51动漫

51动漫 Official Website

Evaluasi Potensi Bahaya Kontaminasi Mikroplastik Kerang Hijau dari Pasar Ikan Tradisional

Ilustrasi komunitas kerang (Foto: lifestyle okezone.com)
Ilustrasi komunitas kerang (Foto: lifestyle okezone.com)

Produksi plastik di seluruh dunia terus meningkat setiap tahunnya seiring dengan pertumbuhan populasi dan konsumsi, yang menyebabkan peningkatan sampah plastik. Pada tahun 2050, sampah plastik global diperkirakan akan mencapai 12 miliar ton. Sampah plastik yang masuk ke lingkungan perairan dapat terurai dan terdegradasi menjadi partikel berukuran 0,1 mm hingga 5 mm, yang biasa disebut sebagai mikroplastik (MP). Mikroplastik dapat tersebar di seluruh kolom air dan mengendap di lapisan sedimen. Distribusi mikroplastik di lingkungan perairan sangat dipengaruhi oleh ukuran, bentuk, dan kepadatannya.

Biota laut, khususnya kerang hijau, dapat dengan mudah menyerap mikroplastik karena ukuran partikel dan efisiensi penyaringan kerang. Penelitian menunjukkan bahwa kerang hijau di Teluk Jakarta mengandung 14 partikel mikroplastik per gram jaringan. Mikroplastik telah diidentifikasi pada kerang hijau dari Sulawesi Selatan, dengan konsentrasi sekitar 4 partikel per gram jaringan, dari pantai India pada konsentrasi sekitar 3,2 partikel per gram jaringan, dan dari teluk di Thailand, dengan rata-rata sekitar 3,43 卤 0,21 partikel per individu.

Mikroplastik yang terakumulasi dalam sistem pencernaan kerang dapat memengaruhi kesehatan kerang, termasuk penyumbatan saluran pencernaan, gangguan pertumbuhan, dan kekurangan nutrisi. Kerang hijau merupakan makanan laut ketiga yang paling banyak dikonsumsi, cukup populer di Indonesia, termasuk Jakarta, dan memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Kerang hijau merupakan salah satu produk makanan laut yang umum dijual di pasar ikan tradisional di Indonesia dan merupakan sumber nutrisi yang murah.

Kerang hijau merupakan salah satu produk makanan laut yang umum tersedia di pasar tradisional, dan telah ditemukan mengandung mikroplastik yang berasal dari perairan yang tercemar. Mikroplastik telah terdeteksi pada kerang hijau yang dijual di pasar tradisional di Thailand, menunjukkan kelimpahan 7,32 卤 8,33 partikel per individu atau 1,53 卤 2,04 partikel/g. Kelimpahan mikroplastik yang ditemukan pada kerang hijau yang dijual di Indonesia, khususnya di pasar ikan Kedonganan di Bali, adalah sekitar 5,37 卤 1,07 partikel/g.

Temuan ini menunjukkan bahwa mikroplastik telah terdeteksi pada kerang yang didistribusikan secara komersial di pasar sebagai makanan laut untuk konsumsi. Rantai makanan merupakan salah satu jalur perpindahan mikroplastik dari kerang ke manusia melalui konsumsi kerang yang terkontaminasi. Kerang biasanya dikonsumsi secara utuh, yang mengakibatkan tertelannya mikroplastik oleh manusia. Konsumsi bivalvia yang mengandung mikroplastik dapat mengakibatkan stres oksidatif, gangguan peredaran darah, pencernaan, reproduksi, dan pernapasan, serta kanker akibat zat aditif dan kontaminan terkait.

Penelitian sebelumnya telah menilai konsumsi kerang oleh manusia. Di Indonesia, estimasi asupan mikroplastik melalui konsumsi kerang hijau adalah 775.180 partikel per orang per tahun. Di Portugal, jumlah ini diperkirakan mencapai 3.078 partikel per orang per tahun, sedangkan di Spanyol mencapai 2.576 partikel per orang per tahun. Di Amerika Serikat, estimasinya adalah 1.156 partikel per orang per tahun. Informasi ini menunjukkan bahwa asupan mikroplastik oleh penduduk Indonesia melalui konsumsi kerang jauh lebih besar daripada di negara lain. Akibatnya, mengonsumsi kerang yang mengandung mikroplastik tingkat tinggi dapat menimbulkan risiko kesehatan.

Kerang hijau yang dijual di pasar ikan tradisional di Jakarta diperoleh dari berbagai sumber, termasuk perairan pesisir Jakarta, Banten, provinsi Jawa Barat dan Jawa Tengah, yang dilaporkan terkontaminasi oleh sampah plastik. Akibatnya, kerang hijau yang dijual di Jakarta kemungkinan besar terkontaminasi mikroplastik. Keberadaan mikroplastik dalam kerang hijau menunjukkan potensi risiko terhadap keamanan pangan dan kesehatan manusia. Penelitian ini bertujuan untuk 1) mengidentifikasi karakteristik (jenis, warna, dan ukuran) serta kelimpahan mikroplastik pada kerang hijau yang dikumpulkan dari lima pasar ikan tradisional di Jakarta, 2) mengkaji hubungan antara ukuran kerang hijau dengan kelimpahan mikroplastik yang ada, 3) mengidentifikasi jenis polimer dan aditif mikroplastik yang ada pada kerang hijau di lima pasar ikan di Jakarta, dan 4) mengevaluasi potensi bahaya terhadap kesehatan manusia.

Dalam studi ini polimer MP diperiksa menggunakan spektroskopi Fourier Transform Infrared, sedangkan komponen kimia MP dalam kerang hijau dianalisis menggunakan Kromatografi Gas-Spektrometri Massa. MP yang diidentifikasi dalam kerang hijau yang dijual di pasar ikan tradisional di Jakarta sebagian besar berjenis serat, berwarna hitam, dan berukuran kurang dari 100 碌m. Kepadatan mikroplastik ini dalam kerang hijau seragam di semua pasar tradisional. Konsentrasi mikroplastik dalam kerang hijau berkorelasi positif dengan panjang cangkang kerang hijau.

Konsumsi tahunan rata-rata produk kerang oleh orang-orang di Jakarta adalah 11.170 item/tahun/orang. Kerang hijau dari Jakarta menunjukkan indeks bahaya polimer (III), yang menunjukkan adanya polimer yang dikategorikan sebagai risiko tinggi. Beberapa plasticizer (ftalat) dan bahan kimia aditif tertentu (fenol, butilat hidroksitoluena, dan heksadekanamida) juga ditemukan dalam kerang hijau yang bersumber dari pasar ikan tradisional di Jakarta. Zat-zat ini bersifat racun dan berdampak negatif pada kehidupan akuatik dan manusia.

Penulis: Prof. Dr. Ir. Agoes Soegianto, DEA.

Sumber: Irnidayanti, Y., Soegianto, A., Ramdhany, F.A., Afifudin, A.F.M., Payus, C.M., Hartl, M.G.J., 2025. Microplastic contamination in green mussels (Perna viridis Linnaeus, 1858) from traditional seafood markets in Jakarta, Indonesia, and an evaluation of potential hazards. Marine Pollution Bulletin, 214, 117818. DOI:10.1016/j.marpolbul.2025.117818

AKSES CEPAT