Olahraga panjat tebing memerlukan teknik khusus yang kompleks dan atlet biasanya harus menggunakan kemampuan dan ketahanannya secara maksimal ketika melakukan olahraga ini. Teknik yang dignakan pada olahraga panjat tebing ini meliputi menggantung pada dinding menggunakan tangan dan kaki dimana tangan, jari, dan ujung jari menjadi tumpuan utama. Gerakan yang kompleks ini meningkatkan resiko cedera pada tendon flexor digitorum profundus (FDPT). Dilaporkan bahwa cedera tendon flexor mencapai 7% dari cedera tangan. Cedera tertutup tendon flexor terjadi sekitar 40% dari cedera pada olahraga ini dan menurunkan secara drastis kemampuan atlet. Diagnosis pada ruptur tertutup FPDT di zona I sering terlewatkan sehingga menyebabkan teknik terapi menjadi sulit. Jika tidak ditangani dengan baik, sendi distal interphalangeal akan kehilangan ruang gerak dimana akan menimbulkan gangguan dalam teknik genggaman dan jepitan tangan.
Tindakan operasi sangat diperlukan pada ruptur FDPT untuk memfasilitasi proses penyembuhan. Sekitar 30% dari kasus ini dapat terjadi pembentukan adesi dimana memberikan disabilitas yang sangat mengganggu. Tujuan dari operasi ini adalah untuk mengembalikan fungsi jari dan mencegah adhesi dan jaringan fibrosis. Maka dari itu, teknik operasi, teknik rehabilitasi dan bahan biologis pencegah adhesi diperlukan untuk mencapai fungsi gerak jari yang mendekati normal.
Pada laporan kasus ini, seorang atlet panjat tebing yang mengalami cedera rupture FDPT pada zona I akan dilakukan operasi perbaikan menggunakan tendon grafting dari tendon otot palmaris longus. Hal yang menjadi tantangan dalam kasus ini adalah kondisi cedera jari tengah pasien ini sudah dialami selama 3 bulan dan sempat mendapatkan suntikan antinyeri dan steroid pada jari tersebut. Kondisi tersebut menyebabkan retraksi dari FDPT dari zona I ke zona III sehingga menyulitkan saat perencaan operasi perbaikan meskipun tidak ditemukan ligament annularis yang ruptur. Penggunaan tendon grafting menjadi pilihan untuk melakukan perbaikan tendon primer. Perbaikan tendon dua tahap tidak menjadi pilihan karena posisi tendon bagian proximal setelah ditarik berada pada zona II.
Pada zona II ini akan sangat tinggi kejadian adhesi tendon, sehingga pilihan yang biasa diambil adalah arthrodesis. Hal ini tidak dapat dilakukan mengingat bahwa pasien ini adalah seorang atlet panjat tebing yang membutuhkan fungsi jari dapat kembali mendekati normal. Maka dari itu, pilihan perbaikan tendon primer yang menggunakan Membran amnion (AM) yang ditambahkan sel punca mesenkimal turunan adiposa (ADMSC) dipersiapkan sebelum operasi di Bank Jaringan dan Sel RSUD dr. Soetomo Surabaya. AM yang digunakan mempunyai diameter pori 1.9 卤 0.3 渭m dengan konsentrasi ADMSC 1.533 x 106 cells/mL Teknik penjahitan tendon yang digunakan untuk menyambung tendon palmaris longus dan FDPT menggunakan teknik modified Kessler dan running suture. Penggunaan tendon graft ini menyebabkan adanya sambungan tendon yang terletak pada zona I dan zona II. Untuk mengatasi resiko adhesi tersebut, penggunaan AM yang ditambahkan ADMSC ini ditempatkan pada sambungan tendon tersebut. Hasil dari kombinasi teknik operasi dan penggunaan AM yang ditambahkan ADMSC ini sangat memuaskan. Pada saat sebelum operasi, ruang gerak flexi distal interphalangeal joint (DIPJ) 0o dengan total active motion (TAM) 117o dan %TAM sebsear 41% (buruk) serta DASH score 61.7. Pada 3 tahun paskaoperasi, ruang gerak flexi DIPJ 54o dengan TAM 234o dan %TAM sebsear 95% (sangat baik) serta DASH score 0. Pasien dapat kembali mengikuti pertandingan panjat tebing kategori speed climbing pria dan memenangkan medali emasi pada kejuaraan dunia International Federation of Sport Climbing World Championships 2022.
Banyak penelitian melaporkan hasil yang kurang memuaskan pada penggunaan pencegah inflamasi dan material biologis untuk mencegah adhesi pada sambungan tendon paska operasi. AM mempunyai imugensitas yang rendah, karena mengandung human HLA-G yang merupakan faktor imunosupresif dan Fas ligand. Melalui sekresi metalloproteinase dan menurunkan kadar transforming growth factor-b, AM mempunyai fungsi sebagai anti-adhesif dan anti-jaringan parut. AM yang diselubungkan pada area sambungan tendon akan memberikan pergerakan yang halus sehingga menyerupai selubung tendon. Dengan penambahan ADMSC, pada beberapa penelitian melaporkan bahwa ADMSC menginisiasi penyusunan serat kolagen pada tendon dan dapat berdiferensiasi menjadi tenosit serta memfasilitasi regenerasi jaringan.
Operasi perbaikan tendon pada cedera ruptur tendon flexor yang dialami oleh seorang atlet panjat tebing ini menjadi sangat penting dan memerlukan perhatian khusus guna mendapatkan hasil gerakan dan kekuatan jari mendekati normal. AM yang ditambahkan ADMSC menjadi barrier biologis untuk mencegah formasi adhesi dan menginisasi diferesiasi tenosit yang dapat meningkatkan percepatan penyembuhan tendon khususnya pada zona tinggi adhesi, zona I dan zona II.
Oleh: Dr. Heri Suroto, dr., Sp.OT (K)
Dep. Orthopaedi dan Traumatologi, Fakultas Kedokteran 51动漫
Judul Jurnal: Long term functional outcome evaluation in post flexor digitorum profundus tendon zone I rupture repaired by palmaris longus tendon grafting augmented with human amniotic membranes and adipose derived mesenchymal stem cell: A case report
Authors: Heri Suroto, Benedictus Anindita Satmoko, Twindy Rarasati, Tabita Prajasari
Dipublikasikan di: International Journal of Surgery Case Reports
Link: https://doi.org/10.1016/j.ijscr.2023.107960





