Bakteri resisten obat yang telah mengembangkan mekanisme resistensi baru, yang mengarah ke resistensi antimikroba, terus menimbulkan bahaya bagi kemampuan kita untuk mengobati penyakit umum. Selama beberapa dekade terakhir, mikroorganisme resisten antibiotik yang berbahaya menjadi semakin umum. Karena meningkatnya penyakit menular dan resistensi mikroorganisme patogen terhadap obat kimia dari waktu ke waktu, serta efek samping dan biaya pengobatan yang tinggi yang dibebankan oleh obat kimia dan sintetis pada masyarakat manusia, penggunaan tanaman obat yang berasal dari alam menjadi lebih umum dalam beberapa tahun terakhir. Foodborne disease atau penyakit yang ditularkan ke manusia melalui makanan telah menjadi masalah besar dalam beberapa tahun terakhir, dan efek samping negatif dari pengawet sintetis yang ditambahkan ke makanan telah menyebabkan skeptisisme mengenai pengawet ini. Akibatnya, beberapa peneliti terdorong untuk melakukan studi lanjutan untuk mengganti bahan pengawet ini dengan bahan herbal dan alami yang memberikan hasil serupa dengan efek samping yang lebih sedikit.
Minyak atsiri dan ekstrak tumbuhan, yang merupakan bahan kimia yang mudah menguap dan aromatik dengan aktivitas antibakteri yang baik, termasuk di antara komponen-komponen ini. Bawang putih, secara ilmiah dikenal sebagai Allium sativum, adalah anggota dari keluarga Amaryllidaceae. Tanaman ini digunakan untuk menyembuhkan penyakit menular dalam pengobatan tradisional. Tanaman ini digunakan untuk mengobati berbagai penyakit dalam teks dan literatur kuno, termasuk penyakit jantung, koleterol, darah tinggi, radang sendi, demam, batuk, dan sakit kepala. Bawang putih mengandung senyawa belerang, komponen terpenting yang disebut allicin. Senyawa ini mempengaruhi mikroorganisme patogen dan dapat memberikan menjadi obat pada penyakit. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa ada kelompok dalam allicin yang disebut tiosulfinat, yang mengikat protein dan menghancurkan mikroorganisme. El-Azzouny dkk. (2018) menunjukkan minyak atsiri bawang putih memiliki dampak antibakteri yang lebih kuat terhadap bakteri gram positif. Bakteri gram negatif berbentuk batang Escherichia coli termasuk dalam famili Enterobacteriaceae. Sebagian besar strain bakteri ini menyebabkan infeksi seperti infeksi saluran kemih, meningitis dan peritonitis.
Pseudomonas aeruginosa merupakan bakteri patogen dan gram negatif yang menimbulkan penyakit seperti infeksi luka, pneumonia, infeksi lambung dan saluran pernapasan yang dapat menyebabkan kematian jika tidak ditangani. Staphylococcus aureus adalah bakteri gram positif dan patogen. Karena bakteri ini telah menjadi resisten terhadap antibiotik dari waktu ke waktu, penting untuk menemukan cara baru untuk melawannya. Bakteri Listeria monocytogenes adalah gram positif. Ia dapat mentolerir hingga 10% garam dan kekeringan, dan sumber air dan makanan adalah tempat terbaik bagi bakteri ini untuk tumbuh dan berkembang biak. Bakteri ini dapat menyebabkan penyakit berbahaya seperti septikemia, ensefalitis, dan keguguran. Di dunia, hanya sedikit penelitian tentang identifikasi senyawa kimia dan efek antimikroba dari minyak atsiri bawang putih yang telah dilakukan. Sebagian besar penelitian berfokus pada efek antimikroba dari ekstrak bawang putih, tetapi masih sedikit penelitian tentang efek antimikroba dari minyak atsiri bawang putih.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui komponen kimia apa saja yang terdapat dalam minyak atsiri bawang putih dengan memanfaatkan alat kromatografi gas yang dihubungkan dengan spektrometer massa (GC-MS), serta penentuan aktivitas antioksidan, total fenol, flavonoid, dan penilaian kadarnya. Aktivitas antibakteri minyak atsiri dengan metode difusi agar yang disebut metode difusi cakram, pengenceran cair (konsentrasi hambat minimum) dan konsentrasi bakterisida minimum pada sejumlah mikroorganisme patogen (Staphylococcus aureus, Listeria innocua, dan Pseudomonas aeruginosa) secara in vitro.
Bawang putih merupakan tanaman asli Asia Tengah dan termasuk dalam famili Alliaceae. Ketika umbi bawang putih dihancurkan, mereka melepaskan molekul sulfoksida yang disebut alliin, yang merupakan pendahulu aroma dan rasa khas bawang putih. Bawang putih segar dan minyak atsirinya digunakan di bidang pangan sebagai agen antioksidan alami, penyedap rasa, dan antimikroba, terutama pada produk olahan ayam dan daging. Dalam penelitian ini, pada beberapa strain patogen, aktivitas antibakteri minyak atsiri bawang putih diselidiki secara in vitro menggunakan konsentrasi bakterisida minimum, konsentrasi penghambatan minimum, dan teknik difusi cakram. Kromatografi gas digunakan untuk mengidentifikasi komponen kimia minyak atsiri bawang putih. Metode kolorimetri aluminium klorida, Folin Ciocalteu, dan kapasitas reduksi radikal digunakan untuk mengukur kandungan flavonoid, fenol total, dan antioksidan. Terbukti bahwa yang paling resisten terhadap minyak atsiri bawang putih adalah bakteri gram negatif, termasuk Escherichia coli dan Pseudomonas aeruginosa. Campuran dialil disulfida lebih besar 40,3%, sesuai dengan hasil identifikasi senyawa kimia minyak atsiri bawang putih. Aktivitas antioksidan, flavonoid, dan total fenol minyak atsiri bawang putih berturut-turut adalah 80%, kuersetin 0,24 mg dalam gram, dan asam galat 0,33 mg dalam gram. Temuan penyelidikan ini mengungkapkan bahwa bawang putih dapat dimanfaatkan sebagai sumber bahan kimia obat.
Untuk mengetahui artikel secara lebih detail, maka dapat mengunjungi link dibawah:
Judul : Investigating the effect of garlic (Allium sativum) essential oil on foodborne pathogenic microorganisms
Penulis : Trias Mahmudiono





