Terdapat dua jenis bakteri yang sangat umum dikenal oleh masyarakat, yaitu Staphylococcus aureus dan Escherichia coli. yang biasa dikenal dengan E. coli, merupakan bakteri patogen yang sering terlibat dalam berbagai infeksi klinis, terutama penyebab diare yang paling sering. Sementara itu, S. aureus merupakan bakteri gram positif yang dapat menyebabkan infeksi kulit, pneumonia, endokarditis, dan keracunan makanan. Di sisi lain, E. coli yang umumnya hidup di usus manusia dapat menjadi patogen ketika strain tertentu menyebabkan infeksi saluran kemih, gastroenteritis, bahkan meningitis. Infeksi yang disebabkan oleh kedua bakteri ini semakin sulit diobati karena munculnya resistensi antibiotik, yang mendorong pencarian pengobatan alternatif.
Staphylococcus aureus adalah bakteri Gram-positif yang tampak ungu di bawah mikroskop karena lapisan peptidoglikannya yang tebal, yang membantunya mempertahankan pewarnaan kristal violet. Infeksi kulit, pneumonia, dan sepsis termasuk di antara banyak penyakit yang diketahui disebabkan olehnya. Bakteri ini biasanya membentuk kelompok kokus bulat. Bakteri tertentu resisten terhadap banyak obat, termasuk S. aureus yang resisten terhadap methicillin (MRSA). Di sisi lain, bakteri berbentuk batang Gram-negatif E. coli berwarna merah muda karena lapisan peptidoglikannya yang lebih lemah dan membran lipid luar. Beberapa strain E. coli, termasuk O157:H7, dapat menyebabkan infeksi dan penyakit bawaan makanan, meskipun sebagian besar tidak berbahaya. E. coli dapat tumbuh subur di lingkungan aerobik dan anaerobik karena merupakan anaerob fakultatif.
Dalam beberapa tahun terakhir, pengembangan teknologi nanopartikel perak (AgNPs) telah menjadi fokus penelitian, terutama karena potensi fungsinya sebagai agen antibakteri. Nanopartikel perak diketahui memiliki kemampuan untuk menghambat pertumbuhan mikroorganisme melalui berbagai mekanisme, seperti merusak membran sel bakteri, mengganggu fungsi enzim, dan menghasilkan radikal bebas toksik yang berbahaya bagi sel bakteri. Namun, metode sintesis ramah lingkungan berbasis bahan alami semakin dibutuhkan untuk mengurangi dampak toksik dan biaya tinggi metode sintesis kimia. Nanopartikel perak menghambat pertumbuhan bakteri melalui mekanisme tertentu. Mekanisme antibakteri nanopartikel perak diawali dengan pelepasan ion perak (Agþ). Ion-ion ini mengikat gugus tiol (-SH) yang terdapat pada protein permukaan, membentuk gugus S-Ag yang lebih stabil pada sel bakteri. Akibatnya, protein menjadi tidak aktif dan permeabilitas membran menurun. Selanjutnya, senyawa perak memasuki sel, merusak struktur DNA, yang akhirnya menyebabkan kematian sel.
Senyawa antimikroba dapat berupa senyawa kimia sintetis (anorganik) maupun produk alami (organik). Daun salam (Syzygium polyanthum) merupakan salah satu jenis tanaman obat yang memiliki sifat antimikroba yang baik. Senyawa kimia dalam daun salam yang dapat memiliki efek antimikroba antara lain senyawa fenolik, kuinon, avonoid, kumarin, minyak atsiri, terpenoid, lektin, polipeptida, alkaloid, poliamina, isothiosianat, tiosulnat, glukosida, dan poliasetilen. Salah satu kelompok senyawa fenolik yang memiliki sifat antioksidan dan berperan dalam mencegah kerusakan sel dan komponennya oleh radikal bebas reaktif adalah flavonoid.
Peran antioksidan flavonoid dengan cara mendonorkan atom hidrogennya atau melalui kemampuannya untuk mengkelat logam, baik dalam bentuk glikosida (mengandung rantai samping glukosa) maupun dalam bentuk bebas yang dikenal sebagai aglikon. Ekstrak daun salam yang meliputi daun muda, daun setengah matang, dan daun matang memiliki sifat antioksidan yang sangat kuat dapat dimanfaatkan sebagai bioreduktor dalam green sintesis perak nanopartikel.
Metode alternatif lain yang dapat digunakan untuk pengobatan bakteri adalah dengan menggunakan Photodynamic Therapy (PDT). PDT merupakan teknik pengobatan dengan memadukan fotosensitiser, cahaya, dan oksigen yang menyebabkan lisis sel akibat inaktivasi protein dan membran. Efek antimikroba dari nanopartikel perak dapat ditingkatkan dengan menggunakan fotosensitizer nanopartikel perak yang memiliki spektrum serap pada range biru violet. Pada dosis 3 mM AgNO₃, uji aktivitas antibakteri mengungkapkan zona penghambatan yang lebih besar; E. coli menunjukkan 12,7 ± 0,4 mm dan S. aureus menunjukkan 15,4 ± 0,6 mm. Zona penghambatan pada dua mM adalah 9,3 ± 0,3 mm untuk E. coli dan 11,2 ± 0,5 mm untuk S. aureus.
Temuan ini menunjukkan potensi ekstrak daun salam sebagai bahan yang dapat diterima secara lingkungan untuk produksi nanopartikel dan aplikasi antibakteri dengan mengonfirmasi peningkatan kerentanan S. aureus terhadap AgNP. Uji antibakteri menggunakan metode difusi cakram menunjukkan bahwa nanopartikel perak memiliki efek penghambatan yang signifikan terhadap pertumbuhan kedua bakteri. Zona penghambatan yang lebih besar terbentuk pada konsentrasi AgNO₃ 3 mM, dengan S. aureus lebih sensitif terhadap perubahan konsentrasi dibandingkan dengan E. coli. Hasil ini menunjukkan potensi ekstrak daun salam sebagai agen antibakteri alami dan ramah lingkungan.
Penulis: Suryani Dyah Astuti
Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:





