Kesehatan migran adalah bidang yang penting tetapi kurang dipelajari di Jepang, padahal jumlah migran dari negara asing dengan latar belakang budaya dan agama yang beragam selalu mneingkat. Untuk mempertahankan sistem perawatan kesehatan Jepang yang berkelanjutan, sangat penting untuk mempertimbangkan kebutuhan perawatan kesehatan tidak hanya orang Jepang tetapi juga penduduk asing yang tinggal di Jepang, misalnya penduduk asing muslim yang selama ini masih menjadi minoritas. Sampai saat ini belum terdapat pedoman yang mengatur cara berkomunikasi dengan pasien muslim asing yang tinggal di Jepang. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor yang mempengaruhi perilaku penduduk muslim dari negara-negara Asia Tenggara khususnya Indonesia dan Malaysia yang tinggal di Jepang dalam mencari perawatan kesehatan dan mengeksplorasi permasalahan perawatan kesehatan.
Penelitian ini merupakan studi kualitatif dengan melakukan interview terhadap kaum muslim dari Indonesia dan Malaysia yang tinggal di Jepang. Penelitian ini menggunakan kriteria inklusi antara lain: penduduk kewarganegaraan Brunei, Indonesia atau Malaysia; berusia 18-80 tahun; mendapatkan izin hukum untuk tinggal di Jepang. Ketiga negara tersebut dipilih karena negara-negara Asia Tenggara dengan mayoritas penduduk muslim. Calon peserta interview dihubungi melalui email dan layanan jaringan sosial (WhatsApp dan Line). Anggota kelompok berkisar antara 50 hingga beberapa ratus orang. Interview dilakukan secara langsung dan online melalui Zoom. Penelitian ini menggunakan Theory of Planned Behaviour (TPB) yang meliputi attitude, subjective norms, dan perceived behavioural control. Data yang telah diperoleh ditranskripsikan dalam Bahasa Indonesia atau Bahasa Melayu dan diterjemahkan kedalam Bahasa Inggris. Kemudian, data dianalisis secara tematik.
Total partisipan dalam penelitian ini adalah 45 penduduk muslim asing yang tinggal di wilayah Kansa, Jepang. Pengumpulan data dilakukan selama 8 bulan dari Bulan Agustus 2020 sampai Bulan Maret 2021. Usia jenis kelamin responden berada di antara 19-57 tahun, dengan proporsi pekerjaan terbesar sebagai mahasiswa dan ibu rumah tangga. Berdasarkan kewarganegaraan, 69% merupakan warga negara Indonesia dan 31% warga negara Malaysia. Gambaran hasil interview adalah sebagai berikut:
Kaum muslim perempuan cenderung memilih pelayanan kesehatan yang menyediakan dokter/perawat perempuan. Selain itu, dalam Islam terdapat aturan mengenai batasan bagian tubuh tertentu yang dapat dilihat oleh lawan jenis (aurat). Sedangkan, jumlah dokter perempuan di Jepang sangat rendah (20%), sehingga mereka kesulitan dalam menemukan dokter perempuan. Namun, Islam memberikan beberapa fleksibilitas dalam keadaan darurat terutama yang menyangkut keselamatan. Mereka berusaha untuk menghindari resep atau bahan obat-obatan yang mengandung alkohol. Mereka juga merasa kesulitan dalam mencari ruang beribadah termasuk tempat khusus wudhu di rumah sakit.
Terdapat beberapa perbedaan dalam sistem kesehatan di Malaysia/Indonesia dan Jepang seperti prosedur dalam membeli obat, biaya perawatan, jumlah tes kesehatan, penggunaan ambulans, dan ruang gawat darurat. Banyak partisipan memilih untuk membeli obat di negara asal dan membawanya ke Jepang. Partisipan juga mengeluhkan terkait jam buka klinik di Jepang.
Pasien muslim sangat tergantung dari informasi dari mulut ke mulut untuk memutuskan rumah sakit/klinik yang akan dikunjungi. Kaum muslim di Jepang saling membantu apabila ada teman/rekan yang perlu bantuan seperti membantu berkomunikasi dengan dokter/perawat dalam Bahasa Jepang.
Pasien muslim asing di Jepang cenderung memilih pelayanan kesehatan dengan dokter/perawat yang fasih dalam Bahasa Inggris. Namun, banyak dokter/perawat di Jepang yang tidak mahir dalam Bahasa Inggris dan formulir pendaftaran yang tidak tersedia dalam Bahasa Inggris. Beberapa rumah sakit di Jepang menyediakan layanan penerjemah, namun tidak selalu tersedia setiap waktu.
Kaum muslim di Jepang memiliki beberapa masalah dalam mendapatkan perawatan kesehatan, khususnya disebabkan permasalahan komunikasi dan permasalahan dalam memenuhi kewajiban agama Islam. Perlu dilakukan upaya pendidikan dan peningkatan kesadaran bagi pasien muslim dan penyedia layanan kesehatan untuk meningkatkan komunikasi yang baik antara pasien muslim dengan penyedia layanan kesehatan di Jepang.
Penulis: Inge Dhamanti
Artikel lengkap dapat diakses di





