Bahaya pandemi global yang disebabkan oleh virus influenza H5N1 semakin meningkat seiring dengan meningkatnya frekuensi penyakit pada manusia yang disebabkan oleh virus flu burung dan flu babi. Inisiatif kesiapsiagaan pandemi global sebagian besar terkonsentrasi pada virus flu burung H5N1. Dalam tinjauan ini, kami mengumpulkan penelitian tentang prevalensi virus H5N1 dan penilaian risiko, dan kami menambahkannya dengan tinjauan evaluasi molekuler terbaru dari penanda penting adaptasi mamalia yang ditemukan pada hemaglutinin dan polymerase proteins (PB2, PB1 and PA). Terdapat bukti yang semakin kuat bahwa virus H5N1 yang beredar di antara berbagai spesies di Indonesia (Indonesia dan Eurasian lineages) terus beradaptasi, yang mengakibatkan munculnya strain baru dengan afinitas yang tinggi terhadap reseptor 伪2,6 dan peningkatan fungsi polimerase pada sel mamalia. Pandemic risk yang ditimbulkan oleh subtipe virus ini semakin diperparah oleh tingkat prevalensi yang lebih tinggi dari penanda adaptasi mamalia tertentu dan peningkatan penularan virus tertentu pada model hewan mamalia.
Virus influenza A diklasifikasikan ke dalam 18 subkelompok hemaglutinin (HA) dan 11 subkelompok neuraminidase (NA) berdasarkan surface glycoproteins. Virus-virus ini dapat menginfeksi berbagai inang, dan hampir semua subtipe (kecuali virus H17N10 dan virus H18N11) telah ditemukan pada wild aquatic birds, yang dianggap sebagai reservoir utama virus influenza A. Menurut Schrauwen dan Fouchier (2014), sebagian besar penyakit ini pada manusia tidak menghasilkan virus yang dapat menyebar terus menerus dari orang ke orang. Namun, virus influenza hewan kadang-kadang mengembangkan kemampuan untuk menyebar secara terus-menerus di antara manusia dan memicu pandemi; akibatnya, virus influenza zoonosis masih menimbulkan risiko bagi kesehatan masyarakat. Proses adaptasi dan penularan swine dan avian influenza A virus pada mamalia telah dilaporkan lebih lanjut oleh sejumlah penelitian terbaru.
Link artikel:





