Pemeriksaan payudara menggunakan USG (ultrasonografi) menjadi salah satu cara penting untuk mendeteksi kanker sejak dini. Metode ini aman karena tidak menggunakan radiasi dan cukup sensitif, terutama pada wanita yang memiliki jaringan payudara padat. Namun, keberhasilan diagnosis lewat USG sangat bergantung pada keterampilan operator dan kualitas alat yang digunakan. Oleh karena itu, latihan dan uji kualitas alat menjadi hal yang penting dilakukan secara rutin. Salah satu alat bantu yang sering digunakan dalam pelatihan dan pengujian kualitas USG adalah benda tiruan yang menyerupai jaringan tubuh manusia, yang disebut dengan “phantom”. Sayangnya, phantom komersial sering kali sangat mahal dan komposisinya dirahasiakan oleh produsen. Untuk mengatasi keterbatasan ini, sekelompok peneliti dari ITS, UNAIR, ITB, dan Universitas Malaya melakukan penelitian untuk membuat phantom alternatif yang murah, aman, dan menyerupai jaringan payudara asli. Bahan utama yang mereka gunakan adalah plastik PVC yang dicampur dengan pelarut DOP dan gliserol.
Dalam penelitian ini, tim membuat empat jenis phantom latar belakang dengan kadar gliserol yang berbeda, yaitu 0%, 5%, 10%, dan 15%. Di dalam phantom tersebut ditanamkan benjolan buatan (disebut “lesi”) yang terbuat dari berbagai bahan seperti gips, karet silikon, dan grafit. Tujuannya adalah meniru berbagai jenis jaringan atau massa yang bisa ditemukan dalam tubuh manusia. Setelah itu, seluruh phantom diuji untuk melihat bagaimana karakteristik fisik dan kualitas gambarnya jika dipindai menggunakan mesin USG. Hasilnya menunjukkan bahwa semakin tinggi kadar gliserol yang ditambahkan, maka phantom tersebut menjadi semakin mirip dengan jaringan payudara asli. Penambahan gliserol meningkatkan kepadatan, elastisitas, serta kemampuan phantom dalam memantulkan gelombang suara ” tiga hal yang sangat penting agar hasil pencitraan USG menyerupai kondisi nyata. Salah satu temuan penting adalah bahwa phantom dengan 5% gliserol (yang disebut Phantom B) memiliki sifat fisik dan akustik paling mendekati jaringan payudara manusia.
Dari sisi pencitraan, phantom yang tidak mengandung gliserol (Phantom A) menghasilkan gambar yang cenderung gelap dan tidak memunculkan batas-batas benjolan dengan jelas. Sementara itu, phantom yang mengandung gliserol (Phantom B, C, dan D) menunjukkan gambar USG yang lebih cerah dan memiliki kontras yang baik. Semakin tinggi kadar gliserol, gambar menjadi semakin jelas, dan benjolan buatan lebih mudah dikenali. Ini penting untuk melatih keterampilan membaca gambar USG, terutama dalam mengenali bentuk dan batas benjolan yang mencurigakan. Selain itu, ukuran lesi buatan yang terlihat di layar USG juga cukup akurat bila dibandingkan dengan ukuran sebenarnya. Rata-rata perbedaan ukuran yang terlihat di layar hanya sekitar 5“6%, yang masih dianggap sangat baik untuk keperluan pelatihan. Ini berarti phantom buatan ini cukup andal untuk digunakan sebagai alat bantu latihan bagi tenaga kesehatan seperti dokter, sonografer, atau mahasiswa kedokteran.
Tak hanya itu, penambahan gliserol juga terbukti membuat gambar lebih stabil dan minim gangguan, baik dalam hal kebisingan visual (noise) maupun kejelasan objek (kontras). Bahkan, dari pengukuran nilai teknis seperti Signal-to-Noise Ratio (SNR) dan Contrast-to-Noise Ratio (CNR), phantom dengan gliserol memberikan hasil yang lebih tinggi ” menunjukkan bahwa gambar yang dihasilkan lebih bersih dan lebih mudah dibaca. Penelitian ini membawa kabar baik bagi dunia pendidikan dan pelatihan medis. Dengan bahan yang relatif murah dan mudah ditemukan di pasaran, phantom payudara buatan ini bisa diproduksi sendiri oleh lembaga pendidikan atau rumah sakit untuk melatih tenaga medis secara berkelanjutan. Keunggulan lainnya adalah phantom ini tahan lama, tidak beracun, tidak mudah berjamur, dan bisa digunakan berkali-kali tanpa bahan pengawet tambahan.
Meskipun hasilnya menjanjikan, para peneliti mengakui masih ada beberapa tantangan yang harus diperbaiki. Salah satunya adalah munculnya gelembung udara selama proses pembuatan karena perbedaan suhu antara adonan dan cetakan. Selain itu, uji penggunaan jangka panjang belum dilakukan, sehingga stabilitas bahan dalam jangka waktu lama masih perlu dievaluasi di masa depan. Secara keseluruhan, penelitian ini berhasil membuktikan bahwa phantom buatan lokal dengan bahan dasar PVC dan tambahan gliserol dapat menjadi alternatif yang efektif untuk pelatihan USG payudara. Phantom ini mampu meniru sifat fisik dan akustik jaringan payudara manusia, seperti kepadatan, elastisitas, dan pantulan suara, yang sangat penting untuk menghasilkan gambar USG yang realistis.
Dengan biaya yang lebih rendah dan bahan yang mudah didapat, phantom ini bisa menjadi solusi praktis bagi institusi pendidikan dan fasilitas kesehatan, khususnya di negara berkembang. Selain mendukung pelatihan tenaga medis, phantom ini juga dapat digunakan untuk memastikan kualitas alat USG tetap optimal. Di masa depan, diharapkan pengembangan lanjutan dapat membuat phantom ini makin tahan lama dan digunakan untuk berbagai jenis pemeriksaan medis lainnya.
Penulis: Prof. Dr. Anggraini Dwi Sensusiati, dr., Sp.Rad., Subsp. NKL(K)
Link:





