkan berbagai faktor penyembuhan seperti sitokin, faktor pertumbuhan, dan molekul imunomodulator. Selain itu, kombinasi SHED dengan HA dalam scaffold terbukti mampu menciptakan lingkungan mikro yang ideal untuk regenerasi tulang secara alami.

Penelitian ini menunjukkan bahwa SHED dalam scaffold PMMA/HA adalah kombinasi menjanjikan sebagai terapi regeneratif tulang alveolar di masa depan. Terutama bagi pasien yang kehilangan tulang akibat trauma, penyakit, atau tindakan bedah, pendekatan ini dapat menjadi alternatif baru yang lebih aman, terjangkau, dan mudah diterima tubuh.

Meski masih berada pada tahap penelitian hewan, hasil ini membuka peluang besar untuk pengembangan terapi berbasis sel punca gigi susu dalam praktik klinis kedokteran gigi regeneratif. Langkah selanjutnya tentu adalah uji klinis pada manusia untuk mengonfirmasi keamanan dan efektivitasnya. Yang pasti, masa depan regenerasi tulang kini bisa jadi bermula dari sesuatu yang sederhana: gigi susu yang tanggal.

Penulis: Prof. Tania Saskianti, drg., Sp.KGA, Subsp. AIBK (K)., Ph.D.

Link:

AKSES CEPAT